POJOKSATU.ID - Beberapa bulan lalu, tim Pandawara menemukan masih banyak sampah pembalut sekali pakai ditemukan di sungai.

Jumlahnya mungkin mencapai ratusan dengan kondisi yang berbeda-beda, ada pembalut yang sudah bersih, tapi tak sedikit yang masih kotor.

Anggota Pandawara mengungkapkan sebenarnya mereka sudah sering berurusan dengan pembalut yang dibuang sembarangan ke sungai.

Baca Juga: Drone ZEKE-03 Karya ITB, Bedanya Tak Hanya Bisa Terbang, Tapi Bisa Juga Merayap dan Masuk ke Ruang Sempit

"Cuma baru kali ini kita speak up mengenai pembalut ini, karena kita sudah lumayan cukup muak dengan sampah-sampah ini," ucap salah satu tim Pandawara di akun media sosial pribadinya, 16 Juli 2025.

Pembalut sekali pakai memang bagian penting dari siklus kehidupan kaum Hawa, tapi jadi tantangan besar untuk lingkungan.

Membuang pembalut tak sama seperti sampah lainnya, limbah sekali pakai ini harus dipisahkan dan segera dibungkus dengan plastik jika sudah digunakan.

Baca Juga: Tiga Ilmuwan AS Raih Nobel Fisika 2025 Berkat Eksperimen Revolusioner Kuantum

Pembalut sekali pakai termasuk limbah yang sulit didaur ulang karena komposisinya kompleks.

Ketika sudah dibungkus plastik, buang ke tempat sampah dan pastikan bungkusan tersebut dibawa oleh petugas kebersihan untuk dikirim ke TPA.

Dari temuan Pandawara, membuktikan bahwa sebagian wanita masih tak peduli dengan lingkungan.

Baca Juga: Smart Farming untuk Perempuan Desa, HIMATIP UNIDA Dorong Pertanian Cerdas Lewat Pelatihan Hidroponik dan IoT

Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, limbah domestik menyumbang 40 persen dari total sampah nasional.

Sebagian sampah tersebut merupakan produk kebersihan, seperti pembalut wanita, popok, dan tisu basah.

Kegagalan edukasi dan sosialisasi terhadap kaum Hawa dalam membuang pembalut dengan benar, dibarengi dengan industri yang seakan lari dari tanggung jawab.

Baca Juga: Kemdiktiristek Buka Kembali Proses Penerbitan Angka Kredit Integrasi Dosen

Industri pembalut hanya sibuk memproduksi dan mempercantik kemasan dengan segala keunggulannya, tapi lupa menonjolkan imbauan tata cara pembuangan yang tepat.

Sebagian besar industri pembalut hanya menampilkan tulisan kecil di belakang kemasan yang meminta untuk tidak membuangnya di toilet.

Kalimat dengan font kecil itu jelas kalah menonjol dari klaim pemasaran yang ditampilkan lebih besar dan menarik.

Baca Juga: Format UP Terbaru di PPG Daljab, Guru PAI Terapkan Pembelajaran Berbasis Nilai, Siswa Jadi Lebih Aktif dan Jujur

Diketahui, rata-rata komposisi pembalut terdiri dari 48 persen serat pulp, 36 persen plastik, dan sekitar 6 sampai 7 persen super absorbent polymer yang hampir tidak bisa diuraikan dalam waktu singkat.

Industri pembalut wanita seharusnya tidak hanya menjual kenyamanan, tetapi juga mengemban tanggung jawab lingkungan.

Pemerintah harus bisa memaksa industri pembalut untuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan limbahnya.

Baca Juga: 7 Sekolah Kedinasan Tanpa Syarat Tinggi Badan, Boleh Berkacamata, Lulusan SMA Sederajat Boleh Coba, Nih!

Sehingga pemerintah dan perusahaan wajib turun ke lapangan, bukan hanya sibuk menciptakan slogan.

Kini hampir semua limbah pembalut di negeri ini masih dilakukan dengan cara dibakar dengan insinerator.

Akan tetapi cara tersebut akan menghasilkan emisi dioksin dan furan yang berbahaya bagi kesehatan.

Baca Juga: Pengalihan Status PPPK dan Honorer Ke PNS, Jadi Pembahasan Serius KSP

Di beberapa negara Asia, sudah dikembangkan pembalut bebas dari plastik yang mungkin bisa ditiru oleh industri di negeri ini.

Jika perusahaan pembalut abai pada tanggung jawab dan pemerintah tak memperjelas regulasinya, sungai-sungai di Indonesia tetap akan jadi kubangan plastik.***