POJOKSATU.id - Fenomena aneh terjadi di Perairan Sayung, Kabupaten Demak, pada akhir November 2025. Ribuan hingga puluhan ribu ikan ditemukan mati bersamaan dan terdampar di sepanjang garis pantai.
Kejadian ini membuat warga pesisir heboh dan menimbulkan beragam tanya, lantaran kematian ikan muncul mendadak tanpa tanda-tanda sebelumnya.
Video warga yang memperlihatkan hamparan bangkai ikan mengambang di laut dan terseret ke tepi pantai langsung viral di media sosial.
Baca Juga: Tragis! Truk Rem Blong Picu Tabrakan Maut di Cikampek, Dua Nyawa Melayang di Lampu Merah
Situasi itu memicu pemeriksaan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Demak.
Petugas diturunkan untuk mengambil sampel air, lumpur, dan bangkai ikan guna dianalisis di laboratorium.
Hingga kini, penyebab pasti kematian massal ikan tersebut belum bisa dipastikan secara ilmiah.
Baca Juga: Tragis! Truk Rem Blong Picu Tabrakan Maut di Cikampek, Dua Nyawa Melayang di Lampu Merah
Namun, DLH menyampaikan satu dugaan awal yang memicu perhatian publik.
Menurut pejabat DLH Demak, ada kemungkinan fenomena itu berkaitan dengan perubahan sirkulasi air setelah pembangunan Tol Semarang–Demak tersambung beberapa waktu lalu.
DLH menjelaskan bahwa koneksi struktur tol tersebut diduga memicu terbentuknya cekungan aliran air di kawasan pesisir Sayung.
Baca Juga: Sudah Lulus Substantif? Begini Langkah Resmi Menuju Wawancara PPG 2025
"Kalau menurut teori, ini teori loh itu karena sudah tolnya sudah nyambung cekungannya sehingga salinitasnya berubah, kemudian suhunya juga berubah, (ikannya) kaget.”
Ujar Sudarwanto, Sekretaris DLH Demak dilansir detik.com.
Cekungan ini berpotensi menghambat sirkulasi alami air laut dan air payau di sekitar lokasi.
Ketika sirkulasi air terganggu, perbedaan salinitas, suhu, dan kadar oksigen bisa berubah drastis.
Kondisi semacam ini sangat mungkin membuat ikan mengalami stres lingkungan dan akhirnya mati dalam jumlah besar.
Namun, dugaan itu masih bersifat teori awal.
DLH menegaskan bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan apapun sebelum hasil pemeriksaan laboratorium diterbitkan.
Sampai sekarang, analisis kimia dan biologi perairan masih berlangsung.
Baca Juga: Situasi Memburuk di Tapteng, Minimarket Dijarah akibat Kelangkaan Bahan Pokok
Termasuk pemeriksaan parameter salinitas, kadar oksigen terlarut, potensi polutan, dan kualitas air lainnya.
Pemerintah meminta masyarakat menunggu hasil resmi agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.
Fenomena ini menjadi sorotan karena bukan kejadian pertama di wilayah yang sama. Pada Juni 2025, ribuan ikan tambak di Sayung juga mati secara mendadak.
Saat itu, DLH menyimpulkan penyebabnya bukan berasal dari pencemaran limbah, tetapi perubahan salinitas air tambak akibat hujan dan pasang-surut laut yang ekstrem.
Meski begitu, kasus yang terjadi pada November jauh lebih besar dan terjadi di perairan umum, bukan sekadar tambak, sehingga respons publik lebih kuat.
Warga pesisir mengaku khawatir dengan kejadian ini.
Selain mengganggu aktivitas nelayan, fenomena tersebut membuat masyarakat waswas untuk mengonsumsi ikan laut dari wilayah sekitar.
Beberapa nelayan juga melaporkan penurunan pendapatan karena ikan tangkapan berkurang dan konsumen sementara waktu menahan pembelian.
Di sisi lain, bangkai ikan yang menumpuk di pesisir juga menimbulkan bau menyengat dan berpotensi mengganggu kesehatan lingkungan apabila tidak segera ditangani.
Pakar kelautan menilai bahwa fenomena kematian ikan massal umumnya berkaitan dengan perubahan drastis pada kondisi perairan.
Selain faktor sirkulasi air yang terganggu, kemungkinan lain seperti peningkatan suhu air, penurunan kadar oksigen, atau ledakan plankton tertentu juga dapat menjadi penyebab.
Namun, untuk kasus Sayung, seluruh kemungkinan tersebut tetap harus dibuktikan melalui pemeriksaan ilmiah.
Sejumlah organisasi lingkungan mendorong pemerintah mempercepat publikasi hasil laboratorium.
Mereka menilai transparansi sangat penting mengingat lokasi kejadian berada dekat dengan kawasan padat penduduk dan proyek infrastruktur besar.
Jika benar perubahan pola aliran air akibat pembangunan menjadi faktor pemicu, pemerintah perlu melakukan evaluasi dan mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, warga masih menunggu kepastian.
Baca Juga: Situasi Memburuk di Tapteng, Minimarket Dijarah akibat Kelangkaan Bahan Pokok
Hingga laporan ini diturunkan, garis pantai Sayung masih menyisakan sisa-sisa bangkai ikan, meski sebagian sudah dibersihkan.
Publik berharap hasil resmi DLH dapat memberi kejelasan tentang apa yang terjadi pada perairan pesisir Demak kali ini apakah benar dipicu perubahan akibat pembangunan tol.
Atau murni fenomena alam yang sedang terjadi di kawasan tersebut.***




