POJOKSATU.ID - Pasca banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sibolga–Tapanuli Tengah sejak Senin malam, kondisi masyarakat di sejumlah daerah terdampak masih jauh dari normal.
Laporan yang masuk menyebutkan bahwa warga di Hutabalang, Pandan, serta Pinangsori tengah menghadapi situasi sulit akibat akses jalan yang terputus dan minimnya distribusi bantuan.
Kerusakan parah pada beberapa jalur utama membuat kendaraan bantuan tidak dapat menjangkau lokasi terdampak.
Material longsor yang menutup ruas jalan serta jembatan yang rusak menyebabkan pengiriman logistik terhambat.
Hingga kini, upaya membuka akses masih dilakukan secara bertahap menggunakan alat berat.
Di tengah keterisolasian ini, kebutuhan pokok menjadi semakin sulit diperoleh. Sejumlah warga mengaku persediaan makanan hanya tersisa untuk satu atau dua hari.
Baca Juga: Indonesia Jadi Juara Dua Kehilangan Hutan Primer, Alarm Besar untuk Masa Depan
Minimnya pasokan membuat situasi kian tidak menentu, terutama bagi keluarga dengan balita dan lansia.
Di Kecamatan Pandan, beberapa minimarket dilaporkan menjadi sasaran warga yang terdesak kebutuhan. Kelangkaan bahan makanan dan air bersih memicu kepanikan.
Warga yang kehilangan tempat tinggal atau terputus dari bantuan terpaksa mencari kebutuhan secara mandiri di lokasi yang masih menyimpan stok.
Baca Juga: Tragis! Truk Rem Blong Picu Tabrakan Maut di Cikampek, Dua Nyawa Melayang di Lampu Merah
Salah satu supermarket di kawasan Sarudik juga mengalami kejadian serupa. Kondisi ini dianggap sebagai dampak dari lambatnya aliran bantuan ke daerah yang terisolasi.
Meski aksi tersebut disayangkan, warga menyebut situasi darurat membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan.
Dengan perut kosong berhari-hari, banyak yang melakukan apa pun untuk mempertahankan hidup.
Pemerintah daerah diminta mempercepat pendistribusian logistik agar situasi tidak semakin memburuk.
Di sejumlah titik pengungsian, warga membutuhkan makanan siap saji, air mineral, selimut, dan obat-obatan.
Sejumlah kelompok relawan telah bergerak mengumpulkan bantuan, namun akses lapangan yang belum pulih membuat proses distribusi tidak merata.
Banyak pengungsi berharap pemerintah pusat segera menambah personel dan peralatan untuk mempercepat penanganan.
Selain itu, banjir dan longsor juga menimbulkan kerusakan signifikan pada rumah warga, fasilitas umum, hingga lahan pertanian.
Beberapa keluarga masih bertahan di bangunan sementara sambil menunggu evakuasi.
Kondisi cuaca yang masih tidak stabil turut menghambat proses pembersihan material lumpur dan kayu yang memenuhi permukiman.
Hingga kini, aparat gabungan TNI, Polri, BPBD, dan relawan terus berupaya membuka jalur yang tertutup.
Mereka juga menyalurkan bantuan lewat jalur alternatif yang memungkinkan, termasuk melalui posko terdekat.
Baca Juga: Lolos Substantif Tidak Otomatis Lolos PPG Calon Guru! Seleksi Wawancara Jadi Penentu Berikutnya
Pemerintah daerah mengimbau warga tetap tenang dan memprioritaskan keselamatan sambil menunggu bantuan lanjutan tiba.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah Sibolga–Tapteng merupakan kawasan rawan bencana yang membutuhkan infrastruktur tangguh serta sistem tanggap darurat yang lebih cepat dan merata.
Pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang, sementara warga masih berjibaku dengan kebutuhan sehari-hari.***




