POJOKSATU.id - Nama Kasman Singodimedjo tercatat sebagai Jaksa Agung pertama Republik Indonesia.

Ia menjadi salah satu tokoh yang mendapat kepercayaan besar pada masa-masa awal kemerdekaan untuk membangun lembaga penegak hukum di negara yang baru lahir.

Namun, perjalanan hidupnya justru menyisakan kisah yang kontras dengan jabatan tinggi yang pernah diembannya.

Setelah tidak lagi berada di lingkaran kekuasaan, Kasman tidak menikmati masa tua dengan rumah mewah atau harta berlimpah.

Baca Juga: Sejarah Sekolah Rakyat, Dari Alat Politik Kolonial hingga Kembali Dihidupkan Prabowo, Begini Perjalanannya

Ia justru menjalani kehidupan sederhana, bahkan dikisahkan pernah berjualan es lilin, menjadi kuli bangunan, hingga bekerja sebagai penjaga malam demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kisah hidupnya hingga kini terus dikenang sebagai potret seorang pejabat negara yang memilih menjaga kehormatan dibanding memperkaya diri.

Dari Aktivis Pergerakan hingga Pendiri Republik

Jauh sebelum dipercaya menjadi Jaksa Agung, Kasman Singodimedjo telah mengabdikan dirinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Sempat Menuai Sorotan, Pagar Tinggi di Depan Mal Kota Kasablanka Resmi Dibongkar

Ia lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1904. Sejak muda, Kasman aktif di Jong Islamieten Bond (JIB), organisasi kepemudaan Islam yang banyak melahirkan tokoh nasional.

Melalui organisasi itulah jiwa kepemimpinan, nasionalisme, dan integritasnya mulai ditempa.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, Kasman dipercaya menjadi salah seorang komandan Pembela Tanah Air (PETA).

Pengalaman tersebut membuat namanya semakin dikenal sebagai tokoh yang memiliki kemampuan memimpin sekaligus komitmen kuat terhadap perjuangan bangsa.

Baca Juga: Kisah Hasan, Marshal SPBU Pertamina yang Jadi Garda Terdepan Menjaga Kenyamanan Pelanggan

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Kasman menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), lembaga yang bertugas menyusun fondasi ketatanegaraan bagi Republik Indonesia.

Dalam sidang PPKI pada 18 Agustus 1945, ia termasuk tokoh yang ikut membangun kesepahaman di antara para pendiri bangsa.

Kasman mendukung kompromi nasional yang mengubah rumusan sila pertama Piagam Jakarta menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa", sebuah keputusan yang hingga kini dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga persatuan Indonesia.

Dipercaya Menjadi Jaksa Agung Pertama

Baca Juga: Dukung Pembangunan Nasional, Gapensi Apresiasi Komitmen Kebijakan Infrastruktur Presiden Prabowo

Beberapa bulan setelah Indonesia merdeka, pemerintah memberikan amanah besar kepada Kasman Singodimedjo.

Pada 7 November 1945, ia dipercaya menjadi Jaksa Agung pertama Republik Indonesia.

Saat itu kondisi negara masih jauh dari kata stabil. Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaannya dari upaya Belanda untuk kembali berkuasa.

Berbagai lembaga negara baru mulai dibentuk, termasuk Kejaksaan Republik Indonesia.

Di tengah situasi tersebut, Kasman memikul tanggung jawab besar untuk membangun fondasi lembaga kejaksaan sekaligus menjalankan fungsi penegakan hukum di negara yang baru berdiri.

Baca Juga: Ketika Transmigrasi Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru: Harapan dari Kawasan Transmigrasi Arsel–Kolam, Kabupaten Kotawaringin Barat

Bagi Kasman, jabatan bukanlah jalan untuk mencari kekayaan.

Ia memandang setiap amanah sebagai tanggung jawab yang suatu hari harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada Tuhan.

Ketika Jabatan Tinggi Berakhir

Seiring berjalannya waktu, masa pengabdiannya sebagai pejabat negara pun berakhir.

Berbeda dengan bayangan banyak orang, tidak ada rumah megah yang menantinya.

Baca Juga: Peluang Lolos Lebih Besar, Ini 3 Kementerian dan Lembaga Sepi Peminat untuk CPNS 2026

Tidak ada kendaraan mewah ataupun simpanan kekayaan yang dikumpulkan selama menduduki jabatan tinggi negara.

Kasman kembali menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa.

Untuk menghidupi keluarganya, ia tidak pernah merasa malu melakukan pekerjaan apa pun yang halal.

Berbagai biografi dan kesaksian para sahabat seperjuangannya menyebut Kasman pernah berkeliling menjual es lilin.

Di kesempatan lain, ia bekerja sebagai kuli bangunan dengan memanggul semen dan batu. Bahkan, ia juga pernah menjadi penjaga malam demi memperoleh penghasilan.

Baca Juga: Lonjakan Hakim Nakal Naik 100 Persen, Komisi Yudisial Mencatat Paling Banyak Kasus Manipulasi Persidanngan

Pemandangan itu menghadirkan ironi yang begitu kuat.

Tangan yang dahulu menandatangani berbagai dokumen penting negara kini digunakan untuk mengangkat material bangunan dan mencari nafkah dengan berjualan di tengah masyarakat.

Jawaban yang Membuat Banyak Orang Terdiam

Suatu hari, seorang sahabat seperjuangannya bertemu dengan Kasman yang sedang bekerja keras mencari nafkah.

Sang sahabat tak kuasa menahan rasa haru melihat mantan Jaksa Agung Republik Indonesia harus memanggul beban berat di pasar.

Baca Juga: Mahal Murah

Dengan suara bergetar, ia mempertanyakan mengapa hidup Kasman harus berakhir dalam kesederhanaan seperti itu.

Namun jawaban Kasman justru membuat siapa pun yang mendengarnya terdiam.

Dengan senyum yang tenang, ia mengatakan bahwa dirinya jauh lebih bahagia hidup dalam kekurangan daripada harus menikmati hasil mengambil hak rakyat.

Baginya, kemiskinan yang diperoleh dengan cara jujur jauh lebih terhormat dibandingkan kemewahan yang berasal dari penyalahgunaan amanah.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan, melainkan prinsip hidup yang benar-benar dijalankannya hingga akhir hayat.

Baca Juga: Deretan Peringatan Penting Bulan Agustus 2026: Dari Hari Pramuka Hingga Kemerdekaan RI

Warisan Seorang Jaksa Agung Pertama

Hingga menutup usia, Kasman Singodimedjo tidak dikenal meninggalkan kekayaan yang melimpah.

Ia juga tidak memiliki rumah-rumah mewah ataupun usaha besar yang berasal dari jabatan yang pernah diembannya.

Warisan terbesar yang ditinggalkannya justru berupa keteladanan.

Sebagai Jaksa Agung pertama Republik Indonesia, Kasman menunjukkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan sarana memperkaya diri.

Baca Juga: Menyambut Bulan Kemerdekaan, Inilah Rincian Tanggal Merah dan Hari Besar di Bulan Agustus 2026

Integritas, kejujuran, dan pengabdian kepada negara menjadi nilai yang terus dipegangnya, bahkan ketika ia tidak lagi memiliki kekuasaan.

Di tengah masih sering munculnya kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik, kisah hidup Kasman Singodimedjo menjadi pengingat bahwa Indonesia pernah memiliki seorang Jaksa Agung yang memilih hidup sederhana daripada mengkhianati amanah.

Ia mungkin tidak mewariskan harta berlimpah, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni teladan bahwa kehormatan seorang pejabat diukur bukan dari kekayaannya, melainkan dari kejujuran yang tetap dijaga hingga akhir hayat.***