POJOKSATU.id - Ada kisah yang membuat kita berhenti sejenak.
Menarik napas, lalu bertanya pada diri sendiri masih adakah manusia yang mengabdi dengan sepenuh hati tanpa pamrih?
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar materi dan pengakuan, ternyata masih ada sosok yang memegang teguh nilai keikhlasan seperti sebuah cahaya kecil yang tak pernah padam.
Sosok itu adalah Ibu Janah, seorang guru dari Kalimantan Tengah yang kini telah berusia 88 tahun.
Namun semangatnya? Masih seperti anak muda yang baru pertama kali masuk kelas.
Beliau pernah menjadi pengajar Bahasa Inggris dan Fisika di MA Miftahul Ulum, sebuah sekolah yang menjadi saksi perjalanan pengabdiannya bertahun-tahun.
Sejak awal mengajar, Ibu Janah tidak pernah memandang profesinya sebagai pekerjaan semata.
Baginya, mengajar adalah ibadah. Ilmu adalah amanah. Murid adalah titipan. Dan kelas adalah tempat terbaik untuk menanam kebaikan.
Meski secara resmi pensiun pada tahun 2001, ada satu hal yang tidak pernah bisa beliau tinggalkan: hasrat untuk berbagi ilmu.
Baca Juga: Kolaborasi Lintas Sektor, KAI Daop 3 Cirebon Perkuat Edukasi Keselamatan Kereta Api
Ketika banyak orang seumur beliau memilih beristirahat, Ibu Janah justru melakukan hal sebaliknya.
Beliau menolak berhenti. Tidak peduli usia yang semakin rentan atau tubuh yang tidak lagi sekuat dahulu, hatinya tetap teguh selama masih bisa berdiri dan berbicara, ia ingin terus mengajar.
Ada satu kalimat yang begitu sederhana, tetapi sarat makna. Ketika ditanya mengapa masih mengajar meski tidak lagi menerima gaji, beliau menjawab dengan senyum tenang.
“Biarpun enggak digaji, yang penting tetap ngajar.” dikutip instagram @sahabatsurga
Di balik kalimat itu, tersimpan dedikasi yang tak ternilai. Kita diajarkan bahwa keikhlasan tidak membutuhkan panggung.
Bahwa memberi tidak harus menunggu mapan. Bahwa ada manusia yang terus memilih bermanfaat meski tidak ada sorotan kamera atau penghargaan bergengsi.
Kisah Ibu Janah bukan hanya inspirasi bagi para guru, tetapi untuk siapa saja yang pernah merasa lelah, hampir menyerah, atau mempertanyakan tujuan hidupnya kembali.
Baca Juga: Kolaborasi Lintas Sektor, KAI Daop 3 Cirebon Perkuat Edukasi Keselamatan Kereta Api
Beliau menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan cinta akan selalu menemukan jalannya sendiri. Akan selalu memberi dampak, meski mungkin tidak terlihat hari ini.
Ada murid yang menjadi lebih percaya diri karena beliau. Ada anak yang akhirnya berani bermimpi besar.
Ada generasi yang tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan berkat suara lembut beliau di ruang kelas.
Di usia senjanya, Ibu Janah tidak meminta apa-apa. Tidak menuntut penghargaan. Tidak ingin dikenal. Ia hanya ingin terus menebar manfaat.
Inilah wajah sejati dari guru seseorang yang mengabdi bukan demi tepuk tangan, melainkan demi masa depan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa keberkahan hidup bukan diukur dari berapa banyak yang kita punya, tetapi dari seberapa ikhlas kita memberi.
Semoga kisah Ibu Janah menjadi cermin bagi kita semua bahwa kebaikan selalu memiliki tempatnya sendiri, dan pengabdian yang tulus tidak akan pernah hilang ditelan waktu.***




