POJOKSATU.id -- Sampah organik, terutama sampah makanan, telah menjadi permasalahan lingkungan yang semakin mendesak di berbagai kota besar, termasuk di Bogor.
Setiap tahunnya, jutaan ton sampah makanan terbuang sia-sia, menyebabkan berbagai masalah seperti pencemaran lingkungan dan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim.
Namun, di balik masalah ini, terdapat potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan tepat.
Melihat permasalahan ini, tim pengabdian masyarakat Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kesatuan Bogor yang terdiri dari 3 dosen dan 2 mahasiswa dari dari lintas program studi, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) Pemanfaatan Limbah Organik untuk Pembiakan Maggot sebagai Langkah Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Melalui Pemberdayaan Masyarakat di RW 07 Ciparigi Indah, Bogor.
Baca Juga: Gentza Haydar Arskha Mahendra: Bocah Asal Karawang yang Bersinar di Bupati Cup 2024
“Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, tahun 2024. Pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan komitmen yang kuat dari IBI Kesatuan untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung kesejahteraan masyarakat lokal melalui program pemberdayaan berbasis lingkungan”, ujar Budi Setiawan sebagai Ketua Tim PkM IBI Kesatuan.
Dengan memanfaatkan limbah organik untuk pembiakan maggot, inisiatif ini tidak hanya membantu mengatasi masalah sampah, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan terhadap ekonomi lokal.
Budidaya maggot menjadi solusi yang tidak hanya mengurangi volume sampah organik, tetapi juga menciptakan produk bernilai ekonomis.
Baca Juga: Gentza Haydar Arskha Mahendra: Bocah Asal Karawang yang Bersinar di Bupati Cup 2024
Program ini diawali dengan identifikasi permasalahan dan kebutuhan di lapangan melalui wawancara dengan pengurus Saung Maggot di RW 07 Ciparigi Indah.
Dari hasil wawancara, tim menemukan beberapa tantangan utama yang perlu diatasi. Pertama, kurangnya pemahaman dari pengurus, akan tata Kelola (manajemen) organisasi dari Saung Maggot, agar dapat berjalan efektif dalam mencapai tujuan.
Kedua, pencatatan keuangan masih dilakukan secara manual dan belum disiplin. Ketiga, pemasaran produk Maggot masih sangat sederhana dan belum memanfaatkan teknologi digital.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim IBI Kesatuan merancang solusi komprehensif. Tim PkM memberikan pendampingan intensif akan manajemen organisasi dari Saung Maggot.
Pendampingan ini memberikan manfaat signifikan, yakni peningkatan efisiensi operasional dan kapasitas manajemen, pengelolaan keuangan yang lebih transparan, serta pengembangan keterampilan kepemimpinan.
Selain itu, kegiatan ini juga membantu organisasi dalam merancang strategi keberlanjutan yang solid, memperkuat motivasi dan semangat kerja anggota, serta membangun jaringan kerjasama yang lebih baik.
Kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman pengelola akan teknik budidaya Maggot yang efektif, siklus hidup maggot dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan larva, sehingga produksi Maggot dapat berjalan optimal dan konsisten.
Untuk mengatasi masalah kontinuitas pasokan sampah olahan dapur, tim PkM bersama Ketua RW 07 Ciparigi Indah, melakukan sosialisasi kepada warga, untuk memilah sampah organik olahan dapur yang akan diambil oleh petugas dari Saung Maggot.
Selain itu, pengadaan alat-alat teknologi tepat guna seperti mesin pencacah sampah dan oven pengering Maggot dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas proses produksi.
Revitalisasi bilik pengembangbiakan lalat BSF juga dilakukan dengan mengganti atap bilik menggunakan material bening yang memungkinkan cahaya matahari masuk secara optimal.
Mengingat pentingnya pemasaran dalam memperluas jangkauan pasar, tim IBI Kesatuan membantu pengelola Saung Maggot Ciparigi dalam pembuatan website yang terintegrasi dengan media sosial.
“Website ini dirancang dengan fitur-fitur modern yang memungkinkan konsumen untuk mengakses informasi dan melakukan pemesanan secara online. Selain itu, pelatihan digital marketing juga diberikan untuk memaksimalkan potensi pemasaran online melalui platform seperti Instagram dan TikTok”, ujar Septian Cahyadi, anggota tim PkM IBI Kesatuan.
Untuk mempermudah pengelolaan keuangan dan meningkatkan transparansi, tim mengembangkan aplikasi laporan keuangan yang dirancang khusus untuk Saung Maggot Ciparigi.
“Aplikasi ini memungkinkan pengelola untuk mencatat dan memantau transaksi keuangan secara real-time, sehingga memudahkan dalam perencanaan anggaran dan pengambilan keputusan yang lebih tepat”, ujar Muanas, yang juga anggota dari tim PkM IBI Kesatuan.
Implementasi program ini telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat RW 07 Ciparigi Indah. Dalam aspek produksi, adanya bantuan alat teknologi tepat guna telah meningkatkan kapasitas produksi Maggot secara signifikan.
Dengan pasokan bahan baku yang lebih stabil dan teknologi yang lebih efisien, produksi maggot di Saung Maggot Ciparigi kini secara bertahap mulai mengalami peningkatan.
Di bidang pemasaran, pembuatan website dan pelatihan digital marketing telah membantu pengelola Saung Maggot Ciparigi dalam memperluas jangkauan pasar. Produk Maggot kini lebih dikenal luas, dan penjualan produk Maggot kering menjadi dapat direalisasikan.
Dengan dukungan aplikasi laporan keuangan, pengelola juga dapat mengelola keuangan usaha dengan lebih transparan dan akuntabel, yang pada akhirnya mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
Keberhasilan program ini membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut. Tim IBI Kesatuan berencana untuk terus mendampingi Saung Maggot Ciparigi dalam memperluas jaringan kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan sektor swasta.
Selain itu, diversifikasi produk Maggot juga menjadi salah satu fokus pengembangan di masa depan, dengan mengembangkan produk-produk turunan seperti pakan ikan atau pupuk organik yang memiliki nilai tambah tinggi.
Pemantauan dan evaluasi berkala terhadap implementasi teknologi dan aplikasi keuangan juga akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa semua alat yang diberikan dapat terus memberikan manfaat optimal.
Dengan dukungan yang terus berlanjut, Saung Maggot Ciparigi diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang sukses dan inspiratif bagi daerah lain.
Program PkM yang dilakukan oleh tim IBI Kesatuan di RW 07 Ciparigi Indah menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat dan dukungan teknologi, masalah lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan. Inisiatif ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi warga setempat, tetapi juga berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan yang lebih luas. Teddy Mahendra sebagai ketua RW 07 Ciparigi Indah memberikan apresiasi dan dukungannya kepada tim PkM IBI Kesatuan, yang telah melaksanakan kegiatan PkM dengan baik di wilayahnya.
Sementara Satya Budiavianto sebagai sekretaris Saung Maggot mengucapkan terimakasih kepada DRTPM Kemendikbudristek dan IBI Kesatuan, atas bantuan teknologi tepat guna, pendampingan dan pelatihan yang diberikan, dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, melalui budidaya Maggot.
“Ke depan, diharapkan program ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif yang lebih besar bagi masyarakat. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, IBI Kesatuan akan terus berkomitmen untuk mendukung kesejahteraan masyarakat melalui program-program pemberdayaan yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya lokal dan teknologi tepat guna”, ujar R. Aang Munawar sebagai Ketua Lembaga Penelltian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IBI Kesatuan.
Kegiatan PkM ini juga memberikan pengalaman praktis yang berharga bagi mahasiswa dalam mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Melalui keterlibatan langsung dalam program ini, mahasiswa yang terlibat, yakni Amanda Marsha Andinna dan Julis Taslim, dapat menerapkan ilmu yang mereka pelajari di kelas.
Mereka terlibat dalam berbagai aspek, termasuk perencanaan strategi, pelatihan digital marketing, dan pengelolaan keuangan, yang semuanya memperkaya kompetensi dan keterampilan praktis mereka. Dengan demikian, kegiatan ini membantu mahasiswa mengembangkan soft skills dan hard skills, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi lulusan yang lebih siap kerja dan berdaya saing tinggi.
Program ini adalah bukti nyata bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil di komunitas lokal. “Dengan semangat dan kerja keras bersama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik dan ekonomi yang lebih sejahtera bagi semua. Semoga kegiatan PkM ini bermanfaat bagi masyarakat luas, dan secara berkesinambungan dapat terus dilaksanakan pada daerah lainnya, khususnya di sekitar area domisili IBI Kesatuan di Bogor”, ujar Budi Setiawan.



