POJOKSATU.ID - Publik Aceh Selatan tengah menyoroti langkah Bupati yang memilih berangkat umrah.
Beberapa hari setelah pemerintahannya menerbitkan surat resmi berisi pengakuan tidak mampu menangani bencana banjir di daerah tersebut.
Keputusan itu memicu perdebatan dan kritik tajam dari masyarakat yang masih berjuang menghadapi dampak banjir di berbagai kecamatan.
Baca Juga: Mengapa Pemerintah Ubah Skema TPG Jadi Bulanan Mulai 2026? Ini Penjelasan Lengkapnya
Surat yang dikeluarkan Pemkab Aceh Selatan sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah daerah kewalahan dan membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah provinsi maupun pusat untuk menangani bencana banjir yang terus meluas.
Namun hanya selang waktu singkat, publik dikejutkan dengan keberangkatan Bupati ke Tanah Suci. Dilansir dari Instagram @kotabandaaceh
Reaksi warga pun beragam, mulai dari nada satir hingga kekecewaan mendalam.
Banyak yang mempertanyakan prioritas sang kepala daerah di tengah kondisi darurat yang seharusnya memerlukan kepemimpinan aktif.
Di saat ribuan warga masih membersihkan rumah dari lumpur, memperbaiki barang-barang rusak, dan menunggu bantuan, Bupati justru berada di luar negeri menjalankan ibadah umrah.
Sejumlah warga menyampaikan bahwa mereka tetap mendoakan ibadah Bupati diterima, namun tidak bisa menutupi rasa getir melihat keputusan tersebut.
Mereka menyebut seharusnya seorang pemimpin mendampingi rakyatnya terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan religi, terlebih ketika daerah sedang dalam masa krisis.
Nada kritik juga muncul dalam bentuk sindiran yang beredar di media sosial.
Ada yang menyebut bahwa mungkin saja Bupati ingin melaporkan kondisi banjir langsung kepada Tuhan.
Sementara sebagian lainnya mempertanyakan alasan keberangkatan yang tampak tidak mendesak dan dapat ditunda hingga penanganan banjir lebih terkendali.
Baca Juga: Hari ke-11 Banjir Sumatera, Banyak Daerah Belum Terima Bantuan, Tengah Malam Donatur Juga Bergerak
Pengamat kebijakan publik menilai bahwa tindakan ini berpotensi mencoreng kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan daerah.
Menurut mereka, kehadiran pemimpin di lapangan sangat penting saat bencana, tidak hanya untuk mengawasi penanganan tetapi juga memberikan dukungan moral bagi warga terdampak.
Sementara itu, pihak pemerintah daerah belum memberikan penjelasan rinci terkait alasan keberangkatan dan bagaimana koordinasi penanganan banjir dilakukan selama Bupati tidak berada di Aceh Selatan.
Baca Juga: Bukan Guru! Ini Formasi Paling Dibutuhkan PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025
Publik berharap pemerintahan tetap berjalan seperti biasa dan bantuan bagi warga terdampak tetap disalurkan tanpa hambatan.
Di tengah polemik tersebut, warga hanya berharap agar banjir dapat segera ditangani dengan lebih cepat dan tepat.
Mereka ingin pemerintah hadir secara penuh, baik dalam tindakan nyata maupun kehadiran pemimpin yang mampu memberikan rasa aman dan kepastian.
Masyarakat Aceh Selatan juga terus menggalang dukungan dan saling membantu membersihkan rumah serta fasilitas umum yang rusak.
Baca Juga: Internet Rakyat Surge Resmi Meluncur! Internet Unlimited 100 Mbps Cuma Rp100 Ribu
Solidaritas warga menjadi penguat utama ketika pemerintah daerah dinilai belum menunjukkan respons maksimal.
Dengan polemik yang terus berkembang, publik menantikan penjelasan resmi dari Pemkab Aceh Selatan terkait langkah Bupati dan bagaimana penanganan banjir akan diteruskan dalam beberapa hari ke depan.***




