POJOKSATU.ID - Peristiwa tragis menimpa tujuh remaja di Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya.

Setelah pesta minuman keras oplosan yang mereka gelar berujung Melayang.

Niat awal untuk “nge-fly” dan bersenang-senang pada Jumat 21 November 2025 malam berubah menjadi duka mendalam.

Setelah dua dari mereka tewas akibat menenggak campuran alkohol medis 70 persen dengan minuman energi dan air mineral.

Baca Juga: Tangsel Art Festival 2025 Resmi Ditutup, UMKM Lokal Kian Percaya Diri Tembus Pasar Lebih Luas

Kasat Narkoba Polres Tasikmalaya Kota, AKP Yayu Wahyudi, membenarkan bahwa para remaja tersebut meracik sendiri minuman yang mematikan itu.

Bahan utamanya bukan minuman beralkohol legal, melainkan alkohol medis yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan kesehatan.

“Sesuai penyelidikan, minuman itu racikan dari alkohol 70 persen. Alkohol dibelinya secara online,” kata Yayu, Senin 24 November 2025.

Temuan tersebut menambah kekhawatiran pihak kepolisian.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Pastikan Jalan yang Ditambal Surya Insomnia Milik Pengembang, Bukan Aset Daerah

Mengingat akses alkohol medis kini semakin mudah melalui platform belanja daring, dan tidak sedikit yang menyalahgunakannya untuk konsumsi berbahaya.

Menurut keterangan polisi, pesta miras oplosan itu bermula pada Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB di rumah salah satu remaja berinisial R.

Para peserta terdiri dari tujuh remaja, masing-masing berinisial I, IR, J, R, DMS, DG, dan H.

Setelah meminum racikan tersebut di rumah R, pesta berlanjut ke Pos Ronda setempat hingga tengah malam dan baru bubar menjelang pagi.

Awalnya, para remaja itu tidak menunjukkan gejala berarti. Mereka bahkan merasa gagah setelah menenggak racikan campuran alkohol medis itu.

Namun, efek mematikan dari bahan kimia tersebut ternyata baru muncul pada hari berikutnya.

Pada Sabtu dan Minggu, satu per satu dari mereka mulai mengalami gejala keracunan parah.

Mereka muntah-muntah hebat, tubuh melemah, hingga mengalami gangguan pernapasan dan penglihatan.

Baca Juga: KLH Siap Tinjau Ulang Pembangunan PSEL Tangsel, Minta Daerah Ikuti Aturan Baru

“Gejala keracunan alkohol medis memang tidak selalu langsung muncul. Bisa tertunda tapi efeknya jauh lebih mematikan,” ujar seorang petugas medis.

Puncak tragedi terjadi pada Minggu 23 November 2025, ketika dua remaja berinisial I (16) dan IR (16) dinyatakan meninggal dunia.

Keduanya tidak mampu bertahan dari kerusakan organ yang disebabkan oleh racun dalam alkohol medis 70 persen.

Pihak Rumah Sakit Tasikmalaya menyampaikan bahwa korban yang dirawat mengalami gangguan organ vital.

Baca Juga: SDABMBK Tangsel Benahi Jalan Anggrek Loka, Warga Diminta Aktif Laporkan Kerusakan Infrastruktur

Akibat kandungan alkohol yang jauh melebihi ambang toleransi tubuh manusia.

Alkohol medis 70 persen pada dasarnya bukan minuman konsumsi dan bahkan bisa merusak jaringan organ dalam hanya dalam jumlah kecil.

Kepolisian menilai bahwa peristiwa ini sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah dan platform e-commerce terkait betapa mudahnya alkohol medis dibeli secara daring oleh remaja.

“Ini sangat mengkhawatirkan. Alkohol medis adalah bahan kimia keras. Bukan untuk diminum. Tapi bisa dibeli online oleh siapa pun,” tegas AKP Yayu.

Tragedi ini menjadi pelajaran mahal bahwa alkohol medis bukan hanya tidak layak dikonsumsi, tetapi juga sangat mematikan.

Alkohol 70 persen dirancang untuk membunuh kuman di luar tubuh, bukan untuk diminum.

Sejumlah warga Sukaresik mengaku terkejut dan sedih atas kejadian tersebut.

Mereka berharap peristiwa ini tidak terulang dan bisa menjadi pengingat bagi para remaja agar tidak mencoba hal berbahaya tanpa memahami konsekuensinya.

Baca Juga: Amanda Manopo Umumkan Kehamilan, Istri Kenny Austin Itu Ungkap Syukur Dapat Anugerah Terbesar Bakal jadi Seorang Ibu

“Anak-anak zaman sekarang kadang penasaran, tapi tidak tahu bahayanya. Ini kejadian yang sangat menyedihkan,” ujar seorang warga setempat.

Polisi memastikan penyelidikan akan terus dilakukan, sementara keluarga korban kini masih berduka.***

Dan berusaha menerima kenyataan pahit akibat pesta oplosan yang seharusnya tidak pernah terjadi.