POJOKSATU.ID - Ribuan warga dari wilayah Lhokseumawe dan Kabupaten Bireuen, Aceh, setiap hari harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki demi memenuhi kebutuhan pangan usai bencana.

"Mereka menukarkan hasil alam yang dimiliki dengan beras", tulis akun Instagram @Inilah_com, Rabu 17 Desember 2025, seperti dikutip pojoksatu.id.

satu-satunya bahan pokok utama yang sulit dijangkau akibat keterbatasan ekonomi dan akses distribusi.

Fenomena ini menjadi gambaran nyata beratnya perjuangan masyarakat pascabencana di wilayah tersebut dalam bertahan hidup.

Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri

Dengan membawa hasil kebun, hasil hutan, atau komoditas alam lain, warga rela berjalan jauh menuju titik-titik tertentu yang memungkinkan mereka menukar hasil tersebut dengan beras.

Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga memperlihatkan tekanan ekonomi yang masih kuat dirasakan masyarakat setelah bencana terjadi.

Keterbatasan lapangan kerja, minimnya pendapatan, serta akses pangan yang tidak merata membuat barter kembali menjadi pilihan terakhir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Lengkap! Ini Daftar Jadwal Pencairan BPNT 2026 di Jawa Barat, KPM Wajib Tahu

Sejumlah warga mengaku perjalanan yang ditempuh bisa memakan waktu berjam-jam.

Tidak sedikit dari mereka yang harus berangkat sejak pagi hari dan baru kembali menjelang sore.

Perjuangan itu dilakukan di tengah situasi pascabencana demi memastikan keluarga di rumah tetap bisa makan.

Baca Juga: Menuju 2026, Kebijakan Guru Honorer Difokuskan pada Penataan Data dan Status ASN

Situasi ini menyoroti masih rapuhnya sistem distribusi pangan di sejumlah wilayah.

Meskipun daerah penghasil sumber daya alam, masyarakat setempat belum sepenuhnya merasakan manfaat ekonomi yang memadai.

Harga beras yang relatif tinggi dan daya beli yang rendah membuat warga harus mencari cara alternatif agar dapur tetap mengepul.

Baca Juga: Lebih 3 Minggu Bencana Banjir Bandang, 41 Orang Masih Hilang di Tapanuli Tengah, Tapsel 30 Orang

Pengamat sosial menilai kondisi tersebut sebagai alarm serius bagi pemerintah daerah dan pusat khususnya dalam penanganan pascabencana.

Ketergantungan masyarakat pada sistem tukar-menukar menunjukkan bahwa akses terhadap kebutuhan pokok belum sepenuhnya terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Selain faktor ekonomi, keterbatasan infrastruktur akibat dampak bencana juga menjadi kendala utama. Akses jalan yang sulit dan jauhnya pusat distribusi membuat biaya transportasi semakin mahal.

Baca Juga: BLT BBM Tak Otomatis Cair! Efek Re-Eleksi Trump Bikin Subsidi BBM Indonesia Serba Dilema

Akibatnya, harga kebutuhan pokok tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat di pedesaan dan wilayah pinggiran.

Situasi ini sekaligus menegaskan pentingnya intervensi nyata dari pemerintah dalam masa pemulihan pascabencana.

Distribusi bantuan pangan, penguatan ketahanan pangan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat perlu dilakukan secara konsisten agar warga tidak terus berada dalam kondisi rentan.

Program bantuan yang tepat sasaran dan berkelanjutan dinilai mampu meringankan beban masyarakat.

Baca Juga: Putih Sari Resmikan BLK Komunitas di Karawang, Tekankan SDM Kunci Indonesia Emas

Selain itu, penguatan sektor pertanian dan ekonomi lokal juga menjadi kunci agar warga tidak lagi bergantung pada barter demi mendapatkan beras.

Perjuangan warga Lhokseumawe dan Bireuen setelah bencana ini menjadi cermin ketimpangan yang masih ada di tengah upaya pembangunan.

Tanpa langkah konkret dan berkelanjutan, kondisi serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan memperdalam kesenjangan sosial di masyarakat.***