POJOKSATU.id — Pemandangan memilukan terlihat di Desa Blang Gleum, Kecamatan Julok, Aceh Timur.

Pascabanjir bandang yang melanda wilayah ini, warga kini menghadapi kenyataan pahit rumah-rumah mereka tertimbun lumpur setinggi pinggang dan mengeras seperti beton.

Kondisi ini membuat warga tidak punya pilihan selain menyewa alat berat berupa beko untuk membersihkan rumah mereka sendiri.

Baca Juga: Beasiswa Seoul Tech Scholarship 2026 Dibuka hingga Maret, Kuliah S2 Science dan Engineering di 9 Kampus Top Korea

Lumpur tebal yang menumpuk tak mungkin dikeruk hanya dengan cangkul.

Beberapa warga bahkan mencoba membersihkan secara manual, tetapi hasilnya jauh dari cukup.

Sebagian besar rumah masih dikelilingi tumpukan lumpur yang semakin mengeras dari hari ke hari, membuat aktivitas warga lumpuh total.

Baca Juga: Maduro Sempat Mau Melarikan Diri, Trump Juga Pertimbangkan Mau Bunuh Presiden Venezuela

Karena tidak ada alat berat yang tersedia dari pemerintah di hari-hari awal pembersihan, warga terpaksa mengambil keputusan berat.

Merka harus menyewa beko secara mandiri. Tarifnya pun tak murah.

Satu jam kerja alat berat dibanderol sekitar Rp600 ribu. Untuk pengerjaan standar selama dua jam, satu rumah bisa menghabiskan biaya hingga Rp1,2 juta.

Baca Juga: Maduro Sempat Mau Melarikan Diri, Trump Juga Pertimbangkan Mau Bunuh Presiden Venezuela

Jumlah itu jelas bukan angka kecil bagi warga yang baru saja tertimpa bencana dan kehilangan banyak harta benda.

Namun, kondisi rumah yang sudah tidak bisa dihuni memaksa mereka menempuh jalan itu.

Warga akhirnya memilih patungan agar alat berat bisa masuk ke area permukiman.

Beberapa keluarga bahkan menghubungi kerabat di luar daerah untuk meminta bantuan uang, karena tabungan mereka telah habis dipakai selama masa tanggap darurat.

Solidaritas warga pun terbangun secara spontan, mulai dari penggalangan dana kecil-kecilan hingga kerja bakti membantu proses pembersihan.

Baca Juga: Beasiswa Seoul Tech Scholarship 2026 Dibuka hingga Maret, Kuliah S2 Science dan Engineering di 9 Kampus Top Korea

Salah satu warga mengaku tak kuat lagi melihat rumahnya dikelilingi lumpur, sementara anak-anak harus tinggal di tempat pengungsian.

Di beberapa titik, jalan kampung juga tertutup lumpur, sehingga akses alat berat harus diatur bergiliran.

Warga harus menunggu jadwal hingga alat berat bisa masuk ke halaman rumah mereka.

Baca Juga: Kemendikdasmen Targetkan Revitalisasi 71 Ribu Sekolah pada 2026, Anggaran Disiapkan Rp14 Triliun Lebih

Proses ini membuat pembersihan berlangsung berhari-hari dan memaksa sebagian keluarga tetap bertahan di tenda darurat.

Meski pemerintah daerah telah mengerahkan alat berat di titik utama, namun jumlah unit yang terbatas membuat tidak semua lokasi bisa dijangkau dengan cepat.

Warga berharap ada bantuan tambahan agar pembersihan permukiman dapat lebih cepat diselesaikan dan mereka dapat kembali ke rumah masing-masing.

Baca Juga: Mendikdasmen Dijadwalkan Hadir di Aceh Tamiang, Jadi Pembina Upacara di Sekolah Terdampak Bencana

Situasi ini bukan hanya soal membersihkan lumpur, tetapi juga soal bangkit dari trauma.

Pascabanjir, sebagian warga kehilangan mata pencaharian, sawah rusak, dan akses air bersih masih terbatas.

Pembersihan rumah menjadi langkah pertama mereka untuk memulai hidup kembali, meski harus mengeluarkan biaya besar yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.***