POJOKSATU.id, MAKASSAR – Jasad pilot pesawat ATR 42-500 Andy Dahananto serta kopilot Farhan Gunawan belum teridentifikasi petugas Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Dari 10 penumpang dan kru pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulsel, Sabtu (17/1) lalu, baru 3 orang yang teridentifikasi.
Ketiga korban pesawat milik IAT (Indonesia Air Transport) yang teridentifikasi itu antara lain dua pramugari Esther Aprilita Sianipar dan Florencia Lolita Wibisono, serta penumpang Deden Maulana.
Personel SAR yang melaksanakan operasi selama tujuh hari telah menyerahkan 11 kantong jenazah kepada tim DVI Polri.
Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan, DVI menerima total 11 kantong jenazah atau body bag secara bertahap.
Jumlah ini berbeda dengan manifes pesawat ATR 45-500 sebanyak 10 kru dan penumpang yang menjadi korban kecelakaan udara.
"Memang dari 11 yang kita terima, ada 1 body bag (kantong jenazah) yang hanya berisi potongan tulang. Ini kenapa menjadi 11, sementara kita mengetahui manifes sebanyak 10 orang," kata Djuhandhani saat konferensi pers di Posko DVI Polda Sulsel, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga: Jenazah Pramugari Pesawat ATR 42-500 Esther Aprilita Ditemukan Masih Utuh, Sidik Jari Terbaca
"Kita berharap 11 body bag yang dikirim ini sesuai dengan daftar manifes dari penumpang yang ada. Namun ini juga masih kita buka, kita teliti lebih lanjut, kita periksa secara saintifik," jelasnya lagi.
Irjen Djuhandhani menjelaskan, 3 jenazah telah teridentifikasi berdasarkan pemeriksaan sidik jari, pramugari Florencia Lolita Wibisono (33), pegawai KKP Deden Maulana (43) dan pramugari Esther Aprilita Sianipar (26).
"Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengidentifikasi ketujuh yang sudah dikirim kepada kami,” jelasnya.
“Dan secepatnya begitu sudah ada gambaran dan sudah bisa dibuktikan identifikasi akan kita sampaikan lebih lanjut," ujarnya lagi.***




