POJOKSATU.ID – Cek kronologi kasus Al Kareem Islamic School, salah satu sekolah swasta di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Seperti diketahui, belakangan ini sekolah yang diklaim elit itu tengah ramai jadi perbincangan publik.

Bukan tanpa sebab, hal ini terjadi lantaran Al Kareem Islamic School diduga tidak bersertifikat resmi alias bodong.

Baca Juga: PR Berat Kapolres Pamekasan Jelang Hari Bhayangkara: Kasus Gebyar Batik Masih Misteri

Tidak hanya itu, pimpinan sekolah swasta elit ini juga mempekerjakan para guru layaknya seorang pembantu.

Sebagaimana halnya dikutip Pojoksatu.id dari portal media radarbekasi.id pada Rabu (18/6/2025).

Dalam artikelnya, para tenaga pendidik Al Kareem Islamic School itu dikonfirmasi bekerja tidak sesuai job desc.

Baca Juga: Empat Pulau Dikembalikan ke Aceh oleh Presiden, Akademisi UNS Ini Minta Mendagri Tito Dipecat

“Mereka mengaku mengalami perlakuan tidak layak selama bekerja. Mulai dari beban kerja di luar kesepakatan, penahanan ijazah, hingga keterlambatan gaji,” jelasnya.

Diketahui, kasus ini mencuat usai para orang tua murid mengungkapkan keluh kisahnya terkait program tempat anaknya sekolah.

Sebagaimana yang dihimpun, Al Kareem Islamic School merupakan sekolah swasta dengan basis kurikulum internasional.

Baca Juga: New CRF250 Series: Tunggangan Tangguh untuk Petualangan Penuh Sensasi Menjelajah Indonesia

Yang mana, sekolah dengan tingkat TK hingga SD itu diketahui mengampanyekan program basis kurikulum Cambridge.

Namun, basis kurikulum internasional itu ternyata hanya bualan penyelenggara saja lantaran berbeda dengan fakta lapangan.

Hal ini disampaikan langsung oleh Silvia Legina (30) yang mengungkapkan kejanggalan basis kurikulum tempat anaknya sekolah.

Baca Juga: Sambut HUT Bhayangkara 1 Juli 2025, Kasus Begal Polisi Surabaya Jadi PR Tak Terselesaikan

Silvia menuturkan bahwa kurikulum Cambridge yang dikampanyekan pihak sekolah ternyata tidak benar adanya.

“Kami dijanjikan kurikulum Cambridge, tapi yang diterapkan bukan kurikulum, melainkan katanya hanya berbasis Cambridge,” jelasnya.

“Kenyataannya, semua materi pakai Bahasa Indonesia, pelajaran agama juga minim,” lanjutnya dalam laporan artikel.

Baca Juga: THE EMPIRE STRIKES BACK

Tidak lama setelah pernyataan Silvia mencuat, fakta-fakta lain Al Kareem Islamic School juga ikut terungkap.

Salah satunya, adanya dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan pihak sekolah berbasis yayasan tersebut.

Mulai dari program anak didik yang tidak sesuai hingga adanya potongan gaji para tenaga pendidik.

Baca Juga: Terungkap! Korban Pencabulan dan Penganiayaan di Tangsel Ternyata Adik Habib Bahar, Polisi Benarkan Pelaku Telah Ditangkap

Seperti halnya disampaikan Ashraf (33) salah satu orang tua murid lainnya yang mengungkap hal tersebut.

Ashraf menuturkan bahwa anaknya sama sekali tidak mendapatkan fasilitas sesuai dengan ketentuan pihak sekolah.

Di mana, anaknya yang sudah beranjak duduk di bangku SD harus disandingkan dengan para murid TK.

Baca Juga: Remaja di Tangsel Diduga Alami Kekerasan Seksual dari Teman Dekat, Korban Sudah Lapor Polisi

Terlebih, para murid TK Al Kareem Islamic School tersebut merupakan anak pengidap disabilitas.

“Anak saya kelas 1 SD tapi digabung dengan anak TK berkebutuhan khusus. Itu tidak ideal,” jelas Ashraf.

Tidak lama setelah para orang tua murid menyatakan bobroknya sekolah tersebut, guru yang bekerja di Al Kareem Islamic School juga ikut mengungkapkan fakta mengejutkan.

Baca Juga: Bukan Rapat

Di mana, mereka mengaku mendapat perlakuan yang menyedihkan lantaran dipekerjakan layaknya seorang pembantu.

Sebab, sebagian besar para guru tersebut dipekerjakan hanya untuk melayani anak pemilik yayasan Al Kareem Islamic School.

Hal ini disampaikan langsung oleh Raihan Tri Wahyudi, salah satu tenaga pengajar sekolah swasta elit tersebut.

Baca Juga: Bukan Siaran Ulangan, Terbaru 10 Soal Latihan dan Contoh Lengkap Refleksi Modul 3 Topik 2 Pendidikan Inklusif PPG Guru Tertentu 2025

Raihan menuturkan bahwa dirinya sering mendapatkan arahan untuk melayani anak pemilik yayasan hingga bekerja layaknya seorang pembantu.

Dikarenakan, Raihan kerap kali disuruh membeli perlengkapan rumah tangga milik pemilik yayasan yang merangkap jadi Kepala Sekolah (Kepsek) Al Kareem Islamic School.

“Tiap pagi saya harus antar anak beliau sekolah, kadang ke tempat les, bahkan belanja kebutuhan rumah tangga. Itu tidak pernah dijelaskan saat awal perekrutan,” jelasnya.

Baca Juga: Pengumuman Hasil PPPK Tahap 2 Resmi Dimulai, Ini Besaran Gaji Terbaru Tahun 2025

Menyikapi hal ini, pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Bekasi sontak mengambil sikap dengan menyegel sekolah tersebut.

Berdasarkan informasi dihimpun, Al Kareem Islamic School tidak lagi diperbolehkan merekrut para peserta didik baru.  ***