POJOKSATU.id – Di tengah derasnya kritik terhadap rekaman lama dirinya bersama Harrison Ford dan tuduhan publik soal kerusakan hutan.
Zulkifli Hasan melontarkan pernyataan yang langsung menyita perhatian dalam podcast Curhatbangdensu bersama Denny Sumargo.
Dengan suara tegas dan nada emosional, ia menyatakan siap mempertanggungjawabkan seluruh tindakannya, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
“Apa saja perbuatan saya akan saya pertanggungjawabkan dunia dan akhirat,” ujar Zulhas.
Pernyataan ini muncul ketika ia menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan dirinya tersangkut proses hukum di masa depan atau bila klarifikasinya terbukti berbeda dengan fakta.
Densu menyinggung skenario terburuk, mulai dari temuan audit hingga potensi terseret Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Alih-alih mengelak, Zulhas menegaskan ia tidak takut pada tudingan apa pun. “Saya punya anak, punya cucu, saya sudah tua. Yang tahu diri kita, ya diri kita sendiri,” ujarnya.
Secara konteks, kalimat “dunia akhirat” itu tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari tekanan berlapis yang dibahas dalam wawancara.
Mulai dari dugaan kerusakan hutan, banjir di Sumatera, hingga perambahan Taman Nasional Tesso Nilo yang dikaitkan dengan masa jabatannya sebagai Menteri Kehutanan.
Tak sedikit narasi publik yang menyebut dirinya sebagai “biang kerok” kerusakan lingkungan, sesuatu yang direspons Zulhas dengan nada setengah satire.
Baca Juga: Usai Rumah Digeledah, Ridwan Kamil Resmi Diperiksa KPK Terkait Korupsi Bank BJB
“Saya tersanjung. Begitu berkuasakah saya? Indonesia rusak karena Zulkifli Hasan,” katanya.
Menurut Zulhas, permasalahan hutan yang terjadi pada masa itu tidak sesederhana tudingan yang dilemparkan ke dirinya.
Ia menjelaskan bahwa negara sedang berada dalam fase transisi demokrasi, di mana pejabat justru berada dalam posisi sulit ketika berhadapan dengan massa.
Dalam kasus Tesso Nilo misalnya, Zulhas menyebut ada sekitar 50.000 perambah yang menguasai kawasan itu.
Sehingga upaya penegakan hukum hampir mustahil dilakukan tanpa benturan besar. “Masuk saja enggak bisa,” ungkapnya.
Ia juga mengakui ada penyesalan pribadi yang melekat.
Zulhas menyebut dirinya mungkin “kurang berani” ketika menjabat.
Ia menggambarkan bagaimana penegakan hukum kerap terhambat karena lemahnya dukungan aparat di lapangan.
Ia bahkan menyinggung sebuah pengalaman di Bangka Belitung, di mana tim penegakan hukum yang ia pimpin hanya bertahan tujuh hari akibat tekanan masyarakat.
Kisah itu semakin mempertegas konteks emosional dari pernyataan “dunia akhirat” yang ia ucapkan.
Pernyataan tersebut juga muncul setelah Zulhas merasa mendapat framing negatif dalam rekaman bersama Harrison Ford yang kembali viral.
Ia menyebut wawancara itu telah disetting sejak awal, lengkap dengan empat kamera yang sudah dipasang di ruang kerja menteri tanpa mediasi terbuka.
Ia mengaku penjelasannya sering dipotong dan konteksnya menghilang dalam video yang beredar. Faktor ini memperbesar tekanan publik yang ia hadapi hingga hari ini.
Dengan menyatakan kesiapannya bertanggung jawab dunia akhirat, Zulhas seolah ingin menutup ruang keraguan bahwa ia akan kabur dari kritik atau pengawasan publik.
Dalam wawancara tersebut, ia juga menegaskan kembali prinsip hidup yang ia pegang sejak kecil.
Termasuk pesan ayahnya tentang cinta kepada rakyat dan tanggung jawab moral terhadap sesama.
Bagi Zulhas, bekerja di jabatan publik adalah pengabdian, bukan tempat bersembunyi dari konsekuensi.
Pernyataan ini tentu memancing respons publik. Ada yang menilai itu bentuk keberanian moral, ada pula yang membaca sebagai sikap defensif di tengah banyaknya polemik.
Namun terlepas dari pro dan kontra tersebut, satu hal jelas ucapan ini adalah pernyataan paling kuat dan paling kontroversial dari seluruh wawancara panjang tersebut.
Dan di tengah derasnya kritik publik, kalimat “Saya siap bertanggung jawab dunia akhirat” menjadi penegasan sikap yang mungkin menjadi kartu as para pejabat.***




