POJOKSATU.ID - Kisah pilu dialami seorang orang tua murid di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Perempuan berinisial NO, pemilik akun Facebook Nurul Oriana, mengaku mendapat intimidasi hingga anaknya dikeluarkan dari sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) setelah mengunggah foto menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke media sosial.
Peristiwa ini bermula saat Nurul memposting foto menu MBG yang diterima anaknya untuk jatah lima hari.
Baca Juga: Kronologi Terbongkarnya Pembunuhan Zahra Mahasiswi ULM, Beruntung Teman Korban Belum Hapus WA
Dalam unggahan tersebut terlihat menu sederhana berupa susu kotak, roti, dan kacang goreng. Unggahan itu kemudian menyebar luas dan menuai beragam komentar dari warganet.
Tak lama setelah postingan tersebut viral, Nurul mengaku menerima panggilan telepon bernada intimidasi.
Ia menyebut penelepon meminta dirinya berhenti mengunggah konten terkait MBG dan melontarkan ancaman yang membuatnya tertekan secara psikologis.
Baca Juga: Alur Pengajuan KUR BRI dari Pengajuan hingga Pencairan, Ini Tahapannya
“Dalam telepon itu saya diminta berhenti memposting. Saya bahkan dibilang kebodohan saya bisa menghancurkan hidup saya sendiri,” ungkap Nurul dikutip pojoksatu.id dari instagram @_thinksmart.id (28/12/2025).
Nurul pun mencoba melawan dengan mempertanyakan maksud dari tekanan tersebut. Ia merasa haknya sebagai warga untuk bersuara justru dibungkam.
“Saya pun menjawab: ‘oh, berarti saya dibungkam ya? Terima saja berarti apa adanya, bentuk dan berapapun itu?’” tulis Nurul menceritakan isi perdebatan dalam sambungan telepon tersebut.
Namun dampak dari unggahan itu ternyata jauh lebih besar. Nurul mengungkapkan bahwa anaknya secara sepihak diberhentikan dari PAUD tempatnya bersekolah.
Informasi tersebut disampaikan oleh guru sekaligus pemilik PAUD melalui grup WhatsApp.
Nurul menduga keputusan tersebut dipicu kemarahan pihak sekolah terhadap unggahannya yang dianggap mengkritik menu Makan Bergizi Gratis.
Baca Juga: Internet Rakyat dan Peluang Baru bagi Pelaku UMKM, Bisakah Jadi Lahan Bisnis Sewa Internet Harian?
Ia mengaku terpukul karena persoalan tersebut justru berimbas pada hak pendidikan anaknya.
Dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial, Nurul tampak menangis tersedu-sedu sambil menyampaikan keluhannya kepada Presiden Prabowo Subianto.
Menggunakan bahasa daerah Kampar, ia mempertanyakan keadilan yang diterimanya sebagai masyarakat kecil.
Baca Juga: Mengenal Program BPJS Kesehatan, Layanan Medis dari Faskes Pertama sampai Rumah Sakit Rujukan
“Singgah kini anak den yang kena korban Pak Prabowo, dibon-tin di sekolah PAUD kini Pak Prabowo,” ucap Nurul dengan suara bergetar.
“Apa hubungannya ke anak saya? Kenapa karena itu bisa memberhentikan anak saya ke sekolah itu?” lanjutnya.
Curhatan emosional tersebut menyentuh hati banyak warganet.
Baca Juga: Tunjangan Khusus Guru di Aceh, Sumut, Sumbar, dan Jatim Cair Desember, Ini Syarat dan Imbauannya
Hingga berita ini diturunkan, unggahan Nurul telah mendapat perhatian luas dan memicu perdebatan tentang kebebasan berpendapat serta perlindungan hak anak dalam dunia pendidikan.
Nurul juga mengingatkan orang tua lain agar berhati-hati saat membagikan pengalaman serupa di media sosial.
Ia berharap tidak ada lagi anak yang menjadi korban akibat suara orang tuanya yang mencoba menyampaikan kritik demi perbaikan.***




