POJOKSATU.id - Kondisi Pazwa Pahaludin (15), siswa SMA di Kabupaten Garut, Jawa Barat, membuat keluarganya diliputi kecemasan.
Sebuah benda berbentuk logam masih tertanam di bola mata kirinya setelah ia diduga terkena tembakan airgun saat berada di sebuah vila.
Kini, keluarga Pazwa masih menunggu tindakan medis berikutnya.
Benda asing tersebut harus segera ditangani karena menyangkut kondisi penglihatan remaja tersebut.
Di tengah situasi itu, Fitri Setiwati, ibu Pazwa, tak kuasa menahan tangis.
Baca Juga: Prabowo Resmikan 204 Satuan TNI di HUT ke-81, Enam Kodam Baru Resmi Berdiri
Ia berharap anaknya bisa segera menjalani operasi sekaligus meminta aparat menangkap pihak yang diduga melakukan penembakan.
"Tolong bapak, saya minta supaya anak saya cepat dioperasi untuk tindakan selanjutnya, supaya peluru yang ada di bola mata anak saya supaya cepat diangkat," tuturnya.
Fitri juga menyampaikan permohonan kepada pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar ikut membantu proses pengobatan anaknya.
"Izin Pak Bupati, Pak Gubernur, saya minta keadilan buat anak saya karena sampai saat ini juga pelakunya masih belum tertangkap," ungkapnya.
Baca Juga: Mitra Keracunan
Kasus ini sendiri sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian.
Fitri menyebut penyidik juga telah meminta keterangan dari sejumlah saksi yang mengetahui kejadian tersebut.
"Kemarin ada penyidik, alhamdulillah ada saksi juga yang menyaksikan langsung saat anak saya ditembak," ungkapnya.
Kejadian bermula pada Sabtu, 26 September 2026, ketika Pazwa bersama sejumlah teman sekolahnya menghabiskan waktu di sebuah vila untuk berlibur.
Saat itu, seorang remaja berinisial H datang ke lokasi.
Baca Juga: Yamaha Gear Ultima Tembus 57,63 Km/Liter di Ekspedisi Sulawesi, Segini Jarak dalam Sekali Isi
H disebut pernah menjadi kakak kelas Pazwa ketika keduanya masih duduk di bangku SMP.
Namun, H diketahui sudah tidak bersekolah setelah dikeluarkan atau drop out saat masih SMP.
Menurut Fitri, H bukan bagian dari rombongan yang diundang untuk kegiatan tersebut.
"Katanya anak saya habis renang, terus tiba-tiba datanglah inisial H itu. Dia tidak ada di daftar list, H itu kayak tamu yang tak diundang," ujarnya.
Situasi kemudian berubah ketika H disebut membawa senjata ke lantai atas vila.
Baca Juga: Bandung Jadi Panggung Sinema Dunia, BWC 2026 Hadirkan 207 Film dari 69 Negara
Di tempat tersebut, senjata diduga diarahkan dan ditembakkan kepada beberapa orang.
Seorang teman Pazwa yang berada di lokasi bahkan disebut mengalami luka di bagian pinggang akibat tembakan.
"Teman anak saya yang saksi juga jadi korban. Dia langsung melakukan lagi, terus mengarahkan senjata itu ke anak saya sampai kena ke bola mata anak saya," ungkapnya.
Setelah kejadian, Pazwa tidak langsung mengatakan kepada keluarganya bahwa mata kirinya terkena tembakan.
Ia justru menyampaikan bahwa dirinya mengalami luka karena terkena bola.
Baca Juga: Jember Perpanjang Penghapusan Denda Pajak Daerah Hingga 31 Desember 2026, Cukup Bayar Pokoknya Saja
Fitri mengatakan, anaknya diduga memilih menyembunyikan kejadian sebenarnya setelah mendapat perintah dari terduga pelaku agar tidak menceritakan insiden tersebut kepada siapa pun.
Kondisi Pazwa kemudian diperiksa di Rumah Sakit Mata Cicendo.
Dokter menemukan adanya kejanggalan karena informasi awal menyebut mata korban terkena bola.
"Pertama anak saya sudah di RS Cicendo, dokter melakukan tes, ada kejanggalan karena dari informasi awal anak saya kena bola," kata Fitri.
Pemeriksaan rontgen selanjutnya mengungkap keberadaan benda asing berbentuk logam yang berada di dalam bola mata kiri Pazwa.
Pemeriksaan ulang juga dilakukan oleh tim medis untuk memastikan temuan tersebut.
Dari situlah keluarga mengetahui bahwa luka yang dialami Pazwa bukan sekadar akibat terkena bola seperti yang sebelumnya disampaikan.
Fitri mengatakan komunikasi dengan pihak yang diduga sebagai pelaku sempat berlangsung setelah Pazwa pulang dari rumah sakit.
Namun, pihak tersebut disebut tetap tidak mengakui kejadian hingga akhirnya komunikasi terputus.
"Sepulang dari RS, terduga pelaku ini juga sempat komunikasi sama saya, dia tetap tidak mengakui. Tapi sekarang komunikasi itu sudah terputus," ungkapnya.
Pazwa akhirnya membuka cerita sebenarnya setelah ayahnya datang ke rumah sakit.
Dalam percakapan empat mata, remaja tersebut mengungkap apa yang terjadi pada mata kirinya.
"Anak saya mengakui bahwa matanya itu bukan kena bola plastik, tapi ditembak sama berinisial H," ungkapnya.
Bagi Fitri, persoalan yang kini dihadapi keluarganya terasa begitu berat.
Selain menunggu kepastian tindakan medis, ia juga masih dihantui ketakutan terhadap masa depan penglihatan anaknya.
"Kalau pun bisa biar bola mata saya saja yang diambil, jangan mata anak saya," kata Fitri saat ditemui, Minggu 4 Oktober 2026.
Pihak keluarga kini berharap operasi dapat segera dilakukan dan proses hukum terhadap dugaan penembakan tersebut berjalan.
Mereka ingin Pazwa mendapatkan kesempatan untuk kembali menjalani aktivitas seperti sebelumnya tanpa harus terus dibayangi kondisi matanya.***




