POJOKSATU.id, Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan tanggapannya mengenai kontroversi ceramah Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf yang menjadi sorotan masyarakat lantaran ucapannya dianggap merendahkan perempuan.
Perbincangan ini bermula ketika potongan video ceramah Habib Alwi tersebar luas di sejumlah media sosial.
Menanggapi persoalan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam untuk tidak mengundang kembali maupun menghadiri majelis yang menghadirkan penceramah itu.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menekankan bahwa aktivitas dakwah bukan sekadar menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat.
Seorang dai juga dituntut menunjukkan perilaku dan ucapan yang dapat menjadi contoh bagi umat.
Thobib menjelaskan, Rasulullah SAW merupakan panutan utama bagi setiap muslim dalam menjalankan dakwah yang mengedepankan akhlak mulia.
"Dalam Islam, selain berfungsi menyampaikan pesan keagamaan, dakwah juga memberikan keteladanan melalui tutur kata dan perilaku. Rasulullah SAW adalah rujukan agung bagaimana dakwah Islam dijalankan," ujar Thobib.
Ia mengingatkan para pendakwah agar selalu mempertimbangkan kepantasan materi yang disampaikan, khususnya ketika memberikan ceramah di hadapan khalayak umum.
Menurutnya, penyampaian humor dalam kegiatan dakwah juga perlu memperhatikan batasan etika.
Materi candaan tidak seharusnya mengandung unsur yang merendahkan harga diri atau menyinggung perasaan seseorang.
"Karena itu, setiap penceramah atau dai yang berbicara di ruang publik hendaknya senantiasa menjaga etika dalam menyampaikan materi ceramah, termasuk dalam menggunakan humor agar tidak merendahkan atau melukai martabat orang lain," tuturnya.
Kemenag Hargai Imbauan MUI terkait Habib Alwi
Menanggapi imbauan MUI agar masyarakat tidak lagi mengundang Habib Alwi untuk berceramah, Kemenag menyatakan menghormati pandangan dan peran MUI dalam memberikan bimbingan kepada umat Islam.
Thobib menyebutkan bahwa Kemenag terus memperhatikan berbagai pendapat serta reaksi masyarakat yang muncul seiring berkembangnya persoalan tersebut.
Ia berharap kegiatan dakwah dan pertemuan keagamaan dapat terus berlangsung sebagai ruang pembelajaran yang membawa kesejukan, membangun karakter, serta menanamkan penghargaan terhadap sesama.
"Terkait polemik yang berkembang, Kemenag mencermati aspirasi dan respons masyarakat. Kami pun menghormati peran MUI sebagai mitra pemerintah dalam membimbing umat. Harapannya, ruang dakwah dan majelis keagamaan tetap menjadi ruang yang menyejukkan, mendidik, serta memperkuat penghormatan terhadap sesama," jelasnya.
Cholil Nafis Kritik Materi Ceramah Habib Alwi
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis juga menyuarakan keberatan terhadap isi ceramah Habib Alwi yang ramai diperbincangkan di ruang publik.
Cholil berpandangan bahwa materi yang disampaikan tersebut tidak sejalan dengan sikap santun dan keteladanan yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang pendakwah.
Ia menilai ceramah yang tidak mengindahkan etika dapat berdampak buruk terhadap citra ajaran Islam.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun X pribadinya, @cholilnafis, Cholil meminta masyarakat untuk tidak kembali mengundang ataupun mengikuti pengajian yang menghadirkan penceramah tersebut.
"Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya," tegas Cholil Nafis.
Tokoh yang menjabat Rais Syuriah PBNU itu turut menegaskan bahwa gelar, kedudukan, ataupun latar belakang seorang penceramah tidak membenarkan penyampaian materi yang bertentangan dengan nilai kesopanan.
"Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam," kata Cholil.
Video Ceramah Beredar dan Tuai Kecaman
Sorotan terhadap Habib Alwi muncul setelah sebuah video yang memperlihatkan dirinya menyampaikan ceramah beredar di berbagai platform media sosial.
Dalam rekaman itu, sosok yang dikenali warganet sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf terlihat membicarakan besaran honor yang diterimanya untuk berceramah.
Ia menyebut tarif paling rendah yang diklaimnya mencapai Rp75 juta.
Situasi kemudian menjadi kontroversial ketika pembicaraan beralih pada candaan yang menyinggung santri perempuan.
Di hadapan para jemaah, ia bahkan mengutarakan keinginannya untuk mencari perempuan yang bersedia menjadi istri keempat.
"Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih. Mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat," ucapnya dalam video tersebut.
Tidak hanya itu, Habib Alwi juga melontarkan komentar mengenai jemaah perempuan berusia lebih dari 60 tahun yang menghadiri majelisnya.
Perkataan tersebut menuai kecaman karena dipandang merendahkan perempuan dengan menitikberatkan pada usia dan penampilan fisik.
"Nggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda," katanya.
Cuplikan ceramah tersebut kemudian memunculkan beragam reaksi negatif dari warganet dan masyarakat.
Persoalan ini turut mendorong MUI mengeluarkan imbauan agar masyarakat tidak lagi memberikan undangan ceramah kepada Habib Alwi.
Melalui tanggapannya, Kemenag menegaskan kembali pentingnya menjadikan dakwah sebagai sarana menyebarkan ajaran agama dengan cara yang baik dan mendidik.
Sikap santun, pemilihan kata yang tepat, serta penghormatan terhadap martabat manusia menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai dakwah Islam.***





