POJOKSATU.id, Bogor – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia mulai membuka mata terhadap praktik bisnis ramah lingkungan.

Temuan ini diungkap lewat riset terbaru yang dipimpin oleh Ani Mekaniwati, Ph.D., bersama timnya, melibatkan 238 pelaku UMKM dari berbagai sektor.

“Tujuan utama riset ini adalah untuk melihat sejauh mana UMKM sudah menerapkan prinsip keberlanjutan dan apa saja hambatan yang mereka hadapi,” jelas Ani.

Mayoritas responden adalah pemilik usaha mikro dan kecil dengan omzet tahunan di bawah Rp100 juta serta jumlah pekerja kurang dari lima orang.

Menariknya, lebih dari 80 persen UMKM mengaku sudah memiliki kebijakan internal terkait lingkungan.

Meski begitu, cara pemasaran masih banyak bertumpu pada penjualan langsung atau offline.

Tren digitalisasi memang mulai terlihat, ditandai dengan meningkatnya pemanfaatan media sosial dan marketplace sebagai kanal promosi serta penjualan.

Dengan menggunakan metode Structural Equation Modeling – Partial Least Squares (SEM-PLS), tim peneliti menemukan bahwa inovasi ekologis terbukti berpengaruh signifikan terhadap rantai pasokan berkelanjutan.

Bahkan, kebijakan rantai pasokan yang ramah lingkungan mampu meningkatkan efektivitas ekonomi sirkular dan kinerja UMKM.

Namun, Ani menegaskan, inovasi saja tidak cukup.

“Inovasi ramah lingkungan tidak akan otomatis berdampak pada efektivitas ekonomi sirkular tanpa adanya dukungan kebijakan rantai pasokan,” tegasnya.

Artinya, agar manfaatnya benar-benar terasa, UMKM membutuhkan ekosistem pendukung berupa regulasi, insentif, dan kolaborasi lintas sektor.

UMKM selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Mereka menyumbang 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hingga 97 persen tenaga kerja.

Namun, masalah klasik masih menghantui, mulai dari keterbatasan modal, inefisiensi sumber daya, hingga limbah produksi.

Ani menekankan perlunya sinergi antara inovasi ekologis dan kebijakan rantai pasokan berkelanjutan agar UMKM tidak sekadar bertahan, tetapi juga naik kelas di era ekonomi hijau.

“Sinergi inovasi ekologis dan kebijakan rantai pasokan berkelanjutan adalah kunci untuk meningkatkan daya saing sekaligus memastikan keberlanjutan UMKM Indonesia di masa depan,” pungkasnya.

Penelitian ini mendapat dukungan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.