POJOKSATU.id - Di balik bencana selalu saja ada sosok pahlawan. Tak terkecuali saat banjir bandang menerjang di Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Meski nyawa adalah taruhannya, menyelamatkan nyawa orang lain adalah yang utama.
Kendati demikian, mereka tak pernah mau menanggap dirinya dan dianggap sebagai pahlawan oleh orang lain.
Baca Juga: Bencana di Sumatra, Menkes Laporkan ke Prabowo, 600 Nakes Siap Dikirim ke Aceh, Sumut, dan Sumbar
Salah satunya adalah Aipda Jhon Kennedy Habiahan, Bhabinkamtibmas Polsek Batang Toru.
Selasa 25 November 2025, Jhon sama sekali tak menyangka hari itu akan menjadi hari yang mencekam dan genting.
Namun semua berubah saat dirinya menerima tanda bahaya.
Aksi heroik Jhon dimulai dari wilayah Mabang Pasir, Desa Muara Hutaraja.
Saat itu sebagian orang masih berharap air segera surut, tapi Jhon justru melihat panggilan tugas yang tak bisa diabaikan.
Bersama Babinsa setempat, Jhon turun langsung turun membantu warga melakukan evakuasi awal.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Air memang sempat surut di hari yang sama, namun instingnya berkata lain.
Jhon memilih menyusuri hilir Sungai Batang Toru, ke Muara Manompas, hingga ke Muara Hutaraja dan Muara Ampolu.
Benar saja, wilayah itulah yang justru menghadapi ancaman lebih besar.
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan yang menguji fisik dan nyali anggota Polri tersebut.
Di Muara Hutaraja, air ternyata kembali naik. Rumah-rumah mulai tergenang.
Jhon pun langsung meminta warga untuk secepatnya mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Tak hanya menyampaikan peringatan, ia ikut membantu mengangkat harta benda warga yang sudah panik.
Namun satu hal selalu ia tekankan, keselamatan dan nyawa harus diselamatkan lebih dulu.
Baca Juga: Sumatera Sudah Porak Poranda, AHY Baru Janjikan Alat Berat Usai Tanggap Darurat
"Yang terutama itu manusianya kita selamatkan, kita ungsikan cari tempat lebih aman, lebih tinggi," ucapnya kepada Gerakan Anak Negeri, Selasa 16 Desember 2025.
Ujian kembali terjadi di Kelurahan Muara Ampolu, Lingkungan III.
Pada Rabu, 26 November 2025, air telah mencapai lebih dari dua meter, bahkan hampir menyentuh atap rumah.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Evakuasi darat pun sudah mustahil dilakukan.
Saat itu Jhon mengambil keputusan berisiko, yakni menggunakan perahu milik warga.
Dengan arus sungai yang deras dan puing-puing rumah yang roboh menghambat jalan, satu kesalahan kecil bisa berujung maut.
Tapi Jhon tak mundur. Ia memilih tetap maju.
"Kita pakai cara (apapun) bagaimana masyarakat bisa dievakuasi," tegas dia.
Ratusan warga berhasil dievakuasi, bahkan jumlahnya diperkirakan mencapai 200 orang.
Baca Juga: Mualem Terima Banyak Bantuan Asing di Tengah Krisis, Ini Daftar Negara yang Membantu Aceh
Mulai dari lansia, penyandang disabilitas, hingga warga yang sudah lanjut usia menjadi prioritas utama.
"Kalau terjadi apa-apa, yang disalahkan pasti saya. Karena inisiatif itu saya yang ambil," ujar Jhon kepada Gerakan Anak Negeri, Selasa 15 Desember 2025.
Selama proses evakuasi, warga terpaksa bertahan di atas atap rumah selama dua hari dua malam sebelum diselamatkan.
Jhon sendiri sempat mengalami dislokasi lengan karena menahan tali perahu dengan tenaga penuh.
Sebab ia tahu, jika tali itu terlepas, nyawa yang ia bawa bisa hanyut dalam sekejap.
"Karena kita bertahan sama tali. Silap sedikit, lepas tali, itu (warga) yang kita bawa, pasti mati tenggelam (terseret arus yang deras)," terang dia.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Di lokasi itu, Jhon bekerja dengan dibantu warga.
Akses menuju Muara Ampolu telah terputus total. Arus sungai terlalu besar untuk dilalui tim tambahan.
Bahkan beberapa warga mengalami luka di kaki akibat puing bangunan saat membantu evakuasi.
Kini, setelah air surut, sebagian warga telah kembali ke rumah masing-masing dan membersihkan sisa lumpur.
Namun sejumlah keluarga masih bertahan di pengungsian, menunggu kondisi benar-benar aman.
Bagi Jhon Kennedy Habiahan, tugasnya belum selesai. Masih banyak tugas yang harus ia tunaikan.
Baca Juga: Heboh! Aceh Cari Pertolongan Internasional, Tito Karnavian Belum Ambil Sikap
Dia juga enggan menyebut dan disebut sebagai pahlawan.
Namun di mata ratusan warga yang selamat dari amukan Sungai Batang Toru, keberaniannya telah menjadi alasan mereka bisa kembali memeluk keluarga hari ini.
Di tengah bencana, Jhon membuktikan bahwa keberanian bukan soal pangkat.
Melainkan soal memilih tetap bertahan demi masyarakat ketika semua jalan tertutup air.***




