POJOKSATU.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan peringatan keras terkait kondisi sumber daya manusia Indonesia.
Dalam percakapan panjang bersama Gita Wirjawan di program Endgame, Purbaya menyebut Indonesia secara nyata sedang mengalami darurat talenta
Terutama di bidang STEM (science, technology, engineering, mathematics) dan ilmu ekonomi.
Baca Juga: Koalisi Permanen atau Demokrasi Mandek? Pernyataan Bahlil untuk Prabowo 2029 Tuai Sorotan Tajam
Kekurangan ini, menurutnya, berpotensi menghambat percepatan ekonomi nasional dan mengurangi daya saing Indonesia dalam perebutan investasi global.
Pernyataan tersebut disampaikan dengan sangat lugas.
Purbaya memaparkan data yang menunjukkan betapa kecilnya kapasitas produksi lulusan sains dan teknik Indonesia jika dibandingkan negara lain.
“Indonesia cuma bisa produksi sekitar 250.000 lulusan STEM per tahun Tiongkok itu 4,5 juta, India 2–2,5 juta.”
Kesenjangan ini menggambarkan ancaman nyata. Sementara negara kompetitor memperluas kapasitas riset dan teknologi.
Indonesia masih berkutat pada kekurangan tenaga ahli untuk kebutuhan industri strategis seperti elektronik, energi hijau, pertahanan, hingga manufaktur kendaraan listrik.
Baca Juga: Koalisi Permanen atau Demokrasi Mandek? Pernyataan Bahlil untuk Prabowo 2029 Tuai Sorotan Tajam
Ekonom Berkualitas: Barang Langka di Indonesia
Krisis talenta tidak hanya terjadi pada bidang teknologi. Purbaya mengungkap fakta yang lebih mengejutkan saat menceritakan pengalaman menangani krisis COVID19.
Ia menyampaikan bahwa Presiden dan Menko Luhut pernah bertanya:
“Pur, kenapa cuma kamu yang tahu?”
Pertanyaan itu menjadi refleksi besar Indonesia kekurangan ekonom berkualitas yang mampu memberi masukan berbasis riset dan analisis mendalam.
Ia lalu menyimpulkan “Poinnya adalah memang kita masih kurang orang pintar.”
Baca Juga: Koalisi Permanen atau Demokrasi Mandek? Pernyataan Bahlil untuk Prabowo 2029 Tuai Sorotan Tajam
Kekurangan ekonom ini bukan sekadar isu kelembagaan, tetapi masalah fundamental.
Di masa krisis, negara membutuhkan banyak pengambil keputusan yang paham dinamika makroekonomi, moneter, dan fiskal.
Jika hanya segelintir orang yang menguasai persoalan tersebut, risiko salah kebijakan menjadi semakin besar.
Baca Juga: Geger Mahfud MD Ungkap Fakta! TNI Ambil Alih Penertiban Hutan, Polisi Disebut Menghalangi
Upaya Mencetak Ekonom Baru Gagal Karena Gen Z Enggan Ambil Risiko.
Lebih mengejutkan lagi, inisiatif Purbaya untuk mencetak ekonom baru ternyata gagal total.
Ia membuka peluang bagi talenta muda untuk langsung melanjutkan studi S3 ekonomi dengan pembiayaan penuh, tetapi tidak ada yang mendaftar.
“Saya tawarin enggak ada yang daftar satu pun.”
Penyebabnya, menurut Purbaya, sebagian generasi muda kini memiliki kecenderungan menghindari risiko pendidikan jangka panjang.
“Mereka Gen Z enggak mau ambil risiko.”
Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan talenta bukan hanya soal pendidikan dan kapasitas kampus
Tetapi juga perubahan nilai, persepsi risiko, dan preferensi generasi baru terhadap karier.
Talenta Minim, Investasi Terhambat
Kekurangan talenta terbukti langsung berdampak pada industri. Purbaya mencontohkan bagaimana produsen iPhone, Pegatron.
Sempat mempertimbangkan pemindahan kapasitas produksi ke Indonesia.
Baca Juga: Ratusan Ribu Guru Masuk PPG, Apakah Mutu Pendidik Naik atau Hanya Mengejar Tunjangan?
Namun ketika mereka meminta sekitar 150 insinyur elektro, pasokan dalam negeri hampir tidak ada.
Situasi ini menyebabkan peluang investasi bernilai miliaran dolar terancam batal. Kondisi serupa juga terjadi pada sektorsektor lain yang membutuhkan spesialis.
Solusi: Perkuat LPDP, Kerja Sama Kampus Dunia, dan Dorong Industri
Baca Juga: Koalisi Permanen atau Demokrasi Mandek? Pernyataan Bahlil untuk Prabowo 2029 Tuai Sorotan Tajam
Untuk mengatasi krisis talenta, Purbaya menegaskan bahwa negara harus mengambil langkah progresif.
Memperkuat LPDP, memperluas kerja sama dengan universitas top seperti MIT, Stanford, Harvard, Oxford, Tsinghua.
Dan meningkatkan kapasitas magang nasional dari 20.000 hingga 100.000 peserta.
Namun ia menekankan bahwa pasokan talenta saja tidak cukup. Industri juga harus tumbuh agar lulusan berkualitas dapat terserap dan tidak menganggur.
Purbaya menutup pesannya dengan optimisme bahwa Indonesia bisa mengejar ketertinggalan, selama persoalan talenta ditangani serius.***




