POJOKSATU.ID – Belum lama ini publik tengah dihebohkan dengan kasus Septia Adinda (23) warga Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Seperti diketahui, Septia Adinda baru saja dikabarkan tewas usai jadi korban mutilasi Satria Juhanda alias Wanda (25).

Yang mana, dirinya berakhir tragis lantaran diduga tidak kunjung melunasi utang kepada pelaku pembunuhan tersebut.

Baca Juga: Ada Pungutan Liar hingga Penguasaan Kartu ATM, Mendiktisaintek Tegaskan KIP Kuliah Hak Penuh Mahasiswa, Imbau Laporkan Indikasi Penyalahgunaan

Usut punya usut, Septia Adinda yang tewas usai dimutilasi ini ternyata mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan Perbankan dan Pembangunan (STIE KBP) Padang.

Sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari laman Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) pada Jumat (20/6/2025).

Dalam laman PDDikti, nama Septia tercantum sebagai mahasiswi STIE KBP Padang sejak 2018 silam.

Baca Juga: GLMPK Gugat 18 Desa di Bayongbong Garut ke Komisi Informasi

Di mana, Septia yang telah jadi korban mutilasi tersebut terpaut mengemban pendidikan di Jurusan Manajemen.

Namun, dirinya tidak lagi aktif sebagai mahasiswi dengan status non-aktif yang terhitung pada periode 2024-2025.

Tidak heran, latar belakang Septia ramai disorot publik usai dirinya telah jadi korban mutilasi pelaku tindak pidana.

Baca Juga: Wali Kota Bandung Soroti Krisis Dokter Hewan, Perekrutan Segera Dipercepat

Lebih lanjut, kasus ini turut ditanggapi langsung oleh Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir.

Faisol menuturkan bahwa keduanya tidak memiliki hubungan istimewa, hanya sebatas bisnis utang-piutang.

“Hubungan mereka sebatas teman. Pelaku sakit hati karena utang tersebut tak kunjung dilunasi, padahal sudah ditagih,” jelasnya.

Baca Juga: Dinonaktifkan, Kadis Pendidikan Madina Minta Inspektorat Periksa Korwil Natal Terkait Dugaan Pungli

Perlu diketahui, kabar yang menyatakan Septia tewas dimutilasi usai adanya temuan beberapa potongan tubuh pada Selasa (17/6/2025).

Yang mana, potongan tubuh itu berhasil ditemukan para warga di berbagai wilayah kawasan Padang Pariaman.

“Potongan tubuh dibuang di beberapa titik. Kami masih terus menyisir lokasi lainnya karena potongannya tersebar, bahkan berbeda jalur sungai,” jelasnya. ***