POJOKSATU.id – Nama Zulkifli Hasan kembali menjadi pusat sorotan setelah potongan video lama dirinya bersama aktor Hollywood, Harrison Ford, beredar kembali di media sosial.
Dalam wawancara terbaru dengan Denny Sumargo dalam Podcast Curhat Bang yang viral, Zulhas memberikan penjelasan paling terbuka sejauh ini.
Ia mengklaim bahwa proses pengambilan gambar ketika itu sudah “disetting”, bahkan dirinya diposisikan sebagai “penjahat” dalam dokumenter tersebut.
Pernyataan Zulhas ini muncul bukan sekadar membantah atau membela diri, tetapi memaparkan detail teknis yang selama ini tidak diketahui publik.
Dalam pengakuannya di menit 2:03–2:33, ia menyebut bahwa ruangan kerja Menteri Kehutanan saat itu telah terpasang empat kamera dari berbagai sudut.
“Saya baru terasa, oh ini shooting film. Ini heronya, tentu ada penjahatnya… saya penjahatnya,” ujarnya.
Baca Juga: Transparansi Anggaran Dana BOS Masih Gelap, Kabarnya Beberapa Sekolah Diperiksa APH Tapi Masih Gelap
Menurut Zulhas, posisi kamera yang telah ditentukan tanpa sepengetahuannya adalah tanda awal bahwa wawancara tersebut bukan dialog spontan.
Melainkan bagian dari rangkaian produksi dokumenter yang telah diatur alurnya.
Ia mengaku datang ke kantor seusai sidang kabinet, dan terkejut karena prosesnya tidak sesuai ekspektasi.
Baca Juga: Sumut Masih Berduka, Viral Warga Malah Party Gila-Gilaan di Sumbar, Netizen Sebut Kok Tega?
Lebih jauh, Zulhas juga mengungkap bahwa ia sudah meminta agar diskusi dilakukan secara terbuka di hadapan wartawan. Dalam keterangannya pada menit 1:44–2:03.
ia menyebut ada “puluhan wartawan” yang menunggu di aula kementerian. Ia ingin debat berlangsung secara transparan agar tak ada salah paham.
Namun, menurutnya, pihak Harrison Ford justru tidak bersedia. “Media dilewatkan,” kata Zulhas menegaskan.
Poin inilah yang kemudian ia sebut sebagai tanda bahwa narasi dokumenter sudah ditetapkan dari awal. Dalam menit 0:03–0:28.
Zulhas menyebut video yang kini sering beredar adalah hasil potongan dan editing pihak produksi, bukan rekaman utuh yang menunjukkan keseluruhan konteks diskusi.
Konteks yang hilang ini menjadi masalah besar, kata Zulhas, karena publik kemudian menilai dirinya seolah tidak mampu menjawab pertanyaan Harrison Ford terkait kerusakan hutan dan perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo.
Padahal, menurutnya, ia sudah menjelaskan kondisi sebenarnya pemerintah saat itu tidak memiliki kapasitas menindak perambah skala besar.
Baca Juga: Usai Rumah Digeledah, Ridwan Kamil Resmi Diperiksa KPK Terkait Korupsi Bank BJB
Zulhas bahkan menyebut ada 50.000 orang yang menguasai kawasan tersebut, membuat upaya penegakan hukum mustahil dilakukan tanpa risiko konflik fisik.
Ia menambahkan bahwa era reformasi ketika itu membuat pejabat justru berada dalam posisi serba sulit. “Pejabat-pejabat ini takut sama rakyat,” katanya.
Pada masa itu, kata dia, banyak keputusan berhadapan langsung dengan dinamika lokal yang sangat kuat dan tidak mudah diterobos.
Namun, bagi publik yang sebelumnya hanya melihat potongan video 2–3 menit, penjelasan itu hilang dari narasi yang disebarkan luas.
Zulhas menilai inilah yang membuat dirinya terlihat meremehkan pertanyaan Harrison Ford, padahal seluruh konteks diskusi jauh lebih kompleks.
Bukan hanya soal posisi kamera dan media yang dilewatkan, Zulhas juga menyinggung bagaimana dokumenter tersebut mempengaruhi citra dirinya selama bertahun-tahun.
Menurutnya, kesan “meremehkan” dan “tidak nyambung” dalam video adalah hasil editing, bukan keadaan sebenarnya.
Ia menegaskan bahwa semua rekaman dimiliki oleh tim dokumenter, bukan pihak Kementerian.
“Saya tidak punya kamera, mereka semua yang punya,” ucapnya.
Baca Juga: Sumut Masih Berduka, Viral Warga Malah Party Gila-Gilaan di Sumbar, Netizen Sebut Kok Tega?
Pernyataan ini tentu menimbulkan pertanyaan lanjutan apakah proses dokumenter internasional sekelas itu dilakukan tanpa memberikan kesempatan klarifikasi seimbang?
Apakah ada raw footage yang bisa dibuka ke publik? Dan apakah benar pihak produksi menolak debat terbuka?
Di akhir penjelasannya, Zulhas menegaskan dirinya tidak sedang mencari pembenaran. Ia hanya ingin hak jawab dan konteks utuh.
Baca Juga: Sumut Masih Berduka, Viral Warga Malah Party Gila-Gilaan di Sumbar, Netizen Sebut Kok Tega?
“Kalau saya bisa menjelaskan ini saja, saya sudah cukup,” ujarnya.
Keterangan terbaru ini membuat perbincangan publik kembali panas.
Apalagi, isu seputar penegakan hukum kehutanan, sawit ilegal, dan kerusakan lingkungan masih menjadi persoalan serius hingga kini.***




