POJOKSATU.ID - Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 menyimpan berbagai fakta menarik jika ditelisik dari sudut pandang data dan angka.
Tepat pada pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, Soekarno membacakan teks proklamasi yang menandai lahirnya negara baru.
Pembacaan teks singkat yang hanya terdiri dari dua alinea tersebut berlangsung sangat ringkas dalam durasi waktu kurang dari sepuluh menit.
Naskah proklamasi yang dibacakan tersebut dirumuskan terlebih dahulu di rumah Laksamana Maeda selama kurang lebih lima jam sejak dini hari.
Baca Juga: Tren Belanja Diskon Kemerdekaan: Dari Atribut Patriotik hingga Produk Kuliner Paling Diburu Konsumen
Sayuti Melik mengetik naskah otentik tersebut dengan melakukan tiga perubahan kata serta satu perubahan pada penulisan tanggal.
Teks asli tulisan tangan Soekarno sempat dibuang ke tempat sampah sebelum akhirnya diselamatkan oleh tokoh pemuda B.M. Diah.
Di balik peristiwa bersejarah tersebut, terdapat dukungan finansial dan material yang sangat berharga dari warga serta tokoh nasional.
Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, mencatatkan kontribusi besar dengan menyumbangkan dana sebesar enam juta Gulden untuk menyokong operasional pemerintahan yang baru berdiri.
Baca Juga: Menjelang Harbolnas 8.8: Pemanasan Pesta Belanja Digital Menyambut Kemerdekaan
Sumbangan dalam nominal fantastis pada masa itu dialokasikan untuk membiayai roda pemerintahan serta gaji para pegawai negeri pertama.
Selain itu, bendera pusaka Merah Putih yang dikibarkan dijahit secara manual oleh Fatmawati menggunakan dua lembar kain berwarna merah dan putih.
Bendera dengan ukuran panjang dua ratus centimeter dan lebar tiga ratus centimeter tersebut berkibar pertama kali diiringi lagu Indonesia Raya.
Lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolf Supratman tersebut dinyanyikan secara spontan oleh para hadirin tanpa iringan musik instrumen.
Masyarakat yang hadir menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut diperkirakan berjumlah sekitar lima ratus orang dari berbagai kalangan.
Tokoh pemuda dan barisan pelopor bertindak cepat mengamankan lokasi perumahan Soekarno demi mengantisipasi intervensi dari pihak militer Jepang.
Upacara pengibaran bendera tersebut diselesaikan tepat sebelum barisan tentara Jepang tiba di lokasi untuk melakukan pembubaran.
Seluruh rangkaian detail angka dan data kuantitatif ini mempertegas betapa terrencananya perjuangan para pendiri bangsa dalam mengeksekusi kemerdekaan.
Dokumen-dokumen bersejarah ini kini tersimpan rapi di Arsip Nasional Republik Indonesia sebagai bukti otentik lahirnya sebuah bangsa besar.***




