POJOKSATU.ID - Kondisi Aceh Tamiang yang baru saja diterjang banjir besar menyisakan luka mendalam bagi warganya.

Ketika sebagian masyarakat masih bergelut dengan lumpur, reruntuhan rumah, hingga kehilangan anggota keluarga.

Emosi kembali tersulut oleh pemandangan yang membuat dada sesak truk-truk pengangkut sawit tetap berlalu-lalang tanpa jeda, seolah tidak terjadi apa-apa.

Baca Juga: Ramai Pemerintah Tolak Bantuan Asing, Ketua DPD Blak-blakan Soal Harga Diri Bangsa, Kenapa Harus Malu?

Sepanjang perjalanan menuju kawasan Pulau Tiga, hamparan kebun kelapa sawit terbentang seluas mata memandang. Pemandangan itu biasanya menjadi hal biasa di daerah penghasil sawit.

Namun kali ini, di tengah situasi darurat dan kondisi warga yang porak-poranda, keberadaan truk sawit justru terasa sebagai ironi yang sulit ditelan.

Di antara tumpukan lumpur tebal yang menutupi jalan, sisa-sisa bangunan yang rusak. Dilansir dari inilah.com

Baca Juga: Polda Lampung Hentikan Penyelidikan Bongkahan kayu di Pesisir Barat, karena Tak Ada Unsur Pidana

Serta warga yang masih sibuk mengumpulkan barang yang tersisa, sebuah truk bermuatan tandan sawit terlihat melintas tanpa keraguan sedikit pun.

Suara mesinnya memecah keheningan dan menyisakan rasa perih di hati warga yang menyaksikannya.

Bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, ternak, dan kerabat, pemandangan itu terasa seperti tamparan keras.

Baca Juga: Ujung Zulfa

Di saat banyak keluarga belum sempat beristirahat dari kepungan banjir, aktivitas pengangkutan sawit berjalan seperti biasa, tanpa jeda atau penyesuaian situasi.

Sebagian warga menyayangkan kurangnya empati dari pihak-pihak yang tetap memprioritaskan operasional bisnis di tengah masa krisis kemanusiaan yang begitu berat.

Ia menambahkan bahwa semestinya ada penghormatan terhadap situasi warga yang masih berjuang memulihkan keadaan, bukan malah melihat kendaraan besar melintas seolah tragedi hanya milik sebagian orang.

Baca Juga: Berkaca dari bencana Pulau Sumatera, warga Cianjur menolak pembangunan PLTP Geothermal di Gunung Gede Pangrango

Di beberapa titik, warga terlihat masih memindahkan barang-barang yang berhasil diselamatkan.

Anak-anak membantu orang tua mengeluarkan lumpur dari dalam rumah, sementara relawan sibuk mendistribusikan makanan dan bantuan darurat.

Kontras dengan itu, truk sawit terus lewat, menekankan betapa tajamnya perbedaan prioritas antara warga terdampak dan pelaku usaha.

Meski belum ada keterangan resmi mengenai alasan operasional truk sawit tetap berlangsung, warga menilai bahwa aktivitas itu semestinya dihentikan sementara hingga kondisi benar-benar pulih.

Baca Juga: Soft Launching Dihadiri Mantan Irjen Kemenkumham, Pemred Hallonews Tegaskan Komitmen Menyapa dengan Fakta

Selain mengganggu proses pemulihan, truk besar juga dikhawatirkan memperparah kerusakan jalan yang masih tertutup lumpur dan puing.

Aceh Tamiang hingga kini masih dalam fase pemulihan. Sejumlah posko terus dibuka, sementara relawan dan warga bekerja bersama menata kembali kehidupan yang sempat hancur oleh banjir.

Namun bagi banyak warga, pemandangan truk sawit melintas di tengah derita mereka akan menjadi kenangan pahit yang sulit dilupakan.***