POJOKSATU.id — Soekarno, Sutan Sjahrir dan Agus Salim, pernah dibuang ke tepian Danau Toba Parapat, Sumut, oleh Kolonial Belanda sekitar tahun 1949 lalu.

Ketiga pejuang kemerdekaan ini dibuang Belanda ke tepian Danau Toba dan ditempatkan di salah satu rumah bangunan milik Belanda yang dibangun tahun 1820.

Rumah ukuran 10 x 20 meter dengan arsitektur Eropa ini berlokasi tak jauh dari pinggir Danau Toba.

Kini kawasan Parapat tempat pembuangan Bung Karno bersama dua pejuang kemerdekaan itu masuk wilayah Kabupaten Simalungun.

Sukarno menjalani pembuangan mulai 4 Januari 1949 di Parapat dan berlangsung hingga Maret 1949 atau sekitar 3 bulan.

Baca Juga :

Kisah Presiden Soeharto Tembus Medan Perang Bosnia : Itu Rompi Antipeluru Kamu Jinjing Saja

Sebelum Bung Karno dan Sutan Sjahrir dan Haji Agus Salim dibuang ke Parapat, ternyata tiga pejuang republik ini lebih dulu dibuang ke Berastagi, Kabupaten Karo, selama 10 hari.

Selama dibuang ke Parapat, ada dua pegawai yang selalu setia melayani Bung Karno yang berasal dari masyarakat Parapat atau sekitar Danau Toba, namanya Buka Sinaga dan satu lagi bermarga Sitindaon.

Mangasi Sinaga (52) merupakan generasi ketiga dari Buka Sinaga. Mangasi Sinaga menceritakan kembali kisah kakeknya menjadi pegawai setia yang melayani Bung Karno.

"Ketika Presiden Soekarno dibawa ke Parapat, kakek saya Buka Sinaga dan Oppung (kakek) Tindaon, dua di antara pegawai Presiden Soekarno yang berada di sisinya," ujar Mangasi Sinaga kepada wartawan.

Soekarno saat itu mendapat pengawasan sangat ketat dari tentara Belanda. Pengawasan itu melekat pula bagi pegawainya. Pegawai yang menjaga Bung Karno juga diawasi ketat.

Ketika itu suara dentuman meriam dan letusan senjata kerap terdengar ketika pejuang kemerdekaan bertempur dengan tentara Belanda.

Menurut Mangasi, kakeknya pernah terbersit untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai di rumah pembuangan Bung Karno ini.

Namun, Buka Sinaga dan kakek bermarga Tindaon ini akhirnya tetap memilih loyal kepada Bung Karno yang dikenal masyarakat saat itu sebagai Proklamator Kemerdekaan dan Presiden RI.

Setelah 1 bulan Soekarno diasingkan di Parapat tepian Danau Toba, akhirnya Bung Karno bisa berkomunikasi dengan gerilyawan atau pejuang kemerdekaan melalui kakek Tindaon dan Buka Sinaga.

Soekarno meminta kakek Tindaon membawakan makanan paha ayam. Setelah selesai makan, Soekarno membersihkan tulang paha ayam agar bisa menyelipkan surat di bagian dalam tulang tersebut.

Setelah itu, Soekarno memberitahukan kepada kakek Tindaon dan Buka Sinaga bahwa terdapat sebuah surat untuk disampaikan kepada gerilyawan Indonesia.

Surat itu diselipkan di tulang paha ayam.

Selain paha ayam, Bung Karno juga memanpaatkan batang sayur kangkung.

Dari batang sayur kangkung itulah Soekarno memasukkan surat untuk diberikan kepada gerilyawan Indonesia.

Setelah beberapa kali komunikasi berjalan lancar dan informasi sampai ke tentara republik yang ada di Parapat.

Kemudian tentara republik memutuskan akan menjemput Soekarno dari pengasingannya di tepian Danau Toba Parapat.

Tentara dan para gerilyawan republik kemudian bergerak mengepung Parapat, baik dari daratan maupun kawasan Danau Toba.

Tetapi, rencana penjemputan tersebut akhirnya ditahan oleh Sutan Sjahrir yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri RI, dengan alasan mereka mau dipindahkan ke Bangka.

Akhirnya Soekarno, Agus Salim dan Sutan Sjahrir dibawa ke Bangka pada Maret 1949. Dan di situlah mereka dipertemukan dengan pemimpin republik lainnya seperti Bung Hatta.(ikror/pojoksatu)