POJOKSATU.ID - Dalam evaluasi satu tahun kerja Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wapres

Muncul fakta mengejutkan menteri yang paling banyak mendapat kritik bukan

Tokoh pertahanan ataupun sosial melainkan Bahlil Lahadalia yang menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baca Juga: Panduan Cepat Menguasai AI Gemini: 5 Tips Jitu dan Teknik Prompting Profesional

Menurut survei lembaga IndoStrategi, Bahlil memperoleh skor hanya 2,74 di skala 5, terendah dari semua 47 kementerian yang dievaluasi.

Sementara survei oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menempatkan Bahlil sebagai menteri dengan nilai paling buruk minus 1.320 poin.

Lebih jauh, hasil survei oleh Indonesia Social Insight (IDSight) mencatat bahwa publik menilai.

Baca Juga: Fokus ke KARAKTER MURID, Begini FORMAT RAPOR Terbaru Download BUKU PANDUAN Pembelajaran dan Asesmen Revisi 2025

Kementerian di bawah Bahlil paling tidak populer dengan penilaian negatif mencapai 78,4%. 

Kenapa menteri yang memimpin sektor strategis ini mendapat skor begitu rendah? Ada beberapa poin kunci

Isu lingkungan dan pertambangan ilegal menjadi catatan negatif bagi kementeriannya.

Baca Juga: Ahlan Zohran

IndoStrategi menyebut “isu lingkungan yang merusak ekosistem, ketergantungan pada batu bara masih tinggi, hingga komunikasi publik yang retoris” sebagai faktor penghambat. 

Publik menganggap kinerja belum matang janji banyak, eksekusi terasa tertinggal.

Di tengah sorotan, Bahlil justru melontarkan janji besar bahwa Indonesia akan berhenti impor solar pada tahun 2026.

 

Janji Besar Stop Impor Solar 2026

Pada 9 Oktober 2025, Bahlil dalam acara Investor Daily Summit.

Baca Juga: Panduan Cepat Menguasai AI Gemini: 5 Tips Jitu dan Teknik Prompting Profesional

Menyampaikan bahwa pemerintah akan mendorong penerapan biodiesel B50.

(campuran 50% bahan bakar nabati) sebagai strategi utama untuk menghentikan impor solar.

Data yang dipaparkan selama 2020-2025, kebijakan biodiesel telah menghemat devisa hingga USD 40,71 miliar.

Dengan B50 penuh, potensi penghematan tambahan mencapai USD 10,84 miliar dalam satu tahun.

Baca Juga: Panduan Cepat Menguasai AI Gemini: 5 Tips Jitu dan Teknik Prompting Profesional

Sementara itu, impor solar saat ini diperkirakan masih mencapai 4,9 juta kiloliter, atau sekitar 10,58% dari kebutuhan nasional.

Dengan kata lain janji besar tapi beban besar juga.

Ambisi menghentikan impor solar tentu layak diapresiasi, namun kritik terhadap Bahlil punya dasar kuat.

Baca Juga: Tunjangan Profesi Guru Triwulan IV Dijadwalkan Cair November 2025, Ini Besaran Nominal ASN dan NonASN

Waktu yang sangat singkat melakukan transformasi energi (menuju B50 penuh) dalam kurun kurang dari dua tahun sangat menantang.

Bahkan Bahlil sendiri menyebut masih dalam tahap “uji jalan” B50 yang memerlukan 6-8 bulan.

Pasokan bahan baku (CPO/FAME) Untuk menyukseskan B50 diperlukan FAME sekitar 19 juta KL di 2026, sedangkan ketersediaan 2025 baru sekitar 15,6 juta KL. 

Baca Juga: Bersama Lawan Bullying: Langkah Nyata Wujudkan Sekolah Ramah Anak

Citra publik yang buruk Skor rendah dan persepsi negatif publik dapat menghambat efektivitas kebijakan.

Karena dukungan publik sering jadi faktor penting dalam keberhasilan transformasi besar.

Komunikasi dan eksekusi Kritik menyebut bahwa pernyataan retoris menggema di publik, namun bukti konkret di lapangan dirasa belum sejalan.***