POJOKSATU.id– Gelombang reaksi keras dari publik akhirnya menggiring Ketua DPR RI, Puan Maharani, turun langsung memberikan teguran kepada Kepala BNPB, Letjen Suharyanto.

Semua bermula dari pernyataannya yang menyebut bahwa banjir besar di Sumatera “hanya mencekam di media sosial”.

Di tengah situasi bencana yang menelan ratusan korban jiwa dan merusak infrastruktur vital, ucapan itu langsung memantik kemarahan warga.

Baca Juga: Terungkap! Banjir Maut Sumatra Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem, Teddy Akui Ada Jejak Pembalakan Liar

Meski Suharyanto sudah meminta maaf, Puan menilai komentar tersebut tidak tepat diucapkan oleh pejabat negara pada saat masyarakat sedang dilanda krisis.

Menurutnya, kepekaan adalah modal utama pemimpin ketika menghadapi tragedi kemanusiaan.

“Pada saat ini lebih baik kita bisa berempati. Jangan memberikan komentar yang tidak seharusnya diberikan,” ujar Puan kepada wartawan dilansir beritasatu.com (4/12/2025).

Baca Juga: Penanganan Daerah Terisolasi: Kementerian Sosial Intensifkan Bantuan Pasca Bencana Sumatera

Puan menegaskan bahwa bencana alam tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis yang panjang.

Ribuan keluarga kehilangan rumah, anak-anak mengalami trauma, dan banyak warga kini bertahan di pengungsian dengan kondisi serba terbatas.

Karena itu, ia menekankan bahwa pejabat negara seharusnya fokus pada aksi nyata di lapangan, bukan memberikan komentar yang menimbulkan kegaduhan baru.

Baca Juga: Bantuan Rp1,5 T dari Bank Dunia untuk Kota Medan Ramai Dipertanyakan, Rico Waas: Bukan Kami yang Kelola

“Jadi sebaik-baiknya apa yang bisa dilakukan, sebaik-baiknya kita perlu berikan bantuan,” kata Puan.

Sementara itu, Suharyanto memberikan klarifikasi dengan nada penyesalan.

Ia mengaku terkejut dengan skala kerusakan akibat banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ia kembali menegaskan bahwa BNPB tidak pernah bermaksud meremehkan situasi.

“Saya surprise, saya tidak mengira sebesar ini. Saya tidak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati. Bukan berarti kami tak peduli,” kata Suharyanto depan awak media

Baca Juga: Penting! Aturan Baru Sistem Kelulusan PPPK 2025, Prioritas, Peringkat Terbaik, Hingga Mekanisme CAT, SKTT, dan Psikotes

Namun kenyataan di lapangan berbicara lebih lantang. Bencana yang berlangsung beberapa hari terakhir menimbulkan dampak destruktif luar biasa ratusan korban meninggal dunia.

Ratusan lainnya masih hilang, sementara ribuan orang terpaksa mengungsi.

Rumah warga tersapu banjir, jembatan vital runtuh, hingga sejumlah wilayah terisolasi karena akses jalan terputus.

Di tengah kondisi tersebut, kritik Puan muncul sebagai peringatan bahwa komunikasi pejabat negara harus selaras dengan duka masyarakat.

Baca Juga: Penting! Aturan Baru Sistem Kelulusan PPPK 2025, Prioritas, Peringkat Terbaik, Hingga Mekanisme CAT, SKTT, dan Psikotes

Para pengamat menilai teguran ini menunjukkan bahwa pemerintah harus lebih berhati-hati dan mengutamakan empati saat berbicara mengenai bencana besar.

Kepercayaan publik dapat tergerus jika narasi yang disampaikan tidak menggambarkan keseriusan penanganan.

Saat ini, pemerintah pusat bersama daerah terus mempercepat proses evakuasi, pencarian korban, distribusi bantuan logistik.

Baca Juga: Terungkap! Banjir Maut Sumatra Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem, Teddy Akui Ada Jejak Pembalakan Liar

Pembangunan hunian darurat, hingga pemulihan akses vital.

Dengan sorotan publik menguat, langkah pemerintah diuji apakah mampu bergerak cepat sekaligus menjaga kepekaan sosial.***