POJOKSATU.id, ACEH—Kapolda Aceh Irjen Marzuki Alibasyah menceritakan detik-detik mencekam saat memasuki Aceh Tamiang setelah banjir bandang menerjang daerah itu Kamis (27/11) lalu.
Aceh Tamiang seperti kota mati saat dimasuki 1 Desember 2025 lalu siang, banyak orang berdiri di depan rumah tanpa makanan dan minuman.
Di awal bencana, pemerintahan lumpuh, jaringan komunikasi putus total, masyarakat terisolasi hingga tujuh hari tanpa makanan.
Baca Juga: Kapolres Aceh Tamiang Turun Langsung Cek Mobil Terendam, Isu Mayat dalam Mobil Dibantah
“Sedih saya waktu itu. Tidak ada kekuatan yang bisa saya gerakkan karena anggota saya sendiri tidak ada. Semua terpecah, rumah tenggelam, kantor tenggelam,” ujarnya dalam wawancara eksklusif Saksi Kata bersama Serambi Indonesia diunggah Selasa (9/12/2025).
Kapolda bercerita, awal bencana terjadi saat ia sedang rapat di Jakarta bersama para Kapolres.
Dalam perjalanan pulang mengikuti Menko Polhukam Djamari Chaniago, ia melihat Aceh gelap gulita dari udara.
“Kapan hujannya? Sejak Senin Pak. Itu laporan pertama saya dapat. Rabu malam air mulai naik di banyak daerah,” katanya.
Hingga Kamis (27/11) malam, empat daerah sama sekali tidak memberikan kabar: Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang.
Internet terputus, laporan dari 18 kabupaten/kota di Aceh juga tersendat.
“Di situ saya stres. Tidak ada komunikasi. Tidak tahu kondisi pemerintahan,” jelasnya.
Kapolda memerintahkan seluruh Kapolres di Jakarta untuk pulang dengan cara apa pun. Namun banyak yang terjebak karena jalan dari Medan juga terputus.
Ia sendiri bergerak dari Banda Aceh, melewati jembatan putus di Kutablang, memobilisasi perahu, starlink, dan 850 personel.
Baca Juga: KDM Sewa Susi Air ke Aceh Tamiang, Bawa Bantuan Rp 7 Miliar dan Temukan Saudaranya
Saat tiba di Langsa, ternyata jalur ke Aceh Tamiang masih sedada.
“Saya bilang: jangan tunggu. Tembus. Kalau tidak, kita tidak tahu berapa banyak korban.”
Ia hanya membawa 12 anggota dan 800 kilogram beras, karena kendaraan lain tertahan banjir.
Saat memasuki Manyak Payed hingga pusat Aceh Tamiang 1 Desember 2025, Kapolda menyebut suasana sangat mirip kondisi Aceh pasca tsunami 2004.
“Orang berdiri di depan rumah. Tidak ada makanan. Tidak ada minuman. Kota mati,” jelasnya.
Baca Juga: RSUD Aceh Tamiang Rusak Parah, Dokter Ilham Menangis, Bingung Masyarakat Mau Berobat Kemana Lagi
Mobil-mobil terparkir rapi di jalan raya dan SPBU, yang ternyata tempat paling tinggi di sekitar lokasi.
“Semua mobil itu tenggelam. Tapi mereka taruh di jalan karena mengira lebih aman,” ujarnya.
Kapolda juga menceritakan saat pertama kali bertemu Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi, Kapolda mengaku terenyuh.
“Pak, saya sudah 4 hari tidak mandi. Baju saya ini saja," tambahnya.
Kapolda hanya menjawab “Yang penting selamat. Saya datang untuk minta bantuan sebanyak-banyaknya untuk recovery,” jelasnya.
Mayat Rumah Sakit Hanyut
Dalam wawancara di Serambi Indonesia, Kapolda juga mengklarifikasi isu tentang mayat dalam mobil yang viral.
Kapolda membenarkan mayat itu memang ada. Pertama, mayat warga korban musibah. Kedua, mayat yang terbawa dari rumah sakit dalam hal ini RSUD Aceh Tamiang.
“Rumah sakit lantai satunya tenggelam, pasien hilang semua. Dokter pun sibuk menyelamatkan keluarganya,” ujarnya.
Ia mengatakan, mayat yang ditemukan di berbagai titik sebagian sudah dimakamkan dan sebagian diambil sampel DNA untuk identifikasi.
“Di mana mau kebumikan? Air masih di mana-mana. Siapa mau kebumikan? Pemerintahannya lumpuh," ungkapnya.
Kapolda menyebut, hingga wawancara berlangsung, 85 anggota Polres Aceh Tamiang masih belum melaporkan diri.
“Kami tidak tahu hilang atau meninggal bagaimana. Semoga mereka selamat di pedalaman," katanya.***




