POJOKSATU.ID - Langkah besar tengah disiapkan pemerintah.
Indonesia akan menginvestasikan ratusan triliun rupiah untuk membangun 30 kapal selam tanpa awak (unmanned submarines) yang akan beroperasi di seluruh wilayah perairan Nusantara.
Bagi sebagian orang, proyek ini terdengar seperti pengeluaran besar di tengah banyak kebutuhan lain.
Baca Juga: Universitas Muhammadiyah Makassar Pertahankan Sertifikat ISO 21001:2018 Tanpa Temuan
Namun bagi pemerintah, langkah ini adalah investasi strategis untuk melindungi kekayaan laut dan ekonomi nasional.
Anggaran Besar, Risiko Lebih Besar Jika Laut Tak Dijaga
Indonesia adalah negara kepulauan dengan luas laut lebih dari 5,8 juta kilometer persegi.
Setiap tahun, potensi ekonomi maritimnya mencapai lebih dari Rp4.000 triliun, mulai dari perikanan, migas, hingga perdagangan laut.
Baca Juga: Kenali Lingkungan Sekitar, Ini Review Materi Pelajaran Pendidikan Pancasila BAB 1 Kelas 4
Sayangnya, potensi itu sering bocor akibat illegal fishing, penyelundupan, dan pelanggaran wilayah oleh kapal asing.
Menurut catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat pencurian ikan mencapai Rp100 triliun per tahun.
Belum termasuk kerugian dari penyelundupan hasil tambang dan migas lewat jalur laut yang tidak terpantau.
Anggaran Kapal Selam: Bukan Beban, tapi Aset
Pembangunan 30 kapal selam tanpa awak bukan proyek instan.
Baca Juga: Indonesia Masuk Era Pertahanan Digital Kapal Selam Tanpa Awak Siap Jaga Lautan Nusantara
Rencana ini masuk dalam Rencana Strategis Pertahanan Nasional 2025–2030, dengan pendanaan bertahap selama lima tahun.
Sebagian besar dana akan diserap oleh PT PAL Indonesia, yang memimpin proyek bersama BUMN strategis seperti PT LEN, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Dahana.
Artinya, uang negara tidak lari ke luar negeri tapi berputar di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja dan memperkuat industri nasional.
Efek Ganda ke Industri Dalam Negeri
Proyek kapal selam tanpa awak ini diharapkan mendorong kemandirian industri pertahanan nasional.
Lebih dari 60% komponennya akan diproduksi di Indonesia mulai dari bodi, sistem kontrol, hingga perangkat lunak navigasi.
Selain itu, pemerintah membuka peluang bagi perusahaan startup dan lembaga riset universitas untuk ikut mengembangkan teknologi sensor dan kecerdasan buatan (AI).
Langkah ini tidak hanya memperkuat sektor militer, tapi juga menumbuhkan ekosistem inovasi teknologi dalam negeri.
Menjaga Jalur Ekonomi dan Energi Nasional
Selain fungsi pertahanan, 30 kapal selam tanpa awak ini juga berperan penting dalam menjaga jalur logistik dan energi nasional.
Baca Juga: SKTP Guru PPPK Belum Aktif? Ini Alasan dan Jadwal Terbaru Penerbitan Surat Tunjangan Profesi!
Indonesia adalah penghubung strategis antara Samudra Hindia dan Pasifik dua rute perdagangan tersibuk di dunia.
Sekitar 40% kapal dagang global melintasi perairan Indonesia setiap tahunnya.
Kapal selam tanpa awak ini akan ditempatkan di jalur utama seperti:
1. Selat Malaka, jalur vital ekspor-impor Asia Tenggara
Baca Juga: Universitas Muhammadiyah Makassar Pertahankan Sertifikat ISO 21001:2018 Tanpa Temuan
2. Laut Natuna Utara, kawasan kaya gas bumi
3. Laut Banda dan Arafura, wilayah perikanan terbesar
Dengan sistem patroli bawah laut, Indonesia bisa mendeteksi kapal asing ilegal, aktivitas eksplorasi tanpa izin, dan potensi ancaman keamanan energi.
Dari Pertahanan ke Pertumbuhan
Pemerintah menargetkan proyek ini menciptakan efek ekonomi berganda hingga Rp300 triliun dalam jangka menengah.
Selain sektor pertahanan, dampaknya juga dirasakan oleh industri baja, komponen elektronik, dan sektor pendidikan teknik.
Baca Juga: Benarkah Bantuan Sosial Dapat Mengurangi Kemiskinan Ekstrem? Apa Buktinya?
Bahkan, dengan kemampuan membangun sistem kapal selam otonom sendiri, Indonesia berpeluang menjadi eksportir teknologi militer maritim di Asia Tenggara.
Beberapa negara seperti Malaysia dan Filipina dikabarkan tertarik menjajaki kerja sama teknologi serupa.
Uang yang Bukan Sekadar Dihabiskan
Membangun 30 kapal selam tanpa awak memang memakan biaya besar.
Tapi bagi Indonesia, itu bukan pengeluaran itu asuransi masa depan.
Baca Juga: 5 Hotel di Bogor Buat Rayain Tahun Baru Tanpa Harus Terjebak Macet ke Puncak
Setiap unit yang berpatroli di lautan berarti melindungi triliunan rupiah kekayaan alam dari pencurian dan pelanggaran.
Karena di negeri kepulauan seperti Indonesia, setiap gelombang laut membawa dua hal ancaman, dan kesempatan.
Dan kali ini, pemerintah memilih untuk menyiapkan kapal bukan untuk berperang, tapi untuk memastikan laut tetap milik bangsa sendiri.***




