POJOKSATU.id - Puluhan keluarga korban bencana banjir bandang di Desa Hutagodang, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, mulai diliputi kecemasan.
Pasalnya hingga kini mereka belum mendapatkan kejelasan terkait nasib mereka ke depan.
Termasuk terkait perbaikan rumah-rumah mereka yang rusak diterjang banjir besar.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Seperti yang diungkap Heni kepada Gerakan Anak Negeri, salah seorang warga sejak bencana menghuni pengungsian di Kecamatan Batang Toru.
Sejak bencana banjir memporak-porandakan rumah, ia bersama suami dan anaknya yang berusia 11 tahun tinggal di pengungsian.
Banjir besar yang melanda Tapanuli Selatan tidak hanya memaksa mereka meninggalkan rumah.
Tetapi juga menghentikan aktivitas sehari-hari, termasuk pendidikan anak-anak.
"Sekitar dua minggu kami ngungsi di sini. Sama keluarga, suami dan anak," ujar Heni kepada Gerakan Anak Negeri, di lokasi pengungsian, Senin 15 Desember 2025.
Akibat banjir, sekolah anak Heni terpaksa diliburkan.
Baca Juga: Prabowo Marah, Pejabat Diminta Hentikan Aksi Pencitraan dan Foto-foto di Lokasi Bencana
Selain bangunan sekolah yang rusak, seluruh perlengkapan sekolah ikut hanyut terbawa arus.
"Pakaian sekolah, buku-buku, sepatu, semuanya sudah tidak ada lagi," katanya.
Di lokasi pengungsian tersebut, terdapat sekitar 24 keluarga yang kini hidup berdampingan dalam satu tempat.
Meski kebutuhan makan dan minum relatif terpenuhi, namun persoalan utama justru berada pada kondisi rumah warga yang mengalami kerusakan parah.
"Rumah kami sudah tidak bisa ditempati. Belum bisa dibersihkan sampai sekarang," kata dia.
"Di dalam rumah masih banyak barang, tapi kami tidak tahu masih bisa dipakai atau tidak, karena lumpurnya di atas lutut," sambungnya.
Heni menggambarkan kondisi rumahnya yang nyaris rata dengan tanah.
Kayu-kayu besar terbawa arus masuk ke dalam rumah, tembok belakang hancur hingga ke depan, dan dinding bagian depan lenyap.
Baca Juga: 1.022 Meninggal, 206 Hilang, Majelis Ulama Aceh Desak Prabowo Tetapkan Bencana Nasional di Sumatera
"Yang tersisa cuma dinding samping dan atap. Selebihnya sudah tidak bisa dipakai lagi," beber dia.
Lantaran berada di pengungsian, persoalan lain harus mulai dihadapi.
Heni yang memiliki riwayat asma mengaku sering terserang batuk selama berada di pengungsian.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
"Kalau di rumah dulu tidak separah ini. Di sini rata-rata pada batuk, jadi saya yang punya asma lebih gampang kena," ucapnya.
"Sudah dua minggu batuk-batuk, obat sudah banyak diminum, tapi belum sembuh," lanjut Heni.
Anak-anak di pengungsian pun tak luput dari masalah kesehatan.
"Ada yang batuk-batuk, ada yang demam," tambah Heni.
Meski demikian, ia bersyukur kondisi pengungsian relatif tertutup sehingga tidak terlalu dingin saat malam hari.
Selimut memang tersedia, meski tipis, dan warga tidur seadanya.
Baca Juga: Bantuan Asing ke Sumatera Bukanlah Aib, Kemanusiaan Tak Dibebani Harga Diri dan Batas Negara
Heni berharap situasi segera membaik dan kehidupan dapat kembali normal.
"Harapan kami cepat pulih, cepat seperti dulu lagi. Damai, nyaman, aman, dan tenang," pungkasnya.
Hingga kini, warga Hutagodang belum mendapatkan kepastian perbaikan rumah rusak dan pemulihan pascabencana.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Mereka berharap bisa secepatnya kembali ke rumah masing-masing dan menjalani hidup seperti sedia kala.***




