POJOKSATU.ID – Setelah dua pekan terisolasi akibat jalan putus dihantam banjir bandang, warga Kecamatan Bintang di Aceh Tengah akhirnya mulai bisa keluar menuju Takengon.

Akses itu terbuka bukan lewat jalur darat, melainkan melalui jalur air di Danau Wulut Tawar.

Namun, kondisi tersebut menyimpan persoalan serius. Untuk menyeberang, warga harus membayar ongkos kapal sebesar Rp150.000 per orang, tarif yang dinilai sangat memberatkan di tengah situasi darurat.

Baca Juga: Heboh DPR Usul Kementerian Baru Penanggulangan Bencana, Susi Pudjiastuti Balas Pedas, His Brain Is a Disaster

Meski angka tersebut terbilang tinggi, warga tidak memiliki alternatif lain. Dilansir dari TV One News

Mereka membutuhkan akses untuk mendapatkan bahan makanan, obat-obatan, hingga menjemput keluarga yang terpisah sejak bencana melanda.

Tanpa adanya kapal resmi dari pemerintah, masyarakat terpaksa menyewa perahu milik warga lain dengan biaya yang terus naik seiring kebutuhan mendesak.

Baca Juga: Chaos di Kalibata, Puluhan Orang Mengamuk, Beberapa Kendaraan dan Kios Warga Hangus Terbakar Usai Pengeroyokan Matel

Salah satu warga, Zainudin, mengungkapkan bahwa meski kini akses menuju Takengon sudah bisa ditempuh, warga harus membayar biaya sewa perahu yang tidak murah.

Ia menceritakan bahwa ongkosnya berkisar Rp150 ribu per orang, bahkan beberapa warga sempat diminta membayar Rp50 ribu hingga lebih, tergantung pemilik perahu dan kondisi di lapangan.

Namun apa pun angkanya, masyarakat terpaksa merogoh kocek karena kebutuhan pokok mereka benar-benar menipis.

Baca Juga: Viral Usai Kasus Kalibata, Seruan Lindungi Debt Collector Muncul, Publik Balik Soroti Cara Penagihan yang Dinilai Tak Manusiawi

Zainudin mengatakan ia menyeberang pagi itu untuk menjemput anaknya yang selamat dari bencana.

Rumahnya sendiri terdampak banjir dan terendam air, meski tidak hancur total. Menurutnya, kondisi warga saat ini sangat sulit.

Mereka tidak memiliki penghasilan, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Baca Juga: Kericuhan Pecah! Diduga Aksi Balasan, Enam Warung Hangus Terbakar di Kalibata

Dalam situasi kritis seperti ini, biaya transportasi yang tinggi menjadi beban tambahan yang tidak sanggup ditanggung sebagian warga.

Ia pun menyuarakan harapan besar kepada pemerintah.

Warga Kecamatan Bintang menginginkan bantuan berupa kapal resmi atau transportasi darurat yang bisa membantu mobilisasi kebutuhan pokok tanpa biaya yang mencekik.

Baca Juga: Geger di PBNU! Ma’ruf Amin Tegas Tolak Penunjukan Zulfa Mustofa, Ada Apa?

Mereka berharap pemerintah melihat kondisi nyata di lapangan bahwa masyarakat yang terdampak bencana sedang tidak memiliki sumber pemasukan dan membutuhkan uluran tangan segera.

Warga lain yang ditemui di lokasi juga mengeluhkan besarnya ongkos penyeberangan tersebut.

Menurut mereka, kebutuhan makanan dan obat-obatan adalah prioritas mendesak, namun biaya perjalanan yang tinggi membuat semua semakin sulit.

Bila pemerintah tidak segera turun tangan, warga khawatir masa tanggap darurat akan semakin berat dijalani.

Baca Juga: Pelaku Kekerasan di Sekolah Didominasi Siswa, Wamendikdasmen Sorot Peran Komite Sekolah

Situasi di Kecamatan Bintang kini masih dalam tahap pemulihan.

Jalan yang putus belum dapat digunakan, dan sebagian wilayah masih menyisakan lumpur serta puing akibat banjir bandang.

Akses air menjadi satu-satunya jalur yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Karena itu, warga meminta agar pemerintah memberikan perhatian lebih cepat dan menyediakan sarana transportasi darurat untuk memastikan kebutuhan pokok mereka terpenuhi.***