POJOKSATU.id - Kemampuan numerasi sering kali disalahartikan hanya sebagai kemampuan berhitung.
Padahal, lebih dari itu, numerasi merupakan keterampilan berpikir logis dalam memahami angka, pola, serta hubungan sebab akibat dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi anak usia dini, kemampuan ini menjadi fondasi penting dalam proses belajar selanjutnya dan menariknya, numerasi tidak selalu harus diajarkan lewat lembar kerja atau hafalan angka.
Salah satu cara paling efektif sekaligus menyenangkan adalah melalui permainan anak.
Numerasi Lebih dari Sekadar Hitung-hitungan
Baca Juga: Jembatan Kemang Pratama Bekasi Kembali Dibangun November 2025
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjelaskan bahwa numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah dalam berbagai konteks kehidupan.
Dengan kata lain, anak yang memiliki kemampuan numerasi bukan hanya mampu menghitung, tetapi juga memahami logika di balik suatu permasalahan.
Melatih kemampuan ini sejak dini membantu anak mengembangkan pola pikir analitis, memperkuat kemampuan pemecahan masalah, serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan.
Karena itu, pendidikan numerasi kini menjadi fokus penting dalam pembelajaran anak usia dini dan sekolah dasar di Indonesia.
Belajar Numerasi Melalui Permainan Anak
Baca Juga: Siapa Sangka? 5 Barang Harian yang Bisa Dikenai Cukai oleh Pemerintah
Menurut panduan Direktorat PAUD Kemendikbudristek, pendekatan bermain merupakan strategi utama untuk menumbuhkan literasi dan numerasi sejak usia dini.
Melalui permainan, anak belajar tanpa merasa tertekan, karena mereka mengeksplorasi konsep angka, bentuk, dan logika secara alami.
Beberapa jenis permainan sederhana yang bisa mengasah numerasi, antara lain:
1. Permainan Klasifikasi dan Pola
Misalnya menyusun balok warna berdasarkan urutan tertentu, mengelompokkan mainan berdasarkan bentuk atau ukuran, hingga mencocokkan pasangan benda.
Aktivitas ini menumbuhkan kemampuan anak dalam mengenali pola dan hubungan sebab akibat.
Baca Juga: Cinta Tak Kenal Usia, Kakek 110 Tahun Asal Bulukumba Resmi Nikahi Gadis 27 Tahun
2. Permainan Berhitung Kontekstual
Anak dapat diajak menghitung benda nyata seperti jumlah buah di meja, banyak langkah saat berjalan, atau jumlah kancing pada baju.
Cara ini membantu anak memahami makna angka dalam kehidupan sehari-hari.
3. Board Game dan Permainan Tradisional
Permainan seperti ular tangga, congklak, atau dakon membantu anak mengenali konsep jumlah, strategi, serta sebab dan akibat dari keputusan yang diambil dalam permainan.
Selain mengasah logika, permainan tradisional juga memperkuat interaksi sosial anak.
Baca Juga: Mutasi PPPK Kini Wajib Melalui Rekomendasi Menpan RB, Ini Aturan Barunya!
4. Permainan Simulasi atau Role Play
Bermain peran sebagai penjual dan pembeli, misalnya, mengajarkan anak tentang transaksi sederhana, nilai uang, dan konsep pertukaran.
Dengan begitu, anak belajar matematika secara aplikatif tanpa harus membuka buku pelajaran.
Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Mendukung Numerasi Anak
Kemendikbudristek menekankan bahwa dukungan lingkungan belajar sangat berpengaruh dalam perkembangan numerasi anak.
Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam menyiapkan ruang eksplorasi yang aman dan merangsang rasa ingin tahu.
Baca Juga: Sudah Siap Ujian UKPPPG Tahap 3? Simak Panduan Lulus dan Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari!
Pendidik dapat mengintegrasikan aktivitas numerasi dalam kegiatan sehari-hari di kelas, seperti menghitung jumlah teman, membagi kelompok belajar, atau mengukur bahan saat membuat prakarya.
Sementara itu, orang tua dapat melanjutkan stimulasi di rumah melalui kegiatan sederhana seperti memasak bersama, bermain lego, atau membaca buku bergambar yang melibatkan angka.
Kuncinya adalah menghadirkan kegiatan numerasi dalam konteks yang bermakna, agar anak memahami bahwa matematika bukan sesuatu yang sulit, melainkan bagian dari kehidupan yang menyenangkan.
Mengasah logika anak lewat numerasi bukan soal mempercepat kemampuan berhitung, tetapi membangun fondasi berpikir kritis dan logis sejak dini.
Dengan pendekatan bermain, anak belajar secara alami, aktif, dan gembira.
Pendidikan numerasi yang baik menumbuhkan anak yang mampu berpikir rasional, memecahkan masalah dengan percaya diri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Belajar lewat permainan sederhana ternyata bisa menjadi langkah kecil menuju generasi yang cerdas secara logika dan tangguh secara mental.***




