POJOKSATU.id — Gelombang pancaran mahasiswa dan rakyat di berbagai daerah belakangan ini kembali menghidupkan suara lantang penyair Wiji Thukul.

Karya-karyanya yang lahir dari keresahan rakyat kecil kini tak hanya dibacakan di ruang inklusif, tetapi juga menggema di jalanan sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Wiji Thukul lahir 26 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, yang mayoritas penduduknya adalah tukang becak dan buruh.

Ia menamatkan SMP (1979), lalu masuk Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Jurusan Tari, tetapi keluar pada tahun 1982.

Baca Juga: Fitur Live TikTok Kembali Dibuka, Apakah Keamanan Pengguna Kini Jadi Prioritas Setelah Demo Mereda?

Ia juga sempat berjualan koran, hingga akhirnya bekerja sebagai tukang pelitur di perusahaan mebel antik. Dari situ pula ia sering mendeklamasikan puisinya di hadapan teman sekerjanya.

Tahun 1988, Thukul sempat menjadi wartawan Masa Kini meski hanya tiga bulan. Sajak-sajaknya banyak dimuat di media, baik nasional maupun internasional, dan lebih sering beredar lewat fotokopi di kalangan pelajar dan aktivis.

Sebagai aktivis sekaligus aktivisme, Wiji Thukul adalah individu yang mampu mengkritisi kondisi sosial politik dan militerisme rezim Orde Baru.

Kata-katanya adalah peluru yang menjadi penggerak bagi mereka yang tertindas. Karena itu pula ia diburu intel pemerintah dan akhirnya hilang sejak tahun 1998. Hingga kini, rimbanya tidak pernah diketahui.

Baca Juga: Joget Malinau

Setiap kali rakyat turun ke jalan, suara Thukul seolah hadir kembali. Sajak-sajaknya ibarat menjadi bahan bakar moral, seruan perlawanan, sekaligus pengingat bahwa perjuangan belum dan tidak akan pernah berkahir.

Berikut lima puisi Wiji Thukul:

1. Peringatan#

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika berbicara tentang masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Sebaliknya subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986

2. Bunga dan Tembok#

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: kamu harus hancur!

di dalam keyakinan kami
di mana pun – tiran harus tumbang!

Solo, 1987-1988

3. Puisi Sikap#

maumu mulutmu bicara terus
tapi tuli telingamu tak mau mendengarnya

maumu aku ini jadi pendengar terus
bisu

kamu memang punya tank
tapi salah besar kamu
kalau karena itu
aku lantas manut

andai benar
ada kehidupan lagi nanti
setelah kehidupan ini
maka aku kuceritakan kepada semua makhluk
bahwa sepanjang umurku dulu
telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku
dan kuhabiskan takdir
untuk menentangmu
hei penguasa zalim

24 Januari 97

4. Apa Yang Berharga Dari Puisiku#

Apa yang berharga dari puisiku
Kalau adikku tidak berangkat sekolah
karena belum membayar SPP
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau becak bapakku tiba-tiba rusak
Jika nasi harus dibeli dengan uang
Jika kami harus makan
Dan jika yang dimakan tidak ada?
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau bapak bertengkar dengan ibu
Ibu menyalahkan bapak
Padahal becak-becak terdesak oleh bis kota
Kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau ibu dijiret utang?
Kalau tetangga dijiret utang?
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau kami terdesak membangun rumah
Di tanah-tanah pinggir selokan
Sementara harga tanah semakin mahal
Kami tak mampu membeli
Salah siapa kalau kami tak mampu membeli tanah?
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau orang sakit mati di rumah
Karena rumah sakit yang mahal?
Apa yang berharga dari puisiku
Yang kutulis makan waktu berbulan-bulan
Apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan
Yang menjiret kami?

Apa yang telah kuberikan
Kalau penonton membaca puisi memberi keplokan
Apa yang telah kuberikan
Apa yang telah kuberikan?

Semarang, 6 maret 86

5. Istirahatlah Kata-kata #

istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu
kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang meringis
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri
tidurlah, kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan
nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan
tak bisa lagi ditahan-tahan ***

Solo Sorogenen, 12 Agustus 1988

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.promedia.pojoksatu

versid iOS: https://apps.apple.com/app/pojok-satu/id6670306141

Saluran Whatsapp: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaizUTRDjiOXHsJCgQ2E

Halaman penggemar edugov: https://www.facebook.com/profile.php?id=61575904868212