POJOKSATU.id, PANYABUNGAN— Misteri penyebab meninggalnya NAL siswa kelas 2 SDN 048 Malintang, Bukit Malintang, Mandailing Natal (Madina), Sumut, Kamis (1/10), masih penyelidikan polisi.
Namun sebuah video viral di Facebook diunggah @Juli Firsty, Senin (5/10/2026), dalam video itu ibu korban, Nur Ainun, menyebut putrinya dibully guru kelas sebelum kejadian.
“Sementara muridnya pun tiganya di kelas itu,” jelasnya dalam video itu dilihat Senin.
Lalu dia menerangkan bahwa anaknya dibully oleh guru kelasnya sendiri dan ini sering dikeluhkan oleh korban.
Baca Juga: Update Meninggalnya Siswa Kelas 2 SD di Malintang, Tunggu Hasil Autopsi, Laporan Resmi Belum Ada
“Memang sering dikeluhkannya, diosom (dibully) ibu kelas dua terus dia. Memang kebetulan, saya tidak berhubungan baik dengan ibu itu. Ada masalah,” kata Nur Ainun dalam video itu.
“Jadi saya maunya, saya yang bermasalah dengan ibu itu, jangan anak saya yang dibully,” ujar ibu korban.
Dia lalu terlihat beberapa kali menangis menceritakan kejadian yang menimpa putrinya.
“Diosom kalai sajo borungki, sonima bo, pondok pikiran nia, digantung ia diri nia (Dibully mereka terus putriku, pendek pikirannya, gantung diri dia),” kata ibu korban lagi meraung-raung dalam bahasa Mandailing.
Dari keterangan ibu korban, putrinya ditemukan pertama kali oleh anak bungsunya yang masih sekolah TK dengan kondisi mulut terjulur di belakang rumah mereka.
Baca Juga: Viral Bupati Siak Menangis Lihat Guru dan Siswa 3T, Wapres Gibran Turunkan Tim
Saat itu, anak bungsu korban pulang sekitar pukul 11.00 WIB dari sekolah ke rumah.
Lalu memberitahukan kepada ibunya kondisi kakaknya tersebut. Lalu ibu korban bergegas melihat kondisi korban saat itu.
Ibu korban juga mengaku tidak mengetahui dari mana asal selendang yang digunakan oleh korban untuk menggantung dirinya di pohon jeruk yang sudah tua tersebut.
“Saya pun tidak tahu dari mana dia ambil jilbab itu,” jelasnya.
Guru Kelas II Beri Komentar
Sementara itu, Anita, guru kelas II yang mengajar NAL, mengatakan korban tercatat beberapa kali tidak masuk sekolah selama tahun ajaran ini.
Menurut Anita, NAL dikenal sebagai anak yang cenderung pendiam. Namun, ia mengaku tidak melihat adanya perubahan mencolok dalam interaksi korban dengan teman-temannya maupun mendengar keluhan tertentu dari korban menjelang peristiwa tersebut.
“Memang anaknya pendiam. Belakangan ini pun dia tidak ada menyampaikan keluhan apa pun kepada saya,” ujar Anita Sabtu (3/10) seperti dilansir dari Transnusantara.co.id, Senin (5/10).
Anita menceritakan aktivitas korban di sekolah pada hari Kamis (1/10). Menurutnya, sebelum jam istirahat, ia masih memberikan penilaian terhadap pekerjaan siswa, termasuk pekerjaan NAL.
Saat itu, kata Anita, korban terlihat ceria. Anita bahkan sempat menawarkan makanan kepada siswi tersebut.
Setelah kegiatan belajar berlanjut, Anita mengaku sempat menanyakan kepada teman-teman sekelas mengenai ketidakhadiran NAL. Namun, teman-temannya mengaku tidak mengetahui keberadaan korban.
Anita menambahkan, pada saat itu para siswa sedang berkumpul di ruangan untuk mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) dalam rangka memperingati peristiwa G30S/PKI.
Sementara Kepala SDN 048 Malintang, Ernita, SPd, mengatakan pihak sekolah telah menerima kunjungan sejumlah pihak yang ingin memperoleh informasi mengenai peristiwa tersebut, di antaranya media, pihak kecamatan, Dinas Pendidikan, dan kepolisian.
Ia menjelaskan, saat peristiwa tersebut terjadi, dirinya sedang berada di kantor dinas. Setelah menerima informasi melalui telepon mengenai kejadian tersebut, ia langsung menuju Puskesmas Bukit Malintang.
Ernita juga mengatakan telah berkomunikasi dengan keluarga korban untuk menyampaikan belasungkawa serta memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.
Selain itu, ia mengaku telah melihat kondisi korban di puskesmas dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait data maupun informasi yang dibutuhkan dalam proses penyelidikan.
“Kami akan memberikan informasi yang diperlukan oleh kepolisian sesuai dengan apa yang kami ketahui,” katanya.***




