POJOKSATU.ID- Nama Megawati Zebua, anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari Partai Golkar, tengah menjadi sorotan setelah video dugaan cekcok antara dirinya dan seorang pramugari Wings Air viral di media sosial.

Namun di balik insiden yang menuai kecaman itu, Megawati adalah sosok politisi perempuan dari wilayah kepulauan yang cukup berpengaruh dan vokal di daerahnya.

Megawati lahir di Kota Gunungsitoli, Pulau Nias, pada 31 Maret 1977. Ia kini berusia 47 tahun dan dikenal sebagai salah satu figur perempuan dari kawasan timur Sumatera Utara yang aktif di dunia politik.

Pendidikan formalnya ditempuh di STM Swasta Gunungsitoli, tempat ia lulus pada tahun 1996. Ia kemudian memulai kiprah sosial politiknya di wilayah Nias Selatan, di mana ia menetap hingga kini.

Baca Juga: Jelang Sidang Putusan Cerai dan Hak Asuh Anak, Paula Verhoeven Bagikan Momen Bersama Dua Putranya

Pada Pemilu Legislatif 2019, Megawati berhasil melenggang ke DPRD Sumut melalui Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut VIII yang meliputi Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Barat, dan Kota Gunungsitoli. Kala itu, ia mengantongi 27.897 suara. Namanya kembali muncul sebagai wakil rakyat usai meraih 19.883 suara pada Pemilu 2024, menandai periode keduanya duduk sebagai legislator provinsi.

Di DPRD Sumut, Megawati duduk di Komisi A yang membidangi pemerintahan dan hukum. Ia juga dikenal sebagai kader Partai Golkar yang aktif mengikuti pelatihan kepemimpinan perempuan. Dalam struktur internal partai, ia pernah menjabat sebagai Wakil Bendahara DPD Golkar Sumut.

Namun, reputasi Megawati kini terancam tercoreng setelah munculnya rekaman video yang diduga memperlihatkan dirinya berselisih dengan pramugari dalam penerbangan IW-1267 rute Gunungsitoli–Kualanamu pada Sabtu (13/4/2025). Dalam video yang beredar, ia tampak marah dan berkata “Awas kau, aku mau duduk, udah selesai. Kau yang memperpanjang,” sebelum melakukan dugaan tindak fisik berupa dorongan dan cekikan kepada awak kabin.

Baca Juga: Geger Legalisasi Ganja dan Kratom, BNN RI Ambil Langkah Mengejutkan

Insiden bermula saat Megawati hendak membawa koper berlabel bagasi ke dalam kabin, yang ditolak oleh pramugari sesuai aturan penerbangan. Ketegangan pun terjadi, hingga Megawati akhirnya diturunkan dari pesawat atas permintaan kapten. Maskapai Wings Air menyatakan pihaknya akan mengambil langkah hukum guna melindungi awak kabin dan menjamin keselamatan penumpang.

Menanggapi peristiwa ini, Megawati membantah tuduhan telah melakukan kekerasan. “Demi Tuhan, saya tidak pernah berniat menyakiti siapa pun,” ujarnya dalam klarifikasi singkat kepada media.

Sementara itu, Partai Golkar Sumut menyatakan akan menunggu hasil investigasi lengkap dari pihak berwenang sebelum mengambil sikap tegas. “Kami tak akan ragu menjatuhkan sanksi bila terbukti ada pelanggaran etik atau hukum,” kata Ketua DPD Partai Golkar Sumut dalam pernyataan resminya.

Selain dikenal aktif secara politik, Megawati Zebua juga tercatat dalam laporan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) dengan total kekayaan sekitar Rp2 miliar. Aset tersebut terdiri dari tanah, bangunan, kendaraan, dan tabungan pribadi. Ia juga merupakan sosok yang dikenal dekat dengan komunitas Kristen Protestan di wilayah kepulauan Nias.

Baca Juga: Prediksi Skor dan Susunan Pemain Borussia Dortmund vs Barcelona di Liga Champions: Die Borussen Sulit Lolos

Kasus ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan organisasi masyarakat sipil dan komunitas pekerja penerbangan. “Perilaku pejabat publik di ruang umum mencerminkan integritas institusi yang mereka wakili. Kami mendesak agar ada penyelidikan yang adil dan transparan,” kata Lisa Tambunan dari Serikat Awak Kabin Nasional (SAKN).

Publik kini menanti sikap tegas dari DPRD Sumut. Dorongan agar Badan Kehormatan DPRD memanggil Megawati untuk menjalani pemeriksaan etik semakin menguat. Di sisi lain, pihak kepolisian masih mengumpulkan bukti dan keterangan saksi untuk menindaklanjuti laporan dari maskapai.

Sosok Megawati yang selama ini dikenal sebagai perwakilan kepulauan dengan suara keras terhadap isu-isu pembangunan, kini harus menghadapi ujian terbesar dalam karier politiknya.***