POJOKSATU.id - Kebijakan tarif impir oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diyakini bakal membawa dampak besar bagi Indonesia.

Namun yang terparah, kebijakan tarif Trump itu bisa membawa Indonesia ke jurang resesi.

Dalam kebijakan tarif timbal balik atau resiprokal itu, oleh Trump, Indonesia dikenakan tarif sebesar 32 persen.

Demikian disampaikan pengamat sosial dan ekonomi, Lalu Niqman Zahir.

Pernyataan ini dikutip Pojoksatu.id dari tayangan terbaru di kanal Youtube pribadinya, @LNZ Official, pada Selasa 15 April 2025.

Baca Juga: Dampak Kebijakan Tarif Donald Trump, Bakal Ada Negara Alami Resesi, Indonesia Berpotensi Dejavu 1998, Ini Ulasan Lalu Niqman Zahir

"Pengenaan tarif sebesar 32% terhadap Indonesia akan memberikan dampak langsung dan tidak langsung bagi perekonomian Indonesia," ujarnya.

Hal ini karena Amerika Serikat merupakan mitra dagang utama Indonesia terbesar kedua setelah Tiongkok.

Menurut Lalu, ada beberapa dampak pengenaan tarif Trump tersebut.

Diantaranya penurunan nilai ekspor, perlambatan pertumbuhan ekonomi, PHK, resesi, penurunan nilai tukar rupiah, dan relokasi.

Baca Juga: Benarkah Indonesia Lebih Dulu Ajukan Pertemuan dengan Trump? Ini Kata Menlu

Ekspor Indonesia ke AS mencapai 23,25 miliar dolar AS pada tahun 2023 atau sebesar 9,0 persen dari total ekspor Indonesia.

Sedangkan total impor pada tahun yang sama mencapai 11,28 miliar dolar AS, atau sebesar 5,1 persen dari total impor.

"Sehingga Indonesia mencapai surplus perdagangan sebesar 11,99 miliar dolar AS. Potensi kehilangan surplus perdagangan tersebut akan berpengaruh pada cadangan devisa," beber sosok yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Administrasi Setjen DPD RI ini.

Ekspor utama Indonesia ke AS meliputi produk hasil pertanian dan non-pertanian. Ekspor produk pertanian antara lain berupa:

1. Minyak sawit: 3,5 miliar dolar AS

2. Mebel dan furnitur: 2,8 miliar dolar AS

3. Karet: 1,5 miliar dolar AS

4. Produk perikanan: 1,9 miliar dolar AS

Baca Juga: Perang Dagang AS VS Cina, Bagaimana Langkah Pemerintah RI Hadapi Penerapan Tarif Trump?

5. Kakao dan produk olahan: 600 juta dolar AS

6. Produk kertas: 500 juta dolar AS

Sedangkan ekspor produk non-pertanian berupa:

1. Tekstil dan produk garmen: 1 miliar dolar AS

Baca Juga: Klaim Luhut Binsar Pandjaitan Terhadap Kebijakan Tarif Impor Trump dan Rupiah Tembus 17.000. Sebut Tak Perlu Khawatir

2. Elektronik: 900 juta dolar AS

3. Logam mulia: 400 juta dolar AS

"Daya saing barang Indonesia dari komoditas di atas akan rendah. Apalagi pesaing Indonesia dikenakan tarif yang lebih rendah," jelas dia.

Sebagai contoh, minyak sawit akan menghadapi negara-negara yang dikenakan tarif lebih rendah.

Seperti Malaysia yang hanya terkena tarif 24 persen, atau negara-negara penghasil minyak sawit dari Amerika Latin yang hanya dikenai tarif 10 persen seperti Kolombia dan Brasil.

Demikian juga dengan karet dan kakao yang akan akan menghadapi Malaysia, Ekuador (10 persen), Brasil, Ghana (10 persen), dan Pantai Gading (21 persen).

Sedangkan untuk produk perikanan akan menghadapi Chili (10 persen), Filipina (17 persen), dan Norwegia (15 persen).

"Demikian juga dengan barang-barang non-pertanian akan menghadapi negara pesaing dengan produk sama namun dengan tarif yang lebih rendah," tutur dia.

Dampak yang mungkin terjadi dalam waktu dekat adalah penurunan nilai kurs rupiah yang dapat meningkatkan harga barang.

Baca Juga: Jurus Berkelit dari Tarif Trump

"Kedua hal ini dapat mendorong terjadinya inflasi," lanjutnya.

Menurutnya, kebijakan Trump itu juga akan membawa dampak lanjutan dan baru akan mulai dirasakan dalam beberapa bulan ke depan.

Itu bisa yerjadi apabila barang-barang yang seharusnya diekspor ke AS tapi tidak menemukan pasar baru.

Akibatnya, akan terjadi PHK besar-besaran, khususnya di industri tekstil yang daya saingnya terus menurun.

"PHK, apabila tidak dapat diserap oleh gig economy sekalipun, akan menimbulkan pengangguran, dan lebih lanjut akan menimbulkan kemiskinan," beber Lalu.

Baca Juga: IHSG Anjlok Dihantam Tarif Trump, Heru Desak Prabowo Keluarkan Dekrit Darurat Ekonomi

"Dampak lainnya yang terjadi adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi, bahkan mungkin berakibat resesi," tegasnya.

Hal ini bisa terjadi, sambung Lalu, karena mitra ekonomi terbesar Indonesia, Tiongkok, menghadapi tarif yang tinggi.

Sedangkan ekspor ke Tiongkok pada tahun 2023 mencapai 64,93 miliar dolar AS (25,1 persen).

Apabila terjadi perlambatan pertumbuhan di Tiongkok, maka akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan di Indonesia.

"Jadi, kemungkinan terjadinya resesi di Indonesia relatif besar," ungkap Lalu Niqman Zahir.

Rentetan dampak kebijakan tarif Trump juga diyakini masih akan terus terjadi pada tahun depan.

Salah satunya adalah adanya potensi relokasi industri tekstil dan industri elektronik.

"Mereka tentunya akan mencari negara-negara yang dikenai tarif rendah sehingga dapat memasarkan produknya ke AS," tandas Lalu Niqman Zahir.***

Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:

VERSI ANDROID

VERSI iOS