Kota Bandung, POJOKSATU.id - Fenomena penurunan gaya hidup "downgrade lifestyle" dilakukan masyarakat saat ini dikatakan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan sebenarnya merupakan upaya seseorang yang sebelumnya berada pada kategori affordable luxury (kemewahan) kemudian beralih ke frugal life (sederhana) atau gaya hidup hemat.
Fenomena itu terjadi karena tingginya biaya kebutuhan sehari-hari. Dan kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara maju, terutama di Eropa.
Farhan menegaskan hal seperti itu tidak boleh sampai terjadi di Kota Bandung.
"Karena itu, Kota Bandung mendukung program pembangunan tiga juta rumah dari pemerintah. Kedua, kita harus memastikan rantai pasokan bahan pangan tersedia dengan baik dan cepat. Ketiga, memastikan peluang kerja dan peluang usaha tetap terbuka lebar di Kota Bandung untuk menjaga daya beli masyarakat," ujar Farhan di hotel Grandia, Kamis (5/11/2026).
Lanjut Farhan jika dilihat dari inflasi Januari hingga Oktober, ada beberapa komoditas yang memicu inflasi di Kota Bandung, harga beras, harga bensin, harga gas dapur, emas perhiasan karena permintaan masyarakat Bandung cukup tinggi, dan kebutuhan rokok putih bermerek luar negeri.
"Artinya, yang paling penting adalah memastikan kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi terlebih dahulu. Setelah itu, masyarakat Bandung diharapkan tetap memiliki kemampuan untuk menabung, membeli emas, dan menikmati gaya hidupnya.” imbuhnya.
Namun tantangan ekonomi Kota Bandung saat ini, kata Farhan menambahkan adalah pertumbuhan ekonomi yang belum merata atau kualitas pertumbuhannya masih kurang.
"Ketimpangan sosial di Kota Bandung juga cukup tinggi. Ini yang harus kita hadapi bersama dengan memastikan harga beras SPHP tetap terjangkau. Sebanyak 30 persen peredaran beras SPHP di Kota Bandung dikendalikan oleh Bulog, dengan harga yang tidak boleh lebih dari Rp12.500 per kilogram.” tandasnya.






