POJOKSATU.id, KARO— Hasil laboratorium atau lab menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan ratusan siswa keracunan di Karo Sumut akhirnya terungkap.

Ternyata menu MBG yang mereka santap mengandung tiga jenis bakteri, dimana dua jenis merupakan bakteri berbahaya.

Bacillus cereus yang terdapat di menu nasi, bakteri Staphylococcus aureus pada sampel ikan dencis, dan bakteri Escherichia coli (E coli) pada buah melon.

Jenis-jenis bakteri ini terungkap saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di ruang rapat DPRD Karo, Senin (7/9/2026).

Informasi ini disampaikan berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang diterima Dinas Kesehatan Kabupaten Karo dari UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

Dalam hasil pemeriksaan tersebut, sampel nasi dinyatakan positif mengandung bakteri Bacillus cereus.

Sementara sampel ikan dencis yang menggunakan saus dari sekolah positif mengandung Staphylococcus aureus.

Baca Juga: Prediksi Skor 6 Pertandingan Liga Champions Malam Ini, Man City hingga Real Madrid

Sedangkan sampel buah melon dinyatakan positif mengandung bakteri Escherichia coli (E coli).

Selain sampel makanan, pemeriksaan terhadap sisa muntahan korban juga menunjukkan adanya Bacillus cereus.

Hasil tersebut disampaikan pihak Dinas Kesehatan Karo dalam RDP yang dihadiri ratusan orangtua siswa yang jadi korban keracunan, Senin (7/9) seperti dilansir dari Poskota.sumatera.com.

Menurut Dinas Kesehatan Karo, laporan itu tertuang dalam surat UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Nomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026.

Baca Juga: USU Peringkat Kelima Indonesia di International Research Network QS WUR 2027, Kalahkan ITB

Surat tersebut merupakan tindaklanjut dari permohonan pemeriksaan laboratorium yang diajukan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo pada 13 Agustus 2026, setelah ratusan siswa mengalami keracunan MBG.

Pernyataan ini sontak membuat para orang tua siswa murka dalam RDP ini. Mereka mengecam tindakan Dinas Kesehatan Karo dan Pemkab Karo yang dinilai sengaja menutup-nutupi kebenaran.

"Kenapa baru sekarang kalian bilang dalam RDP ini? Dari kejadian sampai anak-anak kami bolak-balik ke rumah sakit. Kami terus mempertanyalan hal ini, tapi kalian menutupinya," tegas para orangtua siswa dengan suara lantang dan emosi.

Menurut para orang tua korban, selama ini mereka tidak tau bagaimana cara mengobati anak-anak mereka karena tidak mengetahui hasil laboratorium dan jenis bakterinya.

"Kenapa kalian rahasiakan hasil uji labnya. Apa kalian sengaja membunuh anak kami?,” teriak mereka dalam RDP itu.

Fitriani, salah seorang ortu siswa menyebutkan, selama anak mereka menjalani perawatan di rumah sakit, tidak mendapatkan penanganan maksimal.

Anaknya hanya diberi obat antasida dan antibiotik dengan harga kisaran Rp 8 ribu hingga Rp50 ribu. Selain itu, kata Fitriani, tak ada dokter spesialis yang menangani anaknya.

Dengan ditemukannya tiga jenis bakteri ini, para orangtua siswa berharap para dokter segera mengetahui hubungan antara kontaminasi makanan dengan gejala yang dialami anak-anak mereka.


Kapolres Karo Sebut Tak Takut

Dalam RDP ini, Polres Karo menegaskan pihaknya telah melakukan pemeriksaan secara objektif dan tidak takut mengungkap persoalan tersebut.

Ia juga menanggapi pertanyaan mengenai lokasi SPPG yang berada di lingkungan Kodim serta mempertanyakan mengapa di dapur SPPG tidak dipasang garis polisi.

Menurutnya, kepolisian terus melakukan langkah-langkah untuk mempercepat proses penyelidikan dan pengumpulan alat bukti.

"Kami akan berbuat seobjektif mungkin untuk menyelesaikan masalah ini. Kami sudah melakukan langkah-langkah untuk melakukan percepatan," ujarnya.

Kapolres juga mengakui bahwa hingga hampir satu bulan sejak kejadian, keluarga korban masih menunggu kepastian hukum.

"Sudah hampir satu bulan, sampai hari ini nasib anak-anak ini belum jelas. Keluarga membutuhkan kepastian hukum," tegas orangtua siswa ke Kapolres Karo.

Kuasa hukum keluarga korban juga menanyakan kenapa polisi belum pernah memeriksa pihak Yayasan Manunggal Kartika Jaya.

Menanggapi hal itu, Kapolres meminta masyarakat ikut mengawasi proses penyelidikan agar berjalan objektif dan transparan.

“Terima kasih atas dukungan. Yang pasti, tolong bantu kami, awasi kami dalam proses penyelidikannya. Saya juga alumni SMA Berastagi," ujarnya.***