POJOKSATU.id, LAMPUNG-- Pascapembakaran Ponpes Nurul Jadid, Tanjung Mas Jaya, Mesuji Timur, Mesuji, Lampung, situasi terlihat kondusif pada Selasa (12/5).
Peristiwa pembakaran terjadi pada Jumat (8/5/2026) malam diduga kasus asusila yang menyeret pimpinan pondok pesantren berinisial MFS hingga memicu kemarahan warga sekitar.
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun memastikan, usai aksi pembakaran situasi mulai kondusif.
“Terkait pasca pembakaran di wilayah Mesuji, Alhamdulillah situasinya masih kondusif. Polisi mengimbau kepada masyarakat untuk mempercayakan semuanya kepada aparat kepolisian dalam penanganan pembakaran tersebut,” kata Kombes Yuni, Senin (11/5/2026).
Baca Juga: Heboh, Apa Itu Film Pesta Babi? Ini Sinopsis, Fakta Menarik, dan Alasan Dokumenter Ini Jadi Sorotan
Polisi juga memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Satu orang berinisial A telah diamankan terkait aksi pembakaran Ponpes.
Sementara barang bukti yang diamankan antara lain kendaraan roda dua.
Meski demikian, polisi masih mendalami peran tersangka serta keterlibatan pihak lain dalam aksi anarkis tersebut.
Kapolres Mesuji AKBP M Firdaus menjelaskan, kemarahan warga bermula dari dugaan tindak pidana pencabulan yang disebut melibatkan pimpinan pondok pesantrean (ponpes) berinisial MFS terhadap santriwati.
Kasus itu sebenarnya disebut sudah lama menjadi polemik di tengah masyarakat.
Baca Juga: Film Pesta Babi Ramai Dibubarkan di Kampus, Ini Daftar Lokasi Nobar yang Dihentikan dan Penyebabnya
Sudah ada surat kesepakatan atau musyawarah antara warga setempat dengan pimpinan pondok pesantren, dimana salah satu isinya meminta pimpinan ponpes MFS meninggalkanl okasi.
Namun warga kembali emosi setelah mengetahui MFS kembali datang ke pondok pesantren untuk menemui cucunya.
Warga lalu berkumpul usai salat Jumat dan mendatangi ponpes untuk menyampaikan aspirasi agar MFS segera meninggalkan lokasi.
Awalnya situasi berjalan kondusif dan sempat tercapai kesepakatan bahwa MFS akan pergi sebelum pukul 00.00 WIB.
Namun kondisi mulai memanas pada malam hari karena warga menilai tidak ada tanda-tanda MFS meninggalkan pondok pesantren.
Sekitar pukul 23.00 WIB, massa yang jumlahnya mencapai sekitar 500 orang mulai bertindak anarkis. Mereka merusak fasilitas pondok pesantren hingga akhirnya membakar sejumlah bangunan di Ponpes.***




