POJOKSATU.ID — Sepekan setelah bencana banjir bandang dan longsor melanda Kabupaten Aceh Tamiang, banyak warga mengaku masih belum menerima bantuan makanan atau logistik dasar.
Meski pemerintah telah memulai upaya distribusi bantuan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa akses ke banyak wilayah masih terhambat, sehingga krisis pangan dan air bersih terus berlangsung.
Menurut laporan dari pejabat daerah, dari 12 kecamatan terdampak hanya dua kecamatan yang sudah bisa dijangkau oleh petugas distribusi bantuan.
Sisanya sebanyak 10 kecamatan tetap terisolasi akibat banjir dan longsor yang merusak akses jalan.
Baca Juga: Demi Sukseskan Sera Mijel, LPM Rela Jemput Bola Minyak Bekas ke Lapak Goreng
Akibat kondisi ini, banyak warga korban banjir menyampaikan bahwa mereka belum mendapatkan bantuan pangan maupun air bersih.
Seorang warga, Irwan, mengaku sudah “3–4 hari belum makan” dan terpaksa bertahan hidup dengan air banjir.
Situasi kemanusiaan makin memprihatinkan selain kekurangan makanan, akses air bersih dan komunikasi juga terputus, membuat penyelamatan dan distribusi bantuan semakin sulit.
Pihak pemerintahan daerah dan pusat mengklaim telah memulai upaya penyaluran bantuan ke Aceh Tamiang.
Baca Juga: Setelah Isolasi, Tukka Diguyur Sembako Darurat, Upaya Pemprov Sumut dan Relawan Capai Warga Terdampak
Menurut pernyataan Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos), jalur darat menuju Aceh Tamiang kini mulai bisa dilalui kembali, sehingga pengiriman logistik berupa makanan siap saji, beras, pakaian, tenda pengungsian, dan kebutuhan dasar lainnya bisa dilakukan.
Selain itu, distribusi logistik juga dilakukan melalui jalur sungai ke desa-desa terisolir dan di beberapa titik terdampak.
Namun demikian, karena kerusakan infrastruktur dan tingginya genangan di banyak lokasi, sebagian besar warga korban masih sulit dijangkau sehingga bantuan belum benar-benar menjangkau seluruh korban.
Dalam laporan media, warga terdampak banjir mengaku bertahan tanpa makanan selama beberapa hari.
Baca Juga: Tiru Kesuksesan Depok, DPRD Siak Perdalam Strategi Penerapan Smart City
Salah satu korban, yang meminta namanya tak disebut, menyebut “Kami belum makan 3–4 hari bantuan belum ada sama sekali.”
Bahkan, sebagian warga terpaksa mengonsumsi air banjir atau makanan tersisa yang ikut terbanjir hanya agar bisa bertahan hidup.
Krisis ini diperparah oleh lunturnya suplai logistik, krisis air bersih, dan terputusnya akses komunikasi menjadikan situasi di banyak titik di Aceh Tamiang sangat darurat.
Warga berharap agar bantuan segera disalurkan secara merata tidak hanya fokus pada wilayah yang sudah bisa dijangkau tapi juga ke kecamatan dan desa yang masih terisolir.
Banyak yang meminta agar pemerintah menggunakan jalur alternatif seperti sungai atau udara untuk memastikan distribusi sampai.
Mereka juga mendesak agar distribusi dilakukan dengan kecepatan dan transparansi, karena mereka sudah berada dalam kondisi krisis pangan dan air bersih.
Baca Juga: Jangan Salah Paham! Bukan RT RW yang Tentukan Penerima Bansos, Data Ini yang Rangkum Penerima!
Kondisi di Aceh Tamiang saat ini menunjukkan betapa gentingnya dampak bencana bukan hanya karena kerusakan fisik, tapi juga krisis kemanusiaan.
Banyak warga korban banjir belum menerima bantuan makanan dan logistik dasar, berhari-hari bertahan tanpa makanan, dan terisolasi oleh kondisi cuaca serta infrastruktur rusak.
Meskipun pemerintah dan lembaga terkait telah memulai distribusi bantuan, banyak wilayah yang belum bisa dijangkau.
Warga berharap agar distribusi dipercepat dan diperluas, serta akses logistik benar-benar menjangkau seluruh kecamatan terdampak.***




