POJOKSATU.id - Hasil pengujian di permukaan bandara yang menunjukkan tidak adanya abu vulkanik ternyata belum otomatis membuat aktivitas penerbangan bisa kembali normal.
Ada alasan penting di balik keputusan otoritas untuk tetap memperpanjang penutupan sejumlah bandara.
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak hanya perlu dipastikan bersih dari permukaan bandara.
Kondisi ruang udara di sekitar jalur penerbangan juga harus benar-benar dinyatakan aman.
Hal inilah yang membuat hasil paper test negatif belum menjadi satu-satunya dasar untuk membuka kembali operasional bandara.
Baca Juga: Tiga Bandara Kembali Beroperasi, Apa yang Berubah Setelah Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau?
Menurut pengamat penerbangan Alvin Lie, pengujian menggunakan kertas putih atau paper test dilakukan di sejumlah titik untuk mengetahui apakah masih terdapat material abu yang jatuh di area bandara.
Pengujian tersebut bahkan dapat mendeteksi abu yang tidak terlihat secara kasatmata.
“Apabila terdeteksi masih ada abu di sana, walaupun tidak terlihat kasatmata, berarti masih ada abu yang jatuh di bandara tersebut. Selama masih ada abu, tentunya wilayah udara tersebut masih dinilai berisiko tinggi,” kata Alvin Lie saat dihubungi melalui Whatsapp, Senin 7 September 2026.
Karena itu, satu kali hasil negatif belum cukup.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Abu Vulkanik, Mata dan Pernapasan Harus Dilindungi
Pengujian perlu dilakukan berulang untuk memastikan kondisi tersebut benar-benar konsisten.
Jika hasilnya tetap negatif selama beberapa jam, barulah tahapan berikutnya dapat dilakukan.
“Ketika hasil tes di kertas itu menunjukkan negatif, tidak lagi ada abu vulkanik, dan diulang beberapa kali dalam waktu mungkin empat hingga enam jam dan ternyata konsisten sudah tidak ada abu, maka pihak bandara akan melakukan pembersihan dulu,” tuturnya.
Runway Bukan Satu-satunya yang Harus Dibersihkan
Baca Juga: STPN Resmi Berubah Menjadi Politeknik Agraria STPN, Buka Tiga Program Studi Baru
Setelah abu tidak lagi terdeteksi secara konsisten, pekerjaan belum selesai.
Fasilitas sisi udara harus dibersihkan sebelum penerbangan kembali berjalan.
Area yang diperiksa dan dibersihkan mencakup runway, taxiway, apron, bahkan bagian rumput di sekitar bandara.
Abu yang tersisa di permukaan bisa kembali beterbangan ketika terkena hembusan angin.
“Landasan pacu, taxiway, bahkan bagian rumput itu juga harus disiram air untuk memastikan bahwa abu vulkanik tidak akan bertebaran ketika terkena angin,” ujar Alvin.
Pesawat pun membutuhkan perlakuan serupa.
Baca Juga: MBG di Sejumlah Wilayah Dihentikan Sementara akibat PJJ, BGN Tegaskan Bukan Penghentian Permanen
Armada yang berada di area terdampak selama penutupan bandara harus diperiksa dan dibersihkan terlebih dahulu sebelum kembali digunakan untuk penerbangan.
“Demikian juga maskapai-maskapai penerbangan membutuhkan waktu beberapa jam untuk membersihkan pesawat yang tubuhnya sudah tertutup debu vulkanik selama bandara ditutup. Itu harus dibersihkan dulu sebelum pesawat dioperasikan,” ujarnya.
Dengan demikian, proses pembukaan bandara memang tidak sesederhana menunggu abu menghilang dari pandangan.
“Nah, kalau sudah memang konsisten pasti tidak ada lagi abu vulkanik, pembersihan selesai, baru bandara dibuka kembali.”
Baca Juga: Kemenag Terbitkan Surat Edaran PJJ akibat Abu Vulkanik, Simak Kebijakan Lengkapnya
BMKG Pantau Abu hingga Ketinggian 15.000 Kaki
Kondisi di udara juga menjadi perhatian serius.
BMKG mencatat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026, bergerak ke arah barat.
SIGMET terbaru yang berlaku pukul 06.30 hingga 09.30 WIB mencatat abu vulkanik teramati hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer.
Kecepatannya sekitar 15 knot dengan intensitas yang masih konsisten.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan pola angin berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 menunjukkan kecenderungan memperluas sebaran abu ke arah barat.
“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” ujar Andri.
BMKG juga mencatat abu pada lapisan permukaan hingga 15.000 kaki meluas ke arah barat daya hingga barat laut.
Wilayah yang terdampak mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, Bengkulu, perairan sekitarnya, hingga Samudra Hindia di sebelah barat.
Pada lapisan yang lebih tinggi, dari permukaan hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer, abu teramati lebih jauh menuju Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Baca Juga: OMI 2026 Diikuti 230 Ribu Peserta, Meningkat 12,7 Persen dari Tahun Lalu
Sebagian sebaran pada lapisan tersebut bergerak menjauhi wilayah Indonesia.
Sejak erupsi pertama pada 4 September 2026, BMKG telah menerbitkan 39 dokumen Significant Meteorological Information (SIGMET) terkait kondisi tersebut.
Delapan Bandara Sempat Ditutup
Hasil monitoring BMKG juga menunjukkan adanya indikasi abu vulkanik di sejumlah bandara.
Paper test pada pukul 07.00 WIB mengonfirmasi indikasi positif keberadaan abu vulkanik.
Kondisi tersebut kemudian menjadi bagian dari pertimbangan penerbitan NOTAM oleh AirNav Indonesia.
Baca Juga: Daftar Kampus yang Terapkan PJJ akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau, Mulai dari UI hingga ITERA
Pada pembaruan awal, delapan bandara di Jawa dan Sumatra terdampak penghentian sementara operasional penerbangan hingga pukul 18.00 WIB.
Bandara yang terdampak saat itu mencakup Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto, Pondok Cabe, Muhammad Taufiq Kiemas, serta Atungbusu.
Sementara dalam pembaruan AirNav Indonesia berikutnya, tujuh bandara masih berstatus closed hingga estimasi pukul 23.59 WIB pada 7 September 2026.
Ketujuhnya adalah Bandar Udara Halim Perdanakusuma (HLP), Radin Inten II (TKG), Husein Sastranegara (BDO), Budiarto (RTO), Pondok Cabe (PCB), Muhammad Taufiq Kiemas (WILP), serta Salakanagara Tanjung Lesung (WIHI).
Baca Juga: Tampilkan Karya Terbaikmu! WJJC 2026 Hadir sebagai Ajang Apresiasi Wartawan Jawa Barat
AirNav Indonesia menyebut penyesuaian status tersebut merupakan langkah mitigasi dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik.
"Penyesuaian status operasional bandar udara tersebut merupakan langkah mitigasi untuk mendukung keselamatan penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," kata EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro, dalam keterangan tertulis, Senin 7 September 2026.
AirNav juga terus memantau perkembangan ruang udara dan memperbarui informasi aeronautika berdasarkan kondisi aktual serta aspek keselamatan penerbangan.
Baca Juga: PDIP Jember Tolak Rencana Pinjaman Rp786 Miliar, Pilih Walkout dari Paripurna KUA-PPAS 2027
"AirNav Indonesia juga terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan penerbangan untuk memastikan informasi mengenai kondisi ruang udara dan pelayanan navigasi penerbangan tersampaikan secara tepat waktu," tutup Hermana.
Mengapa Penutupan Tetap Diperpanjang?
Kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan Kementerian Perhubungan ketika memperpanjang penutupan operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Meski paper test di bandara menunjukkan hasil negatif, keputusan untuk belum membuka penerbangan dilakukan dengan pendekatan konservatif.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menilai arah angin yang dinamis membuat kondisi ruang udara tetap harus diperhatikan.
“Kenapa kami bersikap konservatif, karena sebagaimana kita ketahui arah angin sangat dinamis. Kita ingin memastikan betul bahwa debu vulkanik ini menjauh dari lokasi bandara yang ada di sekitar Gunung Anak Krakatau,” ujar Dudy saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Senin sore.
Data Darwin Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) juga menjadi salah satu rujukan dalam memantau pergerakan abu vulkanik di ruang udara.
Artinya, kondisi tanah dan kondisi udara harus sama-sama aman sebelum koridor penerbangan kembali digunakan.
Pengelola bandara juga membutuhkan waktu untuk memeriksa serta membersihkan runway, taxiway, dan apron.
Di sisi lain, maskapai harus memastikan pesawat yang berpotensi terkena paparan debu vulkanik sudah dibersihkan dan siap dioperasikan.
“Penutupan akan diperpanjang sampai pukul 24.00 WIB,” ujar Dudy.
“Perpanjangan dilakukan untuk memberikan waktu bagi pengelola bandara membersihkan runway, taxiway, dan apron, serta memberi kesempatan maskapai membersihkan armada dari sisa debu vulkanik. Keselamatan tidak bisa ditawar,” tegas Dudy.
Selat Sunda Masih Dipantau, Tapi Probabilitas Tsunami Rendah
Di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau, BMKG juga memantau kondisi perairan Selat Sunda.
Pemantauan dilakukan menggunakan HF Radar Array yang berpasangan di Carita dan Tanjung Lesung dengan mode pemantauan tsunami.
Data hingga 7 September 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan probabilitas terjadinya tsunami di Selat Sunda berada dalam kategori rendah, yakni di bawah 50 persen.
Arus permukaan laut terpantau dominan bergerak ke arah barat daya menuju Samudra Hindia dengan kecepatan 0,4 hingga 0,9 knot.
Tinggi gelombang tercatat sekitar 0,3 hingga 1,2 meter.
Baca Juga: Update Senin Sore Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau, 3 Provinsi Terdampak Abu Ketinggian 4,5 KM
Untuk periode 8 hingga 13 September 2026, BMKG memprakirakan tinggi gelombang di Selat Sunda berada pada kisaran 0,5 hingga 2 meter.
Kondisi cuaca di kawasan Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda diprakirakan didominasi cerah hingga cerah berawan.
Informasi mengenai arus dan gelombang terus diperbarui untuk membantu otoritas mempertimbangkan kondisi operasional transportasi serta penyeberangan.
Pemantauan juga dilakukan melalui 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda.
Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan alat tersebut tidak mendeteksi anomali muka air laut yang mengindikasikan tsunami.
Di sisi lain, lightning detector dan sensor magnet bumi mencatat peningkatan aktivitas petir vulkanik serta gangguan geomagnetik pada pukul 00.00 hingga 04.00 WIB.
“Namun, intensitas gangguan geofisika ini tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan erupsi pertama pada 4 September lalu,” jelasnya.
Masyarakat Diminta Tetap Tenang
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani meminta masyarakat tidak panik menghadapi perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Baca Juga: Efek Macet Horor Banyuwangi, Antrean SPBU Jember Mengular hingga Harga Pertamax Eceran Melambung
Menurutnya, pemantauan dilakukan bersama instansi terkait secara nonstop selama 24 jam.
“Masyarakat tidak perlu panik. langkah penutupan sementara delapan bandara ini merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan perjalanan kita bersama,” kata Faisal, Senin 7 September 2026.
Warga di wilayah yang terdampak sebaran abu juga diminta membatasi aktivitas di luar rumah.
Jika harus keluar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan kacamata pelindung.
Faisal juga mengingatkan pentingnya menjaga kelompok rentan di sekitar lingkungan masing-masing.
Baca Juga: Masya Allah, Satelit BMKG Ungkap Abu Vulkanik Anak Krakatau Menjauhi Pulau Jawa dan Sumatera
“Warga di area terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan selalu mengenakan masker serta kacamata pelindung jika harus beraktivitas di luar. Mari kita saling menjaga kelompok rentan di sekitar kita. Kami memastikan BMKG terus memperbarui data cuaca, penerbangan, dan geofisika secara berkala, sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang dengan mengacu pada informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah,” pungkasnya.***




