POJOKSATU.id — Video warga Tapanuli yang terpaksa menyeberangi sungai deras hanya dengan berpegangan pada kabel listrik usai jembatan nasional ambruk mendadak viral dan memicu keprihatinan publik.
Peristiwa ini terjadi setelah banjir dan longsor menerjang Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, hingga memutus total jalur penghubung antardesa.
Hujan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari menyebabkan debit air sungai naik dan memicu longsor di sejumlah titik.
Dampaknya fatal jembatan nasional yang menjadi akses utama warga roboh dan hanyut diterjang banjir. Akses desa langsung terputus, menyisakan ribuan warga terisolasi tanpa jalur alternatif.
Namun yang paling menyedot perhatian publik adalah sebuah video yang dibagikan warga Tapanuli Tengah.
Rekaman itu menampilkan situasi ekstrem bahkan mengancam nyawa yang terpaksa dilalui masyarakat.
Baca Juga: Puluhan Alat Berat Ilegal Ditemukan di Babel, Satgas PKH Ungkap Ada yang Dikubur 6 Meter
Dalam video tersebut, terlihat warga merangkak perlahan di atas kabel listrik yang tersisa dari jembatan yang runtuh.
Kabel itu melintang di atas sungai dengan arus deras yang siap menyeret siapa pun yang terpeleset sedikit saja.
Tidak ada pelindung, tidak ada tali pengaman, hanya seutas kabel yang tidak dirancang untuk menopang tubuh manusia.
Tapi karena jembatan hilang dalam semalam, kabel itulah satu-satunya harapan bagi warga untuk tetap bisa menyeberang.
Baca Juga: Update Info GTK SKTP Guru Tunggal Dirilis, Peluang Cairnya TPG TW 3 dan 4 Makin Terbuka
Beberapa warga tampak menggantungkan tubuh sambil merayap pelan, satu tangan menggenggam kabel, satu kaki berusaha menemukan pijakan di bebatuan pinggir sungai.
Arus air yang tinggi membuat langkah mereka semakin berisiko. Sementara itu warga lain hanya bisa menunggu di tepi, berharap yang menyeberang selamat sampai seberang.
Kondisi ini bukan berlangsung sehari dua hari. Sejak jembatan ambruk, warga tidak punya pilihan lain
Selain mengambil risiko besar demi memenuhi kebutuhan harian mulai dari belanja bahan pokok, bekerja, hingga mengantar anak sekolah.
Warga berharap pemerintah tidak menunggu sampai jatuh korban.
Mereka meminta langkah cepat berupa pembangunan jembatan darurat atau alat penyeberangan aman agar aktivitas masyarakat tidak terus terancam.
Tanpa itu, setiap upaya menyeberang sungai adalah taruhan nyawa.
Situasi ini sekaligus menjadi alarm keras soal rapuhnya infrastruktur di wilayah rawan bencana.
Musibah banjir dan longsor mungkin tidak dapat dihindari, tetapi jatuhnya warga ke dalam situasi ekstrem hingga harus menggantungkan hidup pada kabel listrik seharusnya tidak terjadi jika infrastruktur lebih siap menghadapi bencana.
Sementara warga terus berjibaku, publik ramai-ramai mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk segera turun tangan.
Kebutuhan warga bukan hanya soal jembatan, tetapi juga distribusi logistik yang terhambat karena akses total terputus.***




