POJOKSATU.ID - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kembali mengumumkan rencana penyaluran bantuan bagi korban bencana banjir dan longsor di Sumatra.

Kali ini, pemerintah menjanjikan ratusan ribu pakaian baru dari perusahaan garmen untuk para pengungsi yang kehilangan harta benda akibat bencana.

Namun, di tengah janji tersebut, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ribuan warga masih bertahan di pengungsian dengan pakaian seadanya.

Baca Juga: Siapa Investor di Balik Saham WiFi Internet Rakyat? Ungkap Pemegang Utama dan Penyokong Besar Jalur Koneksi?

Bahkan hanya mengenakan baju yang melekat di badan sejak hari pertama bencana.

Tito menyebut, bantuan pakaian tersebut berasal dari perusahaan garmen yang secara regulasi sebenarnya hanya boleh mengekspor produknya ke luar negeri.

Dalam kondisi darurat bencana, pemerintah memberikan kelonggaran agar pakaian-pakaian itu bisa disalurkan ke dalam negeri tanpa bea masuk.

Baca Juga: Magang Kemnaker 2026 Lebih Menguntungkan, Uang Saku Bertambah Sesuai Naiknya UMP, Kuota Meningkat Drastis!

“Waktu di rapat sidang kabinet itu ada beberapa perusahaan garmen di Indonesia yang mau membantu,” kata Tito, dikutip dari Tirto.id, 20 Desember 2025.

Ia menegaskan bahwa pakaian yang disalurkan bukan barang sisa produksi atau reject, melainkan produk baru yang siap pakai.

Bantuan tersebut masih harus melalui mekanisme administratif, termasuk permintaan pemerintah dan persetujuan Kementerian Keuangand dan Kementerian Perdagangan.

Baca Juga: Sebelum Dibakar Massa Polsek MBG Lebih Dulu Dijarah, Polda Sumut Tepis Pelaku Narkoba Sengaja Dilepas

Di lapangan, kondisi pengungsi jauh dari kata layak.

Tito mengakui bahwa banyak korban bencana terpaksa mengungsi tanpa membawa pakaian cadangan.

Banjir dan longsor yang datang tiba-tiba membuat rumah-rumah terendam lumpur, menghanyutkan lemari, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya.

“Saya datang ke banyak pengungsian. Kita prihatin, banyak saudara kita keluar rumah hanya dengan pakaian di badan. Yang lainnya terendam lumpur,” ujarnya.

Pemerintah mengklaim telah menyiapkan total 106.000 potong pakaian pada tahap awal.

Baca Juga: Seskab Teddy Ajak Insan Pers Sebarkan Energi Positif, Ungkap Fakta Penanganan Bencana Sumatera Sejak Hari Pertama

Sebanyak 101.000 pakaian berasal dari perusahaan Daehan Global di Sukabumi, sementara sisanya disumbang oleh perusahaan lain, termasuk 2.000 selimut.

Namun angka tersebut dinilai belum sebanding dengan jumlah pengungsi yang mencapai ratusan ribu jiwa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Tito dijadwalkan menyerahkan sekitar 50.000 pakaian ke Aceh Tamiang pada Senin 22 Desember, wilayah yang disebut sebagai daerah terdampak paling parah.

Baca Juga: Awal 2026 Direncanakan Banyak Penerima KKS Baru, Data Sudah Diinput dari Sekarang

Selain itu, Aceh Utara dan Aceh Timur masing-masing akan menerima 25.000 pakaian. Wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat juga masuk dalam daftar penerima bantuan.

Meski demikian, distribusi bantuan ini menuai sorotan karena datang di tengah kritik lambannya penanganan logistik dasar bagi korban bencana.

Banyak pengungsi mengeluhkan keterbatasan pakaian bersih, terutama bagi anak-anak, lansia, dan perempuan, yang harus bertahan berhari-hari dengan kondisi tidak higienis.

Baca Juga: KKS Lama 2020 BPNT Murni Tahap 4 Cair Rp600 Ribu, Khusus di Wilayah Jateng

Pemerintah menjanjikan bantuan tahap kedua pada akhir Desember, berupa tambahan 50.000 hingga 100.000 pakaian.

Namun, hingga kini, belum ada kepastian apakah distribusi tersebut bisa menjangkau seluruh wilayah terdampak secara merata.

Janji penyaluran ratusan ribu pakaian baru pun dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mendesak di pengungsian.

Di saat pemerintah berbicara soal prosedur dan regulasi, ribuan korban bencana masih berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar, pakaian layak untuk bertahan hidup.***