POJOKSATU.ID - Penerapan model bank sentral yang berada langsung di bawah kendali presiden menunjukkan hasil yang sangat kontras di berbagai negara.
Negara seperti China dan Vietnam berhasil menjalankan sistem bank sentral non-independen dengan kinerja ekonomi yang relatif stabil dan sukses.
Keberhasilan China dan Vietnam dipengaruhi oleh tingginya disiplin ekonomi jangka panjang yang diterapkan oleh pemerintah mereka.
Kebijakan moneter di kedua negara tersebut diintegrasikan secara amat terpadu dengan arah pembangunan nasional secara keseluruhan.
Selain itu, mereka memiliki kebijakan industri yang sangat solid dan berfokus penuh pada penguatan sektor ekspor.
Hal ini berbeda jauh dengan kasus keterpurukan ekonomi yang dialami oleh Turki dan Zimbabwe akibat ketiadaan independensi bank sentral.
Di negara-negara tersebut, intervensi politik justru merusak kestabilan pasar dan memicu laju inflasi yang tidak terkendali.
Para politisi sering kali memaksakan penurunan suku bunga demi kepentingan politik tanpa mempertimbangkan daya tahan mata uang.
Baca Juga: PNJ Terapkan Sistem Otomasi Berbasis IoT di Kebun Anggur Depok
Akibat intervensi yang berlebihan di Turki, mata uang lokal mengalami kolaps dan angka inflasi melonjak hingga menyentuh angka 70 persen.
Kegagalan tersebut membuktikan bahwa tanpa disiplin industri dan perencanaan jangka panjang, kontrol presiden atas bank sentral akan membawa kehancuran ekonomi.
Bagi Indonesia, opsi untuk mengubah posisi Bank Indonesia harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati karena risiko kegagalannya jauh lebih nyata.
Tanpa fondasi industri yang kuat seperti China, penyerahan otoritas moneter ke tangan politisi berpotensi besar memicu krisis keuangan di dalam negeri.
Oleh sebab itu, pemahaman mendalam mengenai perbedaan faktor pendukung di tiap negara menjadi hal yang sangat krusial sebelum memutuskan arah kebijakan baru.***




