POJOKSATU.id - Kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menjadi perhatian.
Hampir satu bulan setelah insiden yang menimpa ratusan pelajar pada 13 Agustus 2026, salah seorang korban, Febiona Purba (16), masih menjalani pemeriksaan dan perawatan medis.
Febiona merupakan siswi SMK Bersama Berastagi. Setelah mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG, ia sempat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit sebelum mendapat pemeriksaan lanjutan di RSUP H. Adam Malik Medan.
Ibunya, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), mengatakan kondisi Febiona belum sepenuhnya pulih. Saat ini, Febiona masih menggunakan kursi roda dan menjalani rawat jalan.
Baca Juga: Wajib Tahu, Begini Sistem SK Penetapan Tunggal PIP 2026 yang Menggantikan SK Nominasi!
Ia juga dijadwalkan kembali menjalani kontrol medis pada 10 September 2026.
Berawal dari Dugaan Keracunan MBG
Febiona menjadi salah satu pelajar yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG pada 13 Agustus 2026.
Insiden tersebut terjadi di Berastagi dan berdampak pada ratusan siswa dari sejumlah sekolah. Saat kejadian, Febiona mengeluhkan pusing.
Setelah berada di rumah, kondisinya kemudian disertai gatal-gatal dan muntah. Menurut keterangan keluarga, lauk yang disantap Febiona saat itu adalah ikan tongkol.
Kondisinya memburuk hingga harus dibawa ke fasilitas kesehatan. Febiona sempat menjalani perawatan di RSU Kabanjahe selama tiga hari sebelum diperbolehkan pulang.
Baca Juga: MagangHub 2026, Hasil Seleksi Angkatan II Batch 2 Diumumkan 18 September, Ini Cara Ceknya
Namun, masalah kesehatan kembali muncul. Menurut Elvinus, Febiona mengalami kejang ketika sudah berada di rumah.
Keluarga kemudian kembali membawanya untuk mendapatkan penanganan medis.
Dalam beberapa pekan berikutnya, Febiona menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, antara lain RS Efarina, RS Haji Medan, RS Amanda, hingga RSUP H. Adam Malik.
Secara keseluruhan, Febiona telah menjalani pemeriksaan dan perawatan di sekitar lima fasilitas kesehatan.
Keluarga Soroti Perubahan Kemampuan Mengingat
Keluarga kemudian melihat adanya perubahan pada kondisi Febiona, terutama setelah mengalami kejang.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Lagi, 4 Saham Ini Masuk Radar Investor Hari Ini
Elvinus mengatakan Febiona yang sebelumnya dapat berkomunikasi dan mengenali orang-orang di sekitarnya kemudian mengalami kesulitan mengingat orang terdekat, termasuk teman sekolah dan anggota keluarganya.
Perubahan tersebut menjadi kekhawatiran bagi keluarga. Terlebih, sebelum mengalami sakit, Febiona dikenal sebagai siswa berprestasi.
Ia disebut selalu meraih peringkat pertama sejak sekolah dasar hingga SMK dan aktif sebagai pengurus OSIS.
Febiona juga masih memiliki keinginan kuat untuk kembali bersekolah. Namun, kondisi kesehatannya membuat ia belum dapat mengikuti kegiatan belajar seperti sebelumnya.
Keterangan mengenai gangguan ingatan tersebut diberitakan sejumlah media pada 8–9 September 2026.
Baca Juga: Skema Bantuan PIP Resmi Berubah, Kini Nominal Ditetapkan Per Semester!
Meski demikian, hingga kini belum ada diagnosis medis resmi yang menyatakan gangguan ingatan Febiona merupakan akibat langsung dari dugaan keracunan MBG.
Jalani Pemeriksaan di RSUP H. Adam Malik
Di RSUP H. Adam Malik, Febiona menjalani pemeriksaan dari sejumlah bidang medis, termasuk neurologi dan psikiatri. Pemeriksaan EEG juga dilakukan untuk melihat aktivitas listrik otak.
Elvinus mengatakan keluarga masih menunggu penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi anaknya.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, sejumlah hasil pemeriksaan belum menunjukkan kelainan yang jelas.
Kepala Subbagian Tata Usaha KPPG Medan, Erdianta Sitepu, mengatakan pihaknya masih mendampingi Febiona dan keluarganya selama proses pemeriksaan.
Febiona juga telah diperiksa dokter spesialis neurologi anak. Berdasarkan informasi yang disampaikan KPPG, dokter belum memberikan terapi atau obat tambahan tertentu.
Pihak RSUP H. Adam Malik juga membenarkan bahwa Febiona menjalani pemeriksaan di rumah sakit tersebut.
Namun, sampai saat ini belum terdapat diagnosis resmi yang mengaitkan gangguan ingatan tersebut secara langsung dengan dugaan keracunan makanan.
Baca Juga: Aturan PIP 2026 Berubah, Usia 5 Tahun Kini Bisa Dapat Bantuan Dana Pendidikan dari Kemendikdasmen!
KPPG Ikuti Perkembangan Kondisi Febiona
Kepala KPPG Medan Donal Simanjuntak mengatakan pihaknya mengetahui keluhan mengenai gangguan ingatan Febiona dari orang tua ketika korban menjalani perawatan di RS Haji Medan.
Namun, berdasarkan laporan tim pendamping Badan Gizi Nasional (BGN), kondisi Febiona sempat berbeda ketika akan kembali ke Karo.
Saat itu, Febiona disebut masih mampu berkomunikasi dengan baik dan menceritakan pengalaman yang dialaminya.
Perbedaan kondisi tersebut membuat dugaan hubungan antara insiden keracunan dan gangguan neurologis atau ingatan masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Karena itu, keluarga dan pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebab pasti perubahan kondisi Febiona.
Baca Juga: Limbah Ban Jadi Peluang Bisnis, Mahasiswa FEB UI Juara 1 Bioenergy Talent 2026
Investigasi BGN Temukan Masalah Penyimpanan Ikan
Insiden dugaan keracunan massal di Karo sebelumnya mendorong BGN melakukan investigasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan.
Dalam hasil investigasi awal, BGN menemukan dugaan kelalaian dalam penyimpanan bahan baku ikan.
Sekitar 200 hingga 300 ekor ikan disebut tidak dimasukkan ke freezer dan berada pada suhu ruang selama sekitar 12 jam atau lebih sebelum diolah.
Temuan tersebut menjadi salah satu fokus dalam penyelidikan terhadap insiden keamanan pangan yang terjadi di Karo.
Pada saat kejadian, ratusan siswa dari sejumlah sekolah mengalami berbagai keluhan kesehatan dan harus mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
Data KPPG Medan yang diberitakan pada Agustus 2026 menyebut sebanyak 391 siswa sempat dibawa untuk mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: Pemberdayaan Pertamina di Campaka: Dari Maggot Hingga Kain Perca Tingkatkan Ekonomi Warga
BGN Pastikan Biaya Pengobatan Ditanggung
Di tengah proses pemulihan, BGN memastikan biaya pengobatan siswa yang terdampak insiden tersebut tetap ditanggung.
Untuk Febiona, pendampingan masih dilakukan selama ia menjalani pemeriksaan di RSUP H. Adam Malik. Keluarga juga tetap membawa Febiona menjalani kontrol secara berkala.
Perjalanan pengobatan tersebut menjadi beban tersendiri bagi keluarga. Selain mendampingi Febiona, orang tua juga tetap harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat ini, Febiona masih menjalani rawat jalan dan belum dapat kembali mengikuti aktivitas sekolah seperti sebelumnya.
Setelah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit sejak pertengahan Agustus, keluarga berharap pemeriksaan lanjutan dapat menemukan penyebab pasti perubahan kondisi Febiona sehingga penanganan medis yang diberikan dapat lebih tepat.
Kontrol berikutnya di RSUP H. Adam Malik dijadwalkan besok pada 10 September 2026. ***




