POJOKSATU.id — Rencana menghadirkan kembali trem di kawasan Kota Tua kembali menjadi sorotan setelah Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut proyek tersebut tengah dibahas dalam program revitalisasi besar yang disiapkan Pemerintah Provinsi Jakarta.

Moda transportasi klasik ini diharapkan menjadi ikon baru sekaligus alternatif ramah lingkungan di kawasan bersejarah tersebut.

Trem direncanakan sebagai bagian dari konsep kawasan rendah emisi yang sedang dirancang.

Baca Juga: Saleh Partaonan Anggap Pelaporan Saiful Mujani Tepat, Orang Awam Saja Paham Ajakan Itu

Rano menegaskan bahwa pembangunan trem bukan hanya untuk menambah pilihan transportasi, tetapi juga untuk mendukung pengurangan polusi udara di pusat wisata sejarah Jakarta.

"Memang salah satu tujuannya mengurangi emisi. Kita sedang membahas rencana membangun trem di dalam Kota Tua," ujar Rano.

Ia juga mengenang masa kecilnya saat masih sempat menaiki trem di Jakarta.

Baca Juga: Gaji ke-13 PNS 2026 Cair Mulai Juni, Ini Jadwal dan Komponen yang Diterima

Menurutnya, menghadirkan kembali transportasi tersebut dapat memperkuat nuansa historis kawasan Kota Tua.

"Dulu waktu saya umur delapan tahun, saya masih sempat naik trem. Kalau dibangun lagi di Kota Tua, itu bisa mengurangi emisi sekaligus menghidupkan suasana lamanya," ungkapnya.

Trem merupakan angkutan massal pertama yang pernah beroperasi di Jakarta sejak 1869 dan juga digunakan di Surabaya.

Bentuknya mirip kereta api, namun biasanya hanya terdiri dari satu hingga dua gerbong penumpang.

Baca Juga: 10 Jurusan Sepi Peminat di Indonesia, Tapi Lulusannya Banyak Dicari & Bergaji Tinggi

Pada masa Batavia, trem melayani sejumlah rute, seperti Jatinegara–Matraman–Pasar Senen–Ancol, Pasar Senen–Lapangan Banteng–Pasar Baru–Harmoni–Kota–Pasar Ikan, serta Kemayoran–Pasar Baru–Harmoni–Tanah Abang.

Generasi awal trem di Jakarta menggunakan tenaga kuda. Trem berkuda mulai beroperasi pada 1869 dan mampu mengangkut sekitar 40 penumpang.

Untuk menarik satu rangkaian, diperlukan sekitar empat ekor kuda, dengan rute dari Tanah Abang hingga Jatinegara.

Baca Juga: Gagal SPAN PTKIN 2026? Ini Jadwal, Biaya, dan Syarat Lengkap UM-PTKIN yang Wajib Kamu Tahu

Namun, trem berkuda tidak bertahan lama. Sekitar 12 tahun kemudian, sistem tersebut dihentikan karena banyak kuda mengalami kelelahan akibat jarak tempuh yang panjang.

Moda ini kemudian digantikan oleh trem uap.

Trem uap mulai beroperasi pada 1881. Pada generasi ini, trem tidak lagi ditarik kuda, melainkan menggunakan lokomotif dengan tenaga ketel uap.

Di bagian depan terdapat tungku pembakaran batu bara sebagai sumber tenaga.

Baca Juga: Indonesia–Qatar Perkuat Kolaborasi Pendidikan Tinggi, Riset hingga Double Degree Jadi Fokus

Trem uap dikelola oleh perusahaan Nederlandsch-Indische Tramweg Maatschappij dan beroperasi selama sekitar 20 tahun.

Perkembangan teknologi kemudian menghadirkan trem listrik sebagai generasi berikutnya.

Namun, moda ini akhirnya dihapuskan pada 1960 karena dinilai tidak lagi sesuai dengan kondisi Jakarta yang semakin padat kendaraan.

Keberadaan trem kemudian digantikan bus seiring perbaikan infrastruktur jalan.

Baca Juga: Gemini Search Live Resmi Hadir di Indonesia, Begini Cara Pakainya dan Fitur Canggihnya

Kehadiran mobil dan taksi juga membuat penggunaan trem semakin menurun.

Pada masa tertentu bahkan diberlakukan pembagian kelas penumpang berdasarkan harga tiket.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, pengelolaan trem diambil alih pemerintah melalui Djawatan Kereta Api.

Penumpang dibagi menjadi dua kategori, yakni kelas I seharga 15 sen dan kelas II seharga 10 sen.

Baca Juga: Syarat Jadi Dosen di Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Minat? Simak Ini

Kebijakan tersebut justru mempercepat penurunan penggunaan trem hingga akhirnya moda ini benar-benar berhenti beroperasi.

Kini, rencana menghadirkan kembali trem di Kota Tua tidak hanya bertujuan menyediakan transportasi, tetapi juga mengembalikan identitas sejarah sekaligus mendorong mobilitas ramah lingkungan di Jakarta.***