ACEH, POJOKSATU.id- Banjir kembali mengganggu aktivitas masyarakat di Kabupaten Aceh Tenggara setelah tanggul penahan sungai di kawasan Desa Bambel Gabungan, Kecamatan Bambel, kembali jebol pada Senin (12/10/2026).

Kondisi ini membuat ruas Jalan Nasional Kutacane-Medan kembali terdampak genangan air.

Padahal, banjir sebelumnya merendam jalan tersebut sempat surut pada Minggu (11/10/2026) sore setelah tanggul yang rusak selesai diperbaiki.

Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Aceh Tenggara sejak Minggu malam diduga menjadi pemicu kembali jebolnya tanggul penahan Sungai Kali Bulan.

Akibatnya, persoalan banjir yang sempat tertangani kembali menghambat mobilitas warga dan pengguna jalan.

Pada Senin pagi, kendaraan roda dua maupun roda empat terpaksa dialihkan ke jalur alternatif.

Pengendara yang hendak menuju pusat Kota Kutacane ataupun melanjutkan perjalanan harus menempuh rute memutar dengan kondisi jalan yang lebih sempit.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengguna jalan, terutama karena jalur alternatif yang tersedia dinilai rawan kecelakaan apabila dilalui tanpa kehati-hatian.

Maka dari itu, pengendara harus menggunakan jalur alternatif, dimulai dari Desa Kute Seri menuju Desa Lawe Polak, Kisam, kemudian berlanjut ke Desa Kuta Rih sebelum kembali bertemu dengan Jalan Nasional menuju pusat Kota Kutacane.

Rute tersebut membuat perjalanan menjadi lebih jauh dibandingkan ketika Jalan Nasional Kutacane-Medan dapat dilalui secara normal.

Rapiman (30), salah seorang pengendara, mengaku waswas ketika harus melewati jalur alternatif tersebut.

Selain harus menempuh perjalanan memutar, kondisi jalan yang sempit juga menuntut pengendara lebih berhati-hati.

"Jalannya memutar dan sangat jauh, meski begitu saya terpaksa melaluinya," ujarnya.

Bagi pengguna jalan, pengalihan lalu lintas memang menjadi langkah yang harus ditempuh ketika jalur utama tidak dapat dilewati dengan aman.

Namun, kondisi ini sekaligus menunjukkan besarnya dampak yang ditimbulkan ketika banjir kembali memutus akses transportasi di jalur nasional tersebut.

Rapiman berharap penanganan tanggul yang jebol tidak hanya mengandalkan upaya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Ia meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) turut terlibat dalam penanganan agar kerusakan tanggul dapat ditangani secara lebih menyeluruh.

Menurutnya, kerja sama antarlembaga diperlukan agar penanganan tidak berhenti pada upaya penanggulangan banjir ketika kejadian berlangsung, tetapi juga memperhatikan persoalan tanggul yang kembali mengalami kerusakan.

Sementara itu, banjir yang kembali terjadi pada Senin tersebut merupakan kelanjutan dari peristiwa banjir sehari sebelumnya.

Pada Minggu (11/10/2026), genangan air merendam permukiman warga dan ruas Jalan Nasional Kutacane-Medan.

Ketinggian air di sejumlah titik dilaporkan mencapai 50 sentimeter. Genangan bahkan diperkirakan membentang sepanjang 1,5 kilometer di ruas jalan nasional yang menghubungkan Aceh Tenggara dengan Medan, Sumatera Utara.

Besarnya genangan membuat kendaraan tidak dapat melintas seperti biasa.

Pengalihan arus lalu lintas dilakukan untuk mengurangi risiko bagi pengendara sekaligus mencegah gelombang air dari kendaraan mengganggu atau merusak barang milik warga di sekitar lokasi banjir.

Jefry menyampaikan bahwa banjir yang merendam jalan nasional dan permukiman tersebut terjadi akibat jebolnya tanggul sungai.

Dalam keterangan sebelumnya, tanggul yang disebut menjadi penyebab banjir adalah tanggul Sungai Lawe Bulan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan tanggul di kawasan aliran sungai menjadi persoalan penting dalam penanganan banjir di wilayah tersebut, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi masih mengguyur kawasan Aceh Tenggara.