POJOKSATU.ID - Sebuah video yang memperlihatkan pengemudi ojek online (ojol) perempuan berbicara sambil menahan tangis kembali menyita perhatian warganet.

Dalam rekaman itu, ia mengaku baru saja mengalami pembatalan pesanan secara sepihak setelah tiba di lokasi penjemputan.

Alasannya? Penumpang hanya ingin diantar oleh pengemudi laki-laki.

Baca Juga: APBD Kota Bandung 2026 Akan Diprioritaskan ke Infrastruktur, Pengelolaan Sampah, Perbaikan Layanan Dasar

Sang driver menceritakan bahwa ketika ia sudah sampai di titik penjemputan, penumpang justru membatalkan pesanan tanpa memberikan penjelasan langsung.

Yang lebih menyakitkan, penumpang tersebut kemudian memesan ulang ojek di lokasi yang sama, tepat di depannya, hanya karena merasa lebih nyaman jika dikendarai oleh driver pria.

Kejadian itu membuat sang pengemudi perempuan tak kuasa menahan emosinya.

Baca Juga: Ironis! Siklon Senyar Lumpuhkan Aceh, Pertolongan Pertama Justru Datang dari Malaysia

Fenomena pembatalan sepihak seperti ini bukan masalah baru bagi banyak pengemudi ojol perempuan.

Mereka sering kali mengalami kerugian bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga secara emosional.

Pembatalan mendadak tanpa alasan jelas membuat mereka merasa diremehkan dan tidak dihargai, seolah kemampuan mereka dianggap tidak layak hanya karena mereka perempuan.

Padahal, menurut banyak pihak, ketidaknyamanan penumpang sebenarnya masih dapat disampaikan dengan baik.

Baca Juga: Kacau! Tak Bisa Evakuasi Pasien, Petugas Basarnas Diserbu Warga, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Penumpang bisa memberikan alasan secara sopan atau meminta pergantian driver melalui aplikasi tanpa merugikan pengemudi yang sudah mengeluarkan waktu, tenaga, dan biaya untuk menuju lokasi penjemputan.

Pembatalan tanpa komunikasi bukan hanya tidak pantas, tetapi juga menyisakan luka psikologis bagi para driver yang sedang berusaha mencari nafkah.

Pengamat layanan transportasi digital menilai bahwa normalisasi cancel sepihak justru menciptakan ketimpangan dalam ekosistem kerja ojol.

Baca Juga: Terkuak! Bandara Khusus IMIP Pernah Ditolak Jonan, Kini Berdiri Megah Setelah Menhub Berganti

Ketika pembatalan dianggap hal biasa, maka driver berada dalam posisi yang rentan.

Mereka tidak memiliki jaminan pendapatan, padahal sudah bekerja maksimal mengikuti standar aplikasi.

Situasi semakin berat bagi pengemudi perempuan yang kerap menghadapi diskriminasi berbasis gender.

Kasus ini juga memicu diskusi di media sosial mengenai perlunya edukasi bagi penumpang tentang etika menggunakan layanan ojek online.

Baca Juga: Heboh Satu Kampung! Anak Babi di NTT Lahir dengan Hidung Panjang Mirip Gajah

Banyak komentar menyebutkan bahwa skill mengemudi tidak ditentukan oleh gender.

Di sisi lain, perusahaan penyedia layanan juga didorong agar memperketat kebijakan pembatalan sepihak dan memastikan pembatalan tidak merugikan driver yang sudah bekerja keras menuju lokasi.

Para pengemudi perempuan berharap masyarakat lebih bijak. Mereka bekerja bukan untuk dipuji, tetapi untuk membiayai keluarga dan memenuhi kebutuhan hidup.

Perlakuan diskriminatif hanya membuat pekerjaan mereka semakin berat. Komunikasi dua arah dan saling menghargai diyakini dapat menghindari insiden seperti ini.

Baca Juga: Analisis ITB: Puncak Musim Hujan, Siklon Senyar, dan Degradasi Lahan Perparah Banjir Sumatera

Video curhatan ojol perempuan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik helm dan jaket hijau, ada manusia yang bekerja keras dan layak dihormati.

Penumpang bisa memiliki preferensi, tetapi keputusan membatalkan pesanan tanpa alasan jelas bukanlah perilaku yang dapat dibenarkan.

Kini, para pengguna aplikasi diminta lebih empatik dan menghargai waktu serta usaha para driver.

Sebuah komunikasi sederhana dapat mencegah luka batin bagi mereka yang sekadar ingin mencari nafkah dengan cara yang halal dan bermartabat.***