POJOKSATU.id - Perdebatan mengenai kontribusi alumni LPDP terus berlanjut di media sosial.
Setelah sebelumnya muncul pernyataan tentang anak yang disebut tidak ingin menjadi WNI, isu tersebut merembet ke berbagai arah.
Salah satu nama yang ikut terseret adalah Tasya Kamila, yang dikenal sebagai alumni LPDP dengan fokus pada isu lingkungan.
Baca Juga: Tertangkap Saat Curi Motor, Pasangan Ini Malah Bikin Salfok Karena Tetap Mesra Meski Lebam
Tasya sebenarnya telah menyelesaikan masa baktinya pada 2018–2023 dan aktif menggerakkan berbagai kegiatan terkait lingkungan.
Namun kontribusinya itu mendadak dipertanyakan setelah seorang influencer dit TikTok @GheovannyMethamia, mengunggah video berisi kritik tajam.
Dalam video tersebut, ia menilai apa yang dilakukan Tasya dan beberapa alumni LPDP lain tidak mencerminkan kualitas lulusan luar negeri.
Baca Juga: Insentif Guru Non-ASN Naik Drastis, Anggaran Tembus Rp1,8 Triliun di 2026
Bahkan menyindirnya hanya selevel kegiatan ibu-ibu PKK.
Gerakan akar rumput, program edukasi, hingga pemberdayaan lewat talkshow dianggap tidak membutuhkan gelar luar negeri.
Ia membandingkannya dengan program CSR kantornya yang menurutnya bisa menjalankan kegiatan serupa tanpa dana beasiswa besar.
Baca Juga: Tertangkap Saat Curi Motor, Pasangan Ini Malah Bikin Salfok Karena Tetap Mesra Meski Lebam
Kritik itu kemudian menyebar cepat dan memicu reaksi beragam dari publik.
Sebagian netizen setuju dengan kritik tersebut dan menilai kontribusi alumni LPDP seharusnya lebih konkret dan terukur.
Mereka menilai kegiatan sosial yang bersifat edukatif saja belum cukup menggambarkan dampak beasiswa negara.
Namun di tengah ramainya hujatan, Tasya akhirnya angkat suara.
Ia menyampaikan permintaan maaf serta menjelaskan bahwa pendekatan gerakan lingkungan dan pemberdayaan yang ia lakukan.
Baca Juga: Polisi Tangkap Debt Collector Pelaku Penusukan Advokat di Tangerang
Hal tersebut merupakan bentuk penerapan langsung dari ilmu yang ia pelajari di Columbia University, terutama terkait kebijakan publik dan partisipasi masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa bidang yang ia ambil termasuk prioritas LPDP pada 2016 karena berkaitan dengan SDGs.
Penjelasan itu membuat perdebatan semakin panjang. Di satu sisi, ada tuntutan agar alumni LPDP memberi dampak lebih besar.
Baca Juga: Tertangkap Saat Curi Motor, Pasangan Ini Malah Bikin Salfok Karena Tetap Mesra Meski Lebam
Di sisi lain, muncul pemahaman bahwa kontribusi tidak selalu berbentuk proyek besar, tetapi juga bisa dari gerakan kecil yang berkelanjutan.***




