POJOKSATU.id – Perjuangan Timnas Tuli Indonesia menuju kompetisi internasional tidak hanya berlangsung di arena latihan.
Menjelang Asia Pacific Deaf Multi-Sport Championship 2026 di Malaysia, persoalan pendanaan menjadi tantangan yang ikut dihadapi para atlet.
Informasi mengenai kondisi tersebut mencuat melalui unggahan akun Boltik Football di Facebook. Dalam unggahannya, disebutkan bahwa kontingen Indonesia yang terdiri dari 24 atlet akan berjuang di ajang olahraga tuli tingkat Asia Pasifik.
“Tidak mendapatkan perhatian, Timnas Tuli Indonesia harus turun ke jalan demi mendapatkan dana,” tulis Boltik Football sebagaimana dikutip pojoksatu.id, Kamis 20 Agustus 2026
Unggahan tersebut juga mempertanyakan dukungan pemerintah terhadap kebutuhan kontingen. Namun, narasi tersebut sebaiknya tidak langsung ditafsirkan sebagai bukti.
Baca Juga: Raih Banyak Medali, Atlet Disabilitas Asal Karawang Ini Terkendala Biaya Kuliah
Bahwa pemerintah sama sekali tidak memberikan bantuan karena unggahan media sosial itu tidak disertai penjelasan resmi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga mengenai bentuk dukungan yang telah diberikan.
Target Donasi Capai Rp700 Juta
Persoalan biaya menjadi perhatian karena kontingen membutuhkan anggaran untuk mengikuti kompetisi di Malaysia.
Informasi lain yang beredar menyebutkan kebutuhan pendanaan kontingen mencapai Rp700 juta. Jumlah tersebut dikaitkan dengan keberangkatan 24 atlet yang akan membawa nama Indonesia di ajang Asia Pacific Deaf Multi-Sport Championship 2026.
Artinya, perjuangan para atlet tidak berhenti pada persiapan fisik dan teknis. Mereka juga harus memastikan kebutuhan perjalanan dan keikutsertaan dalam kompetisi dapat terpenuhi.
Baca Juga: Para Atlet Muda yang Torehkan Prestasi Kejurnas Siap Berlaga di Asian Games 2026
Situasi tersebut membuat kampanye penggalangan dana menjadi bagian dari upaya kontingen untuk mengejar target keberangkatan.
24 Atlet Disiapkan Bawa Nama Indonesia
Kontingen Timnas Tuli Indonesia disebut beranggotakan 24 atlet yang akan tampil dalam empat cabang olahraga. Para atlet tersebut dipersiapkan untuk menghadapi persaingan dengan peserta dari berbagai negara Asia Pasifik.
Kejuaraan yang akan berlangsung di Penang, Malaysia, pada 3-10 Oktober 2026 tersebut merupakan agenda resmi Asia Pacific Deaf Sports Confederation (APDSC).
APDSC menyebut kompetisi ini akan diikuti atlet dan ofisial dari kawasan Asia Pasifik. Cabang yang dipertandingkan meliputi atletik, bulu tangkis, catur, bowling, tenis meja, dan orienteering.
Dengan demikian, persoalan keberangkatan menjadi krusial. Tanpa dukungan pendanaan yang memadai, persiapan atlet yang sudah dilakukan berisiko tidak dapat diteruskan secara maksimal.
Baca Juga: Para Atlet Indonesia Jajal Sepeda Terbaru Lewat Jalur yang Menantang
Sorotan untuk Pembinaan Olahraga Tuli
Kondisi yang dialami Timnas Tuli Indonesia juga membuka pembahasan yang lebih luas mengenai pembinaan atlet tuli di Indonesia.
Keikutsertaan dalam kompetisi internasional bukan hanya tentang mengejar medali. Ajang tersebut juga menjadi kesempatan bagi atlet tuli Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bertanding
Melawan atlet dari negara lain sekaligus menunjukkan kemampuan olahraga Indonesia di tingkat internasional.
Karena itu, dukungan terhadap mereka idealnya tidak hanya muncul ketika kompetisi sudah berlangsung.
Baca Juga: Ganjar Akan Boyong Program Si Sakti Ke Kancah Nasional Demi Majukan Atlet Indonesia
Persiapan sejak tahap seleksi, pemusatan latihan, kebutuhan perlengkapan hingga keberangkatan perlu menjadi bagian dari sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Unggahan mengenai penggalangan dana tersebut akhirnya menjadi pengingat bahwa perjuangan atlet untuk membawa nama Indonesia dapat dimulai jauh sebelum mereka memasuki arena pertandingan.***



