POJOKSATU.id, SEMARANG- Gak ada takut-takutnya, viral di media sosial sekelompok remaja di Dusun Jlumpang, Desa Jlumpang, Kecamatan Bancak melecehkan spanduk bergambar Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani.
Dalam video yang beredar, terlihat remaja itu sedang tertawa sambil meludah beberapa kali ke spanduk Megawati, Ir.Soekarno, dan Puan Maharani.
Kemudian video remaja yang meludah ke spanduk bergambar Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani menjadi viral di TikTok dan diunggah kembali oleh akun Twitter @tanyakanrl pada hari Selasa, 9 Mei 2023.
Selain itu, mereka juga memukul dan berbicara dengan nada melecehkan spanduk bergambar Sjaichul Hadi yang merupakan Kepala Desa Boto.
Saat dikonfirmasi Kamis (11/5), Kepala Desa Boto, Sjaichul Hadi mengatakan perbuatan tersebut dilakukan bulan April kemarin.
Spanduk yang menjadi sasaran dari sekelompok remaja tersebut berisi ucapkan Selamat Idul Fitri.
“Ada lima anak-anak yang melakukan hal tersebut. Videonya berdurasi sekitar 30 detik, ” ujarnya.
Setelah video tersebut viral, lima remaja tersebut melakukan klarifikasi dengan didampingi orang tuanya Sabtu (6/5).
“Mereka telah membuat pernyataan minta maaf ibu Megawati, ibu Puan, termasuk juga kepada jajaran DPC PDI Perjuangan Kabupaten Semarang, ” katanya.
Seketika video tersebut diunggah di platform TikTok tersebut tersebar luas dengan berbagai komentar.
“Mereka telah membuat pernyataan minta maaf ibu Megawati, ibu Puan, termasuk juga kepada jajaran DPC PDI Perjuangan Kabupaten Semarang, ” katanya.
“Tetapi mereka belum paham atas apa yang mereka lakukan termasuk resiko yang diterima, ” lanjutnya.
Bondan menambahkan agar para orang tua untuk selalu memberikan pendampingan terhadap para anak. Agar anak-anak memiliki perilaku yang sopan.
“Ini merupakan PR kita semua untuk memberikan pendidikan politik walaupun ke anak-anak.
Harus sudah mulai ada pendidikan politik yang sesuai dengan tingkatan usianya, ” pungkasnya.
Bukan cuma ramai di twitter, video tersebut juga diunggah di platform TikTok dan tersebar luas dengan berbagai komentar.
Banyak dari mereka menganggap bahwa anak-anak itu terlalu berani melakukan tindakan tersebut.
"Komen pake anon aja kadang was-was, bisanya mereka malah aplot tiktok gada ngeri-ngerinya tuh bocil," kata salah satu warganet.
Editor : Adhey



